EKSTASE 251
tatkala kecantikan menjelma gairah yang membadai
kuikat simpul-simpul dalam ruhku
kusulap menjadi telaga yang tenang
dan ayat-ayatmu mengalun di atas ketenangan samudera
tatkala gairah duniawiku bangkit
ingin mengejar kobaran api yang memanah jantungku
kuhalangi ruhku dengan tirai-tirai dari ketinggian ‘arsy
dan kuhikmati seluruh cintamu yang tak terhitung
tatkala kukecup bibir musnah berderai api
kupadamkan kobaran jiwa yang menggeliat
ular yang menyerang langsung ke ulu hati
kudorong bibirmu yang sensual dan kuhikmati ayat-ayat luka
di masa lalu.
Tangerang, 11 11 09
EKSTASE 252
hancurlah sukmaku
ketika kau dengungkan ayat-ayat setan
yang menggelegakkan ruhku
seperti gelegak minyak panas di wajan penggorengan
aku ini insan lemah
syekh, berilah aku kekuatan
syekh, tolonglah aku dari hempasan ekstase setan
syekh, sesungguhnya
alam semesta ini birokrasi ilahiyah
dan kubangun tamanku
yang telah poranda
kutata jadi taman indah dalam sistem birokrasi ilahiyah
para malaikat menjaga sudut-sudut tamanku
sebagaimana kekasih menugaskan para malaikat
menjaga alam semesta dan melindunginya
dan syekh,
kekuatan yang menolong datang ke taman hatiku
menggotong mayatku
dan membedah dadaku di dalam taman
membersihkan kotoran
lalu menghembuskan ruh yang menolong
ke rongga dadaku
“sekarang bangunlah!” ujar syekh
aku bangun dan menatap wajah syekh
penuh cahaya dan tangannya bersinar-sinar
mengusap wajahku dengan lembut.
Tangerang, 11 11 09
EKSTASE 253
pertama kali kukenal
senyumnya membangkitkan gairah sukma
kutatap bola matanya
getaran-getaran zikir berkobar dan cahaya lembut keluar
dari pandangan matanya
ia seperti hendak memelukku
kubiarkan cahaya itu menyungkup ubun-ubunku
bibirnya bergetar
mengecup bibir ruhku dan mendengungkan lagu abadi:
“orang-orang yang beriman
hati mereka menjadi tenteram
dengan mengingat kekasih ( allah)
.ingatlah, hanya dengan mengingati kekasih
hati menjadi tenteram”17
sejak itu aku selalu ekstase mengingatnya
dan aku pun memanggilnya “yaa haq!”
pertama kali kukenal
ia berdiri mematung di depanku
tubuhnya yang tinggi dan wajahnya yang indah
menggetarkan sukmaku
lalu ia pergi seperti asap meninggalkan pembakaran
sejak itu ia tak pernah kembali
dan aku ingat terus dan selalu rindu
untuk bertemu!
Tangerang, 11 11 09
EKSTASE 254
biarkanlah badai menghempas alam semesta
selama bendera kekasih berkibar di angkasa
biarkanlah luka menyayat tubuh-tubuh manusia
asalkan jiwa dan sukma terbentengi “laailaaha-illallah”
biarkan peperangan memorak-porandakan dunia
selama taman-taman ruh di diri ini selalu tertata
selamat malam kekasih
aku ingin berwudu di taman airmata para pengembara
selamat berjuang para tentara
aku bernyanyi di taman sajadah – nyanyian tahajud yang abadi!
Tangerang, 11 11 09
EKSTASE 255
ketika kekasih melepas kepergianku
ke pentas besar dan terendah ini
ternyata masih ada arena yang jauh lebih besar
dan lebih rendah
dan kutanya kekasih:”apa arena terbesar dan terendah dari bumi ini?”
“nafsumu!” jawab kekasih
di arena itu kau dapat menjadi raja
tapi juga bisa menjadi budak
di arena itu kau dapat mabuk
ekstase dan sempoyongan melupakanku (kekasih)
di arena itu kau histeris
ekstase dan minum berkendi-kendi anggur
karena ingat kekasih
Tangerang, 11 11 09
Juftazani, Lahir di Pekanbaru 11 November 1960. Bekerja sebagai Penyair, Editor dan Aktifis Keagamaan