Hariman Siregar Tetap Simpati dan Empati Pada Aksi Buruh 1 Mei

JAKARTA,RIMANEWS--Tokoh Malari dr.Hariman Siregar yang lahir 1 Mei 62 tahun lalu menilai, aksi buruh kali ini cukup berarti dan  mencerminkan sinyal kekecewaan  dan perlawanan meski meraka tidak tahu substansi ideologis dan politis dari perjuangan mereka sendiri.

‘’Bus-bus yang mereka tumpangi, umumnya bagus, yang menandakan bahwa aksi demo itu ibarat piknik atau sukaria kaum buruh yang sejatinya mengalami pemasungan dan ketidakberdayaan. Tapi, demo mereka, setidaknya sudah menunjukkan ekspresi buruh yang semestinya diperdulikan negara. Sangat kasihan kalau kita menyaksikan kehidupan mereka, dan saya kira lebih baik 1 Mei jadi hari libur buruh,’’ kata Hariman Siregar di Klinik Baruna Jakarta ketika menjawab pers dalam memperingati ultahnya ke-62 dan sekaligus bersimpati dan empati merayakan hari Buruh Sedunia. Hadir dalam ultah Hariman antara lain peneliti senior SSS Dr Sukardi Rinakit, cendekiawan Dr Muslim Abdurahman, B.Wiwoho, Eggy Sudjana, aktivis Amir Husein Daulay, dosen Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad, dan kalangan aktivis muda serta para mahasiswa.

Dalam peringatan Hari Buruh Sedunia kali ini, Presiden SBY telah menyiapkan empat hadiah istimewa. Keempat hadiah itu seperti buruh yang penghasilannya semula Rp1,3 juta menjadi Rp2 juta tidak dikenai pajak, pengadaan rumah sakit buruh, transportasi murah untuk buruh di kawasan industri dan pengadaan rumah murah untuk buruh. Hari Buruh Sedunia merupakan momentum untuk memperbaiki kesejahteraan buruh, dan kado SBY itu tidaklah istimewa, malah sudah terlambat.

Dalam peringatan hari buruh internasional Selasa ini, buruh Indonesia menuntut jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat Indonesia, jaminan pensiun bagi setiap buruhn kemudian menolak kebijakan upah murah, menghapus sistem outsorcing, memberikan subsidi pada buruh dan keluarganya melalu APBN/ APBD, dan menjadikan 1 Mei sebagai hari buruh dan libur nasional.

Aksi buruh berjalan damai, demokratis dan mengisyaratkan bahwa kemiskinan dan ketidakadilan masih melilit kehidupan mereka yang umumnya merana. Nasib buruh kita, kalau kita mau jujur,  hanya menjadi kuli di negeri sendiri, dan secara ekonmomi tidak merdeka, bahkan tidak bermartabat sebab mayoritas mereka hidup melarat. Itulah realitas buruh, yang terbukti berdemo dengan damai, bersemangat dan tentu aja,  ada yang mengharukan.

Ribuan pendemo dari Sekretariat Bersama Buruh yang melakukan unjuk rasa di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, mengakhiri aksinya dengan membakar atribut aksi. Karena kobaran api semakin besar, aparat kepolisian tidak tinggal diam. Mereka langsung menurunkan watercannon dan langsung menyemprotkan air ke arah kobaran api sehingga dapat dipadamkan.