oleh : Neny , Puteri dan Subekti
Dalam rentang masa
seutas takdir dilemparkan
dari langit teratas.
dan kau coba menangkapnya
sunyi menganga
lantas kau coba berpaling pada rembulan
dan gemintang memandang saling berkedipan
mencoba menghadapi awan dengan senyuman
biarpun mendung menggulung juga badai mengayun
kuncup teratai malam-malam menebar jala
aku terpedaya oleh gugusan bintang jelaga
ribuan kelelawar menebar tanya
dan di sunyi rerumputan sekawanan jengkerik pesta pora
dan kau dimana ?
tanya itu mengiang menembus dada
ada suara dari dalam gua
mungkin manusia tak paham ceritanya
takdir sunyi
sepi mati
lalu mengapa perduli?
menebar aroma wangi melati
di antara bangkai yang terus menggerogoti malam sunyi
dan melati berdiri sendiri
memamerkan putih suci di setiap lebar tangkai
tak peduli dengan kumbang malam
yang ingin mencumbui
yah mengapa peduli,
seribu tanya menghujam di jiwa
tak ada jawaban
hanya luka yang kau torehkan
menjejak dalam palung jiwa
kau masih bertanya
pada tebing-tebing gunung dan ngarai
adakah sunyi telah menyelinap di lubuk hatinya
jiwa yang rapuh rindukan pupuh tembang
nina bobokkan kembara tak berujung
menggantung diraung gumpalan mendung
dan di ujung kau tampak murung
wahai takdir
ku tak mau
kau tak mau
dan kita terhenti
di ujung masa
*) Melbourne, Hong Kong, Jakarta, Puisi ini merupakan Kolaborasi dari Neny di australia, puteri di Hongkong dan Subekti di Jakarta. Sangat spontan intens dan Dahsyat. Dari sebuah ide yang semula dianggap main-main dan' Gila' akhirnya terealisir juga, salam hangat dan kreatif untuk neny dan puteri, kalian perempuan-perempuan hebat, Salam Sastra.
14 Juni 2012