Revolusi Digital Rontokkan Industri Musik Timur Tengah

DUBAI, RIMANEWS-Revolusi digital telah membuat industri musik Timur Tengah tertekan sangat keras saat wilayah tersebut masih kekurangan masyarakat pengoleksi seperti belahan lain dunia, kata wakil sektor industri dalam pertemuan meja bundar di Dubai pekan lalu.

"Era digital telah membantu pembajakan mendorong industri rekaman dan musik ke pinggir jurang," kata Jihad Nehme, manager pelaksana penerbitan dan operasi internasional di perusahaan media terbesar di Timur Tengah, Rotana.

"Sebelum krisis, Rotana meluncurkan 100 rekaman baru per tahun, tapi pada 2011 hanya ada 20 rekaman dari rumah produksi kami," kata Nehme.

Rotana berharap kampanye kesadaran dapat mencegah orang melakukan pembajakan. Guna meyakinkan pengguna akhir membayar lagu yang mereka sukai, Nehme memperlihatkan rekaman video yang diluncurkan oleh kelompok Rotana. Di dalam rekaman tersebut, konsumen diberitahu untuk membayar untuk memperoleh rekaman musik, "jika tidak dunia akan segera tanpa musik", demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta.

Craig Pereira, Direktur penjualan dan pengembangan bisnis digital di Sony Music Timur Tengah pada prinsipnya sependapat dengan Nehme, dan mengatakan, "Wilayah tersebut paling menantang."

Berbeda dengan hampir semua wilayah lain di dunia, tak ada masyarakat pengoleksi resmi di negara Timur Tengah. Masyarakat pengoleksi adalah lembaga berizin industri musik dan bertanggung jawab dalam penanganan hak koleksi.

"Tidak-adanya warga masyarakat pengoleksi berarti tak ada yang dapat mengatur acara di satu restoran atau hotel dan memainkan musik dari CD tanpa membayar hak cipta kepada artis atau merek CD untuk itu," kata Pereira.

"Kami memperkirakan industri musik hiburan di wilayah itu menderita kerugian sebesar 10 juta dolar AS per tahun, hanya karena tak ada badan pengoleksi," kata Pereira.

Namun, Pereira menambahkan era digital juga menawarkan kesempatan baru bagi industri tersebut. "Operator telekom terbesar Uni Emirat Arab, Etisalat, misalnya, telah membuat toko musik 'daring' (dalam jaringan) tempat pelanggan bisa mengunduh musik di komputer jinjing atau telefon canggih mereka dengan bayaran murah. Model bisnis itu berhasil dan kami melihat makin banyak penyelesaian semacam itu menjamur di wilayah tersebut."[ach/amt/wrkt]