RIMANEWS - Barat melancarkan berbagai konspirasi terhadap Iran pasca kemenangan Revolusi Islam tahun 1979. Permusuhan Barat selama lebih dari tiga dekade terhadap bangsa Iran karena bangsa Muslim itu tidak tunduk terhadap dikte mereka. Negara-negara Barat yang mengklaim sebagai pembela hak asasi manusia melakukan berbagai cara untuk menjegal kemajuan Iran di berbagai bidang. Salah satu kejahatan yang mereka lakukan adalah dua tragedi besar tanggal 27 dan 28 Juni silam.
Pada 27 Juni 1981, organisasi teroris MKO yang didukung negara-negara Barat melancarkan salah satu aksi teror terbesar di Iran. Kemudian, rezim diktator Saddam Irak membombardir Sardasht dengan senjata kimia pada 28 Juni, enam tahun kemudian. Kota Sardasht di provinsi Azarbeijan Barat, barat laut Iran, menjadi sasaran serangan bom kimia yang dilancarkan rezim Baath Irak pimpinan Saddam Husein pada tahun 1987. Serangan bom kimia tersebut menggugurkan 120 warga, dan menciderai enam ribu lainnya, bahkan menyebabkan cacat permanen.
Rezim Baath berulangkali menggunakan senjata kimia, hingga memicu reaksi protes Dewan Keamanan PBB. Dalam perang yang dipaksakan rezim Saddam terhadap Iran, 70 ribu orang warga Iran gugur dan cidera. Korban cacat akibat senjata kimia ini terus merasakan penderitaan hingga akhirnya satu persatu meninggal dunia.
Tragedi 28 Juni merupakan serangan senjata kimia terbesar yang dilakukan militer rezim Baath terhadap warga sipil Iran. Ketika itu, jet-jet tempur Irak membombardir sejumlah kota di barat laut Iran dengan senjata kimia. Tidak cukup hanya itu, enam bulan kemudian, rezim Baath membantai kota Kurdi di wilayah Halabche, utara Irak pada 16 Maret 1988. Dalam serangan brutal itu, lima ribu laki-laki, perempuan dan anak-anak Irak menjadi korban tragedi ini. Dengan kejahatan ini, nama Saddam Hussein berada disamping pemerintah Amerika sebagai penjahat perang yang menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri dan negara lain.
Mujahidin Halq Organization (MKO) adalah jaringan teroris internasional dukungan Barat yang melakukan berbagai aksi kejahatan terhadap rakyat dan pejabat Iran.
MKO menarget tokoh-tokoh Revolusi Islam Iran, termasuk Ayatullah Sayyid Ali Khamenei, yang waktu itu menjadi wakil Imam Khomeini di Dewan Tinggi Pertahanan, sekaligus Imam Jumat Tehran. Beliau dalam berbagai pidatonya senantiasa menjelaskan substansi kelompok MKO dan tujuan buruk mereka. Akhirnya, MKO meneror beliau pada 6 Tir 1360 Hs, ketika menyampaikan pidato di sebuah masjid. Sebuah bom yang diletakkan di dalam sebuah tape recorder meledak, dan beliau terluka parah mulai dari pundak, leher dan tangan. Kemudian orang-orang yang hadir dengan sigap membawa beliau ke rumah sakit.
Orang-orang beranggapan beliau pasti meninggal dunia, namun ternyata Allah swt masih menghendaki lain, dan beliau ternyata masih hidup. Sebuah pertolongan Allah untuk menyampaikan khazanah-Nya kepada umat Islam setelah Imam Khomeini ra untuk membimbing mereka. Kedengkian kelompok teroris MKO tidak berhenti begitu saja, karena keesokan harinya mereka meledakkan kantor pusat Partai Jomhouri-e Eslami.
Pada tanggal 27 Juni 1981, sebuah bom yang disusupkan oleh anggota teroris MKO menewaskan ketua mahkamah agung ketika itu, Ayatullah Syahid Behesti bersama 72 pejabat tinggi Iran lainnya di kantor Partai Republik Islam. Sebanyak 27 orang dari korban tersebut adalah anggota parlemen, empat menteri dan sisanya adalah para pejabat teras Iran.
Pada tahun 1980, Saddam Hussein dengan koordinasi negara-negara Barat, mengeluarkan perintah penyerangan terhadap wilayah Iran. Namun, pasukan Saddam berhadapan dengan kegigihan perlawanan para pejuang Iran yang tak gentar sedikitpun dalam mempertahankan tanah air mereka. Oleh karena itulah, pada tahun-tahun pertama perang, Saddam pun mulai menggunakan senjata kimia dengan harapan bisa menghentikan perlawanan bangsa Iran. Seiring dengan semakin gigihnya perlawanan pasukan Iran, semakin tinggi pula intensitas penggunaan senjata kimia oleh pasukan Saddam. Korban akibat penggunaan senjata kimia ini tidak hanya menimpa militer Iran, namun juga rakyat sipil, termasuk perempuan dan anak-anak.
Selama perang delapan tahun antara Irak-Iran, banyak sekali desa yang dibombardir senjata kimia oleh Saddam, namun serangan terbesar adalah terhadap kota Sardasht di Barat Iran. Serangan bom kimia itu dilakukan pada tanggal 28 Juni 1987 dan merupakan sebuah pembunuhan massal yang paling mengerikan sepanjang perang Iran-Irak. Sebanyak 350 orang, termasuk anak-anak dan perempuan tewas seketika, dan 7 ribu orang lainnya terluka dan sebagiannya hingga hari ini masih hidup dengan menanggung penyakit akibat senjata kimia itu.
Kekejaman Saddam tidak saja ditunjukkan hanya kepada bangsa Iran, namun juga kepada rakyatnya sendiri. Setahun setelah serangan bom kimia di Sardast Iran, yaitu bulan Maret 1988, Saddam memerintahkan penggunaan senjata kimia di kota Halabche, Irak utara, yang mayoritasnya didiami oleh warga etnis Kurdi. Dalam serangan senjata kimia ke Halabche, 5000 warga sipil menjadi korban kekejaman Saddam.
Hingga hari ini, sekitar 45.000 orang Iran yang masih hidup dengan menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia. Setiap tahunnya, pemerintah Iran mengeluarkan dana 37 juta dollar AS untuk merawat para korban senjata kimia itu, namun tiap tahun pula banyak di antara mereka yang akhirnya gugur syahid. Selain menangung penyakit, sebagian korban senjata kimia ini juga harus menanggung kepedihan karena anak-anak keturunan mereka menderita kelainan fisik atau mental akibat pengaruh dari bahan-bahan kimia berbahaya. Senjata kimia memang juga berdampak pada kerusakan DNA yang diwariskan secara genetik kepada keturunan para korban.
Sepanjang perang delapan tahun Iran-Irak, pasukan Irak telah membombardir Iran dengan senjata kimia sebanyak 350 kali. Berdasarkan laporan investigator PBB, Juan Mack, sepanjang perang Iran-Irak, pasukan Saddam telah menggunakan 1800 ton gas Mustard, 600 ton gas Sarin, dan berbagai jenis senjata kimia lainnya.
Bahan kimia yang mematikan ini, terutama gas Mustard akan mengkontaminasi semua permukaan, termasuk tanah. Itulah sebabnya, semburan gas ini menjatuhkan korban yang sangat banyak. Gas ini akan merusak sistem pernafasan, mata, dan kulit. Setiap bagian tubuh yang terkontaminasi gas Mustard ini secara bertahap akan terbakar dan sistem kekebalan tubuh akan rusak. Gas ini juga akan menyebabkan kerusakan DNA dan kemungkinan menyebabkan kanker.
AS dan sejumlah negara Barat lainnya yang mengetahui kejahatan Saddam terhadap bangsa Iran, alih-alih mengecam aksi brutal tersebut justru melanjutkan pengiriman senjata kimia terhadap rezim Baath. Dan ironisnya, setelah 16 tahun AS menyuplai senjata kimia bagi rezim Baath, Washington menyerang Irak dengan dalih memusnahkan senjata kimia di Negeri Kisah 1001 Malam itu.(IRIB Indonesia)