Kekerasan Kerap Terjadi di "Zona Militer", Pemerintah Libya Serukan Gencatan Senjata

TRIPOLI, RIMANEWS - Pihak berwenang Libya menyatakan kota-kota pegunungan di bagian barat negara itu sebagai "zona militer" dan menyerukan pihak yang terlibat konflik untuk melakukan gencatan senjata segera.

"Karena aksi kekeraan di daerah-daerah Mizdah, Sheguiga dan Zintan yang menewaskan warga yang tidak bersalah, pemerintah sementara memerintahkan semua pihak segera menghentikan serangan," demikian pernyataan kantor Perdana Menteri Abdel Rahim al-Kib yang dikutip Kantor Berita AFP.

"Untuk memperkuat ini, pemerintah memerintahkan panglima militer dan kementerian dalam negeri mempertimbangkan daerah yang dilanda bentrokan sebagai satu zona militer dan menggunakan segala cara yang perlu untuk menghentikan serangan terhadap penduduk sipil yang tidak bersalah."

Pernyataan itu didukung oleh Dewan Transisi Nasional yang berkuasa dan Dar al-Fitna, yang mewakili badan agama tertinggi Libya.

Pemerintah sementara menyerukan pembukaan perlintasan yang aman untuk mengizinkan evakuasi para korban yang cedera dan pengiriman bantuan kemanusiaan. Pemerintah sementara juga membentuk satu misi pencari fakta untuk menyelidiki penyebab konflik-konflik itu.

Baku tembak yang meletus Senin lalu melibatkan para petempur dari suku Mashashia melawan orang-orang bersenjata dari suku Gontrar dan kota Zintan, 170 kilometer dari Tripoli.

Sumber-sumber di Gheryan, satu kota dekat zona-zona tempur itu mengemukakan bahwa puluhan keluarga melarikan diri Sabtu untuk mencari perlindungan akibat pertempuran itu. Juru bicara militer Ali al-Sheikhi mengatakan kepada AFP bahwa "bentrokan senjata masih berlangsung."

Beberapa pejabat kementerian kesehatan mengatakan jumlah korban meningkat kendatipun mereka tidak menyebutkan jumlah korban itu.

Pada Rabu, pemerintah sementara mengatakan pertempuran itu menewaskan 14 orang dan menyebabkan lebih dari 89 orang cedera. [mam/ant]