JAKARTA, RIMANEWS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengundang Menteri Kehakiman yang diberhentikannya, Yusril Ihza Mahendra, ke kediamannya di Cikeas, Bogor. Hal ini dinilai merupakan langkah komunikasi politik yang dibangun untuk mencairkan suasana setelah keduanya saling serang di meja pengadilan.
"SBY sedang membangun komunikasi politik kembali karena sudah kalah berkali-kali di pengadilan," kata pengamat politik dari Universitas Indonesia (UI), Cecep Hidayat, saat berbincang, Jumat (18/5/2012).
Komunikasi politik ini menjadi jalan keluar terakhir setelah berbagai kekalahan yang diterima SBY lewat jalan pengadilan. Sebab selain yang diajukan adalah murni kasus hukum, faktor emosional personal masa lalu tetap mempunyai pengaruh.
"Secara tidak langsung, SBY mengakui pemerintahannya lemah dalam bidang hukum," ujar Cecep.
Dalam komunikasi politik berujung pada tawar-menawar posisi atau kerja sama. Namun melihat gelagat Yusril, Cecep menilai Yusril memilih menolak hal tersebut guna kepentingan pemilu 2014.
"Sekarang Yusril ibarat pedang yang tidak bertuan. Secara personal, Yusril melawan SBY di atas awan menang, tetapi tidak dalam politik. Kemenangan ini menjadi tabungan politik Yusril untuk 2014 nanti," papar Cecep.
Pertemuan tersebut digelar kediaman SBY di Cikeas pada Kamis (17/5/2012) sekitar pukul 21.00-22.30 WIB. Yusril mengaku diundang oleh sang kepala negara untuk berdiskusi.
"Walau ditawari apapun, saya tetap tidak akan bergabung dengan pemerintah ini," kata Yusril dalam akun twitternya @Yusrilihza_Mhd seperti dikutip detikcom, Jumat (18/5/2012).
Kasus ini bermula pasca Agusrin Najamudian dilengserkan dari kursi Gubernur Bengkulu karena dihukum 4 tahun penjara, Presiden SBY mengeluarkan Keppres. Tidak hilang akal, Agusrin meminta bantuan Yusril untuk membatalkan Keppres tersebut lewat PTUN. Meski pokok perkara belum dikabulkan, tetapi putusan sela PTUN Jakarta memutus perkara ini menjadi status quo.(yus/dtk)