Klaim Tor-Tor Tunjukan Pemerintah tidak Punya Visi Kebudayaan

JAKARTA, RIMANEWS -- Adanya klaim tarian Tor-Tor dan Gondang Sambilan oleh Malaysia justru mengingatkan masyarakat Indonesia akan pentingnya budaya negeri sendiri. Ia pun merasa perlu berterima kasih kepada pemerintah Malaysia atas kejadian ini, penilaian ini disapaikan Anggota Komisi X DPR-RI Dedi Gumilar.

"Ini bukan yang pertama kali. Kita selalu 'diingatkan' sama mereka untuk menghargai kebudayaan sendiri untuk segerlah mendaftarkan budaya bangsa ke UNESCO serta PBB. Agar terlepas dari konflik negara serumpun ini," kata Dedi, saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (21/6).

Dedi pun menilai pemerintah tidak memiliki visi kebudayaan sehingga kurang tegas menaruh Kebudayaan menjadi aset utama yang dapat menjual nilai lebih untuk bangsa Indonesia.

"Saat angklung ditetapkan menjadi Warisan Budaya Dunia (The Intangible Heritage) oleh UNESCO apakah kemudian dikembangkan di sekolah-sekolah? Lalu, apa arti ini semua?," ujar Dedi.

Pihaknya mengungkapkan pemerintah hanya mengalokasikan Rp400 miliar untuk anggaran kebudayaan. Di sisi lain, Indonesia memiliki sekitar 7.000 kebudayaan dari Sabang sampai Merauke, namun yang tercatat baru 2.108. 

"Apakah kita tidak malu? Aset kebudayaan kita justru dikembangkan negara lain. Jangan sekadar marah kepada Malaysia. Dia klaim atau tidak, itu suatu peringatan kepada kita," tandas Dedi.

Dedi pun menyayangkan pernyataan Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu Nuryanti yang mengatakan tidak berencana bertemu dengan pihak Malaysia terkait masalah klaim tarian Tor-Tor dan Gondang Sambilan. Hal itu, menurut Dedi, malah mengulur ketidakjelasan konflik kedua negara serumpun antara Indonesia dan Malaysia.

"Saya tidak tahu alasan Wamendikbud mengapa tidak mau menemui pihak Malaysia. Saya rasa sangat perlu membicarakan masalah ini secara serius. Kalau nggak ketemu, konflik ini tidak akan pernah selesai. Jangan hanya lewat jalur diplomasi saja," ujar Dedi.  (Wrh/tmp)