Pemakaman Om Liem Dipenuhi Ribuan Pelayat

SINGAPURA- Pengusaha besar ini memikat  banyak  pejabat. dan dikenang banyak orang kaya. Ribuan pelayat dari dalam dan luar Indonesia memadati Rumah Duka Mount Vernon Parlour 1 Singapura untuk memberikan penghormatan terakhir kepada konglomerat Sudono Salim atau Liem Sioe Liong di Singapura, Senin.

Di halaman rumah duka, pelayat dibagi dalam beberapa tempat, antara lain ruang Grup Salim dan Ruang Keluarga.

Sementara keluarga inti Liem melakukan prosesi sembahyang di ruang tertutup yang dipimpin beberapa biksu. Upacara dipimpin oleh biksu dari Watyannawa.

Dari para tamu, terlihat CEO Maspion Grup Alim Markus dan General Manager Batamindo Johannes Sulistiawan. Alim Markus menyatakan duka yang mendalam atas kepergian pria yang kerap disapa Om Liem. "Banyak ajaran beliau yang baik kita ikuti," kata dia seperti yang dikutip dari antaranews.com.

Di antara pelayat juga terdapat Warga Hok Jia dari seluruh Indonesia. Hok Jia merupakan kota di China tempat konglomerat itu lahir.

Rencananya, upacara pemakaman dimulai sekitar pukul 10.30 waktu Singapura. Pukul 12.00 waktu Singapura, jenazah dibawa ke pemakaman Choa Chu Kang Singapura.

Juru bicara keluarga Franciscus Wilerang mengatakan pemilihan waktu pemakaman, waktu pemberangkatan dan hari pemakaman ditentukan oleh biksu yang didatangkan khusus dari Thailand. Sedangkan untuk perhitungan waktu disesuaikan dengan Feng Sui.

Liem Sioe Liong meninggal dunia di Rumah Sakit Raffles Singapura Minggu (10/6/2012) di hadapan anak-anaknya. Liem meninggalkan seorang istri, empat orang anak, Albert, Andrea, Anthony, dan Mira juga 14 cucu dan enam cicit.

Peti mati yang digunakan untuk memakamkan jenazah taipan Liem Sioe Liong atau Sudono Salim senilai Rp67,5 juta. Saat membeli peti mati itu keluarga Oom Liem tidak menawar lagi, karena tidak boleh melakukan tawar-menawar dalam hal itu.

"Peti mati harganya 9.000 dolar Singapura," kata petugas Singapura Cascet, organizer yang mengurus persemayaman Liem Sioe Liong, di Singapura, Selasa (12/6/2012), seperti dikutip antara.

Dengan kurs Rp7.500 per satu dolar Singapura, maka harga 9.000 dolar Singapura setara Rp67,5 juta. Ia mengatakan peti itu diimpor khusus dari luar Singapura, dan dibuat dari kayu cherry.

Murah atau mahal itu relatif, namun jika dianggap mahal maka harga segitu cukup berlawanan dengan kebiasaannya selama hidup, yang dikatakan banyak pihak sangat sederhana.

Kerabat Liem Sioe Liong, Jamin Hidayat, menolak menyebut nilai persemayaman orang terkaya di Indonesia. "Tidak tahu, tidak etis," kata dia.

Namun, kata dia, yang pasti, keluarga tidak etis melakukan tawar-menawar harga peti mati dengan penjual. "Tidak boleh ditawar," kata dia. Peti mati, kata dia, diurus oleh Singapore Cascet.

Di halaman dalam tempat persemayaman, terpasang sedikitnya lima tenda besar berwarna putih yang menutup seluruh halaman. Di dalam tenda, disediakan pendingin ruangan berukuran besar yang menyejukkan pelayat.

Selain tenda, para pelayat juga disuguhkan makanan dari Mandarin Hotel dengan berbagam menu China dan internasional berikut buah-buahan.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, konglomerat Indonesia Sudono Salim atau Liem Sioe Liong berpesan kepada anaknya Anthony Salim.

Ia berpesan agar Anthony tidak meninggalkan Indonesia, Salim Group harus tetap berbisnis di Indonesia untuk memperkuat perekonomian bangsa.

"Om Liem juga berwasiat, awalnya, minta dimakamkan di Indonesia, tetapi sebelum wafat beliau minta dimakamkan di Singapura, bukan karena tidak cinta," kata Achmad Farial, salah satu kerabat Sudono Salim, kepada INILAH.COM, Senin (11/6/2012).

Sudono Salim, yang lahir pada 16 Juli 1916, meninggal di Singapura pada Minggu (10/6/2012), pukul 15.50 waktu setempat. Pria yang dikenal dekat dengan mantan Presiden Soeharto itu, merupakan pendiri Grup Salim, yang meliputi kepemilikan Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, BCA, hingga waralaba Indomaret.

Jenazah tiba di rumah duka Mount Vernon Parlour 1, 121 Upper Aljunied Road, Singapore, Senin (11/6/2012), pukul 16.50 waktu setempat. Memakai jas biru dan kacamata khasnya di saku kiri, jenazah ditaruh di peti kayu warna coklat.

Almarhum Soedono Salim alias Liem Sioe Liong yang meninggal pada Minggu 10 Juni lalu bukan hanya mewariskan kerajaan bisnis yang beraneka ragam di Indonesia maupun di luar negeri. Tetapi yang paling mendasar adalah warisan moral yang tak lekang dimakan zaman.

Para kerabat dan handai tolan Om Liem merasakan betapa warisan moral itu kuat menancap dalam pribadinya. Om Liem yang meninggal pada usia 97 tahun di Raffles Hospital, Singapura, mewarisi pelajaran moral yang mulia dan berharga, yakni dalam semangat kesederhanaan hidup dan kerja keras, seperti dikatakan menantu yang dipercaya mengendalikan PT Indofood Sukses Makmur, Franciscus Welirang.

Dalam hal harta, Om Liem mewariskan kekayaan kepada isterinya Lie Kim Nio dan empat anaknya senilai US$800 juta pada 2006, menurut majalah Forbes yang kerap membikin peringkat orang kaya sedunia itu. Kekayaannya menurun dibanding saat Om Liem masih berbisnis aktif dan bisa mengumpulkan harta pribadi hingga US$ 3 miliar pada 1993, menurut majalah Asia Week.

Om Liem sejak bermukin di kawasan Mountbatten, Singapura, tidak lagi mengendalikan bisnis raksasanya seperti pabrik semen Indocement, pabrik tepung terigu Bogasari, perbankan Bank Central Asia yang dijual BPPN kepada grup Djarum dan pabrik mi terbesar di dunia PT Indofood Sukses Makmur.

Franciscus Welirang mengingat mertua tercintanya: “ Beliau adalah seorang ayah tercinta yang meluangkan banyak waktu dengan keluarganya, meskipun dulu sangat sibuk dengan urusan bisnis. Beliau sering berkumpul dengan putera puterinya sekedar ngobrol dan berinteraksi.”

“Kebiasaan ini juga beliau lakukan terhadap para karyawan. Beliau memperlakukan para karyawan selayaknya keluarga,” ujar seorang handai tolan luar yang meminta namanya disebut sebagai Handoko, kepada koran The Straits Times.

Bagaimana Om Liem berinteraksi dengan para wartawan? Seorang teman wartawan yang pernah mewawancarainya pada 1994, wajahnya masih diingat Om Liem dengan baik ketika mewawancarainya lagi pada 1996.

Dengan mengenakan celana pendek dan kaus tipis merek Swan bikinan China, om Liem menerima wartawan majalah Sinar Erwin Patanjengi di rumahnya yang sederhana di Jl Gunung Sahari Jakarta.”Ah, sudah pernah wawancara saya kan?” ujar om Liem santai, sambil menepuk pundak teman wartawan ini.

Franciscus Welirang menambahlkan, “Beliau adalah orang yang ingat dengan orang pernah ditemuinya, meskipun 20 tahun tak pernah bertemu. Ia belajar banyak tentang pentingnya kerja keras , berpikiran terbuka dan rendah hati dari sang mertuanya.

Sementara itu, putra bungsu Anthoni Salim yang bernama Axton Salim (33 tahun) mengatakan bahwa kakeknya itu selalu ramah dan baik terhadap dirinya. “Filosofi beliau tentang pentingnya kerja keras dan sederhana adalah dua sangu penting sepanjang hidup saya,” ujarnya.

“Apa yang kami pelajari dari beliau, sudah kami terapkan dalam bisnis kami, seperti etos kerja keras seperti yang sudah mendarahdaging dalam bisnis beliau”. Axton Salim berbicara atas nama para cucu Om Liem yang jumlahnya 14 orang. Dari empat anak om Liem, terlahir enam orang cicit.

Jenzah om Liem disemayamkan di rumah duka Mount Vernon Funeral Parlour, Jalan Aljunied Atas, Singapura. Rencananya acara ritual agama Budha akan dilaksanakan sebelum jenazah Om Liem dimakamkan di Choa Chu Kang Cemetary, Singapore pada pukul 14.00 hari Senin ini. Selamat jalan om Liem yang telah memberi pekerjaan bagi ribuan orang di seluruh dunia. Amal kebajikanmu akan dicatat Tuhan. [[mvi/INILAH)