Kota Para Kaisar yang Menakjubkan

Istanbul, satu-satunya kota di dunia yang terhampar di dua benua. Bagian utama kota itu membentuk bagian paling tenggara benua Eropa. Sementara bagian pinggirannya masuk dalam kawasan benua Asia.  

Secara geografis kota yang sebelumnya dikenal dengan Konstantinopel ini sangat cantik dan menakjubkan. Sehingga sejarawan Byzantium, Procopius, menggambarkan Konstantinopel sebagai “kota yang dikelilingi kalung air”.(hlm. 6) Hal ini dikarenakan sebagian besar kecantikan kota itu masih bergantung kepada letaknya yang unik, terbentang di atas selat yang menjadi pertemuan Bosporus dan Tanduk Emas, airnya menyatu di Promentorium Bosphorium dan mengalir bersama-sama menuju Marmara.

Mulanya, kota Istanbul selama seribu tahun dikenal sebagai Bizantium saat Konstantin Agung menjadikannya ibu kota Kekaisaran Romawi pada 330 M. Sejak itulah kota ini dinamai Konstantinopel yang berarti kota Konstantin. Kemudian pada 1453 M bangsa Turki di bawah kepemimpinan Sultan Mahmet II menguasai Konstantinopel, dan menjadikannya ibu kota Kekaisaran Utsmani dengan namanya yang sekarang, Istanbul.

Kekaisaran Utsmani tersebut kemudian berakhir pada 1923 dengan pendirian Republik Turki Modern, dan ibu kotanya terletak di Ankara. Karena itu, untuk pertama kalinya, Istanbul tidak lagi menjadi ibu kota kekaisaran dunia, walaupun pada tahun-tahun setelahnya ia tetap menjadi kota paling penting di Turki, dengan populasi yang kini melebihi 12 juta orang. Daerah pinggiran kota Eropa dan Asianya terhampar di sepanjang kedua sisi Borporus sehingga menjangkau Laut Hitam.

            Hingga saat ini kota penuh mitos itu menjadi tempat tiada tara bagi pertukaran budaya, sejak awal masanya sebagai koloni Yunani Byzantium. Lebih dari dua puluh enam abad keberadaannya, kota ini selamat dari rangkaian bencana alam, malapetaka politik, penaklukan asing, dan gejolak dinasti. Kota ini mampu pula bertahan dari perubahan fantastis dalam agama, bahasa, status politik, dan nama. Dalam rentetan serangan waktu, ruh dan karakter kota yang menakjubkan itu tetap hidup. Ini adalah sebuah keajaiban besar, karena inilah satu-satunya kota yang mampu mempertahankan daya tariknya yang eksotik serta atmosfer dan identitasnya yang unik.

            Kota yang sangat legendaries dalam sejarah peradaban dunia ini telah meninggalkan banyak kisah menakjubkan tentang tiga kekaisaran agung dalam sejarah dunia, yakni Byzantium, Romawi, dan Utsmani. Selama lebih dari 2.000 tahun, para pelancong telah datang dan terpesona akan keajaiban, misteri dan keagungan kota ini. Apalagi buku ini menyajikannya dengan bahasa yang mengalir sehingga lewat buku ini seakan-akan kita dituntun untuk menelusuri semua sudut kota tersebut.

            Buku yang ditulis oleh John Freely ini diperkuat dengan catatan tentang beberapa monumen penting dan museum yang ada di Istanbul. Salah satu moneumen penting sebagai bukti sejarah dalam perjalanan Istanbul adalah tembok Byzantium. Tembok ini yang asli mencakup benteng di sekeliling lingkaran acropolis di Bukit Pertama, juga tembok melingkar dari Tanduk Emas hingga Marmara. Menurut Dionysius Cassius, ada dua puluh tujuh menara pertahanan di antara Tanduk Emas dan Marmara. Dia juga mencatat bahwa pelabuhan dalam tembok dan rantai itu serta perairan memiliki menara-menara yang menonjol di kedua sisi tembok yang membuatnya sulit didekati musuh.(hlm. 401)

Pendek kata, John Freely melalui buku ini mengajak kita bertamasya historis di sebuah kota yang sudah ada kira-kira 2.600 tahun yang silam. Kita diajak menyusuri sudut-sudut kota, menjelajahi jejak-jejak sejarah yang kini tersimpan di museum dan monumen, serta memasuki lorong waktu menuju masa silam ketika kota ini masih merupakan koloni Yunani kuno.

_________________________________

Peresensi        : Rahmah Farihatus Sholihahah, Penikmat buku tinggal di Kota Batu     

Judul Buku      : Istanbul, Kota Kekaisaran

Penulis             : John Freely

Penerbit           : Pustaka Alvabet

Cetakan I        : Maret 2012

Tebal               : 492 halaman

ISBN               : 978-602-9193-14-5

Kata Kunci