KOLABORASI PUISI : Antar Generasi Lintas Benua Tembus Dunia

THE LANGUAGES OF ATIKU

Oleh/By: Neny, Driya, Emi, Warih, Puteri

Now, are you that soul mate? (Engkaukah belahan jiwa itu?)

who's glitters and glances (yang gemerlap dan kerlingnya)

I saw in the deep dark past? (kulihat di kegelapan dalam di masa lalu)

If I could be, I want to (Jika aku mampu, aku ingin)

but there's a high fence between us (namun dinding maha tinggi memisahkan)

but, I really want to (namun, aku sungguh-sungguh ingin)

Petenging wengi ora kaya petenging ati (kelamnya malam tak sekelam hatiku)

rikala kowe kemucap bakal lunga (manakala kau berucap akan pergi)

ninggalake aku lan gendhuk (tinggalkanku dan anak perempuan kita)

sing turu pules nang pangkonku, Dik (yang tertidur pulas di pangkuanku, Dik)

kenapa kowe tega (mengapa kau tega)

bayang wajahmu menghunjam sukmaku

selalu, dan selalu begitu

mengusik tidurku

menggoda memasuki mimpi lebih dalam

dak anti-anti ing luwenging wardaya (kutunggu dengan penuh harap di lubuk hati)

kalawan pangare-arep (dengan segala harap)

kang t'rus ing driya (yang selalu menyembul di kalbu)

sing tak gadhang rina k'lawan wengi (dan berharap akan terwujud di siang dan malam hari)

gandhulane ati sing tak tresnani (belahan jiwa yang kukasihi)

muga bisa angrumati janji (semoga bisa merawat janji)

urip k'layan pati (hidup dan mati)

Aku inginkan kau datang sayang

dengan wajah rembulan

dan mimpi yang kau kandung kini

kelak jadi kenyataan,

lihatlah bintang gemintang

melambai mengulurkan tangan

mengajak kita menari

melupakan segala

yang selama ini bersemat menjadi onak

penuhi batok kepala

di sana t'lah tumbuh spora dan ganggang

yang merindukan kita

ing ngendi dununge katresnan (di manakah cinta bersemayam)

apa saka sumoroting kencana netramu (apakah dari sorot cahaya kencana di matamu)

utawa ana ing sajeroning ati sing lagi karanta-ranta (ataukah dari dalam hati yang nestapa)

and love, oh, love (dan cinta, oh, cinta)

your face is so fierce (wajahmu begitu bengis)

that I want to scratch you (hingga aku ingin mencakarmu)

in the evil eyes (di mata setanmu)

that keep haunting me (yang terus menghantuiku)

Tanya terus mengintip dari relung kalbu

ingin melompat

merengkuh segala yang ada

the will of embracing the wholeness (keinginan merengkuh segala)

is hampered by the limited body (dikekang oleh tubuh yang serba terbatas)

the question is just vain (tanya itu tak berarti)

vain (tak berarti)

vain (tak berarti)

the pain reign (pedih menguasai)

let me hug you (izinkan aku memelukmu)

even for a while (hanya sementara)

in the gleaming of my heart (dalam cemerlangnya hatiku)

wengi wis tumeka menyang esuk (malam berganti pagi)

manuk uga walang jangkrik sak piturute(burung belalang cengkerik dan yang lain)

padha ngayahi wajibe dewe-dewe (memulai tugasnya masing-masing)

aku isih tansah nggetuni sliramu (aku selalu merasa kecewa terhadapmu)

sumendhot rasa ing ati (membetot kalbu ini)

dak kira kowe bakal wedhar ing janji (kukira kau akan menepati janji)

wengi dak liwati (malampun kulewati)

wengi sing tintrim akeh digerumut memedi (hening malam dikerubut hantu gentayangan)

aku mung bisa nyadhong marang peparinge Gusti (aku hanya bisa anugerah Tuhan)

kowe tansah diparingi pepeling(agar kamu diingatkan)

lan bakal murungake karep(dan mengurungkan niatmu)

kang ora ndadekake aku lan si genduk (yang akan membuatku dan anak perempuan kita)

bakal kelangan sempalane ati (kehilangan belahan hati)

simponi malam mengiringi gontai rasa

yang mulai merapuh

mendamba sebuah hati

yang belum kunjung singgah

di pelataran sunyi

lei dayong hay ngo sam ( kaulah matahati hatiku )

pongo gam bei yugo ngo hou tung ( menyelimutiku saat aku kedinginan)

pei ngo yamsoi yugo ngo kinhok (memberi air saat aku kehausan)

Aku terjaga

embun pagi membalut sekujur tubuhku,

lelaki tua itu membawaku ke ujung pematang sawah,

ia basah oleh keringat

menemukan aku tergolek

merengkuh subuh yang lepas

dan luka tak terbatas

hangatkan tubuhku dengan sarungnya,

dia penjaga surau dekat sungai di ujung desa

lelaki tua itu tak mengenalku,

anak laki-lakinya yang kembali tergolek

direngkuh subuh yang sepi

aku tansah ngugemi (aku selalu setia)

ora lali marang janji (tak pernah ingkar janji)

sak jeroning ati (di lubuk paling dalam)

sliramu dak tresnani (aku mengasihimu)

dan di sini

dalam dermaga sepi

kumenanti kehadiranmu 'tuk memeluk mimpi

berdua kita selamanya

berdua mendayung perahu bahtera

menepis ragu yang ada

membuang curiga

mempererat genggaman rasa

dalam semai doa dan ridho yang Kuasa

Ini gemuruh rasa kubawa

tak ragu pun kelu memanggilmu

bolehkan menetap di dada kirimu

inginku sepanjang usiaku.

Ini rasa yang mengisi ruang hela,

pada jarak dan waktu yang berbeda.

Aku dan kamu,

memapah tabah di semesta yang sama.

Ketika senyum dan air mata membuncah

di wajahku bersamaan.

pertanda tangisan bahagia yang menghapus kelukaan

menulisi sebidang dadamu dengan puisi sunyi

tentang rasa yang menderu,

menjaga setia bait-bait yang memuja hening,

tanpa letih.

denyut nadimu menjadi saksi,

degup jantungmu memburuku,

dan aku ingin selalu terjaga dalam dekapmu

And here I am, (dan aku di sini)

waiting (menunggu)

waiting

waiting

in an ageless time (dalam masa tak bertepi)

with the apple of our eyes (dengan buah cinta kita)

albeit in vain (meskipun dalam kesia-siaan)

you, soul mate (kau Pasangan Jiwaku)

in the drizzle of summer rain (dalam derasnya hujan musim panas)

in the yellowish reddish autumn trees (dalam menguningmerahnya daun-daun musim gugur)

in the whiteness of winter snow (dalam putihnya salju musim dingin)

in anticipation of the spring dew (dalam penantian akan embun musim semi)

when you walk back (ketika kau menapaki jalan kembali)

from that gate that (melewati gerbang itu)

remains open (yang terbuka)

after all these years. (bahkan setelah bertahun-tahun lamanya)

 *) Kembali terjadi kolaborasi spontan antar benua, terjalin melalui jejaring sosial pemersatu hati. Walau alurnya melompat-lompat, tetapi semangat berkreasi dalam mempererat persahabatan perlu diacungi jempol, disunting dan editing Didiek Soepardi MS, Pegiat Satra, Penyair, Kolaborator Ulung (antar Benua dan antar Generasi, dalam berbgai Bahasa ) SALAM SASTRA.