JAKARTA, RIMANEWS-Terkait dua isu strategis yang sedang hangat belakangan ini, yaitu keamanan di Papua dan masuknya narkoba ke Tanah Air, Komisi III DPR menghujani kritik tajam kepada Polri .
Komisi III menilai Polri tidak maksimal mengemban misi menjamin keamanan di Papua dan tidak serius melakukan pengawasan terhadap peredaran narkoba.
Kritik tajam itu terungkap dalam forum Rapat Kerja Polri dengan Komisi III di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (14/6).
Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Hanura Sarifuddin Sudding dalam rapat mengajukan kritik terkait disitanya 1,4 juta butir ekstasi yang ditemukan di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok beberapa waktu lalu.
Menurut dia, itu menjadi pertanyaan serius kepada Polri sejauh mana kerja pemberantasan narkoba yang selama ini selalu digaung-gaungkan Polri.
"Kami melihat polisi begitu sigap melakukan operasi pemberantasan narkoba di sejumlah daerah, tapi itu kecil-kecil semua. Kok yang dalam jumlah banyak seperti itu bisa lolos? Bagaimana mungkin masuknya ekstasi melalui laut hanya bisa menangkap satu pelaku. Kami curiga pihak keamanan jangan-jangan ikut andil dalam kerja sindikat. Ini harus jadi perhatian Saudara Kapolri," ujar Sudding sambil menatap Kapolri Jenderal Timur Pradopo.
Selain soal narkoba, Komisi III juga mempertanyakan kelumpuhan Polri menjamin keamanan di Papua yang belakangan kembali terusik.
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi Golkar Dewi Asmara menyayangkan langkah Polri yang terkesan membiarkan situasi tidak aman terus terjadi di Papua, karena Polri sampai sejauh ini belum bisa menangkap semua pelaku penembakan yang selama ini beredar di Papua.
"Polri kan ada intelijen. Tapi kok intelijen Polri di Papua tidak bekerja sampai tidak ada deteksi dini untuk mencegah penembakan terjadi. Kami jadi curiga apakah ini memang sengaja dibiarkan atau seperti apa?" ujar Asmara.[ach/MI]