Sunday, 13 July 2014

Cari

Breaking News

Hina Pengadilan, PM Pakistan Dinyatakan Bersalah

PAKISTAN, RIMANEWS-Mahkamah Agung Pakistan memutuskan Perdana Menteri, Yousuf Raza Gilani, bersalah dalam dakwaan menghina pengadilan.

Namun dia hanya mendapat hukuman beberapa menit di ruang sidang sebagai sebagai perlambang dan tidak akan menjalani hukuman di penjara.

Ketika tiba di gedung Mahkamah Agung, Kamis 26 April pagi, Gilani didampingi dengan oleh para pendukungnya, yang melemparkan bunga mawar ke arahnya.

Gilani dinyatakan bersalah karena 'mengabaikan' perintah pengadilan untuk menghubungi pemerintah Swiss sehubungan dengan kasus korupsi atas Presiden Asif Ali Zardari.

Wartawan BBC di Islamabad, Aleem Maqbool, melaporkan keputusan ini tampaknya dilihat sebagai kemenangan atas pemerintah karena Gilani tetap akan menjalankan tugas sebagai perdana menteri.

Pengajuan banding

Bagaimanapun penasehat hukum Gilani mengatakan akan mengajukan banding.

Gilani berulang kali menegaskan keengganannya menindaklanjuti kasus yang menimpa Presiden Zardari didasarkan pada kekebalan hukum yang dimiliki oleh kepala negara.

Presiden Zardari dituduh menggunaan rekening bank Swiss untuk menyembunyikan uang suap namun dia membantah dan berpendapat dakwaan tersebut bermotif politik.

Dakwaan atas Gilani ini mencerminkan ketegangan antara pemerintah pimpinan Gilani dengan Mahkamah Agung, yang dilaporkan mendapat dukungan dari kubu militer.

Pihak oposisi sudah langsung meminta agar Gilani segera mengundurkan diri.

"Keputusan pengadilan didasarkan pada kebenaran dan kenyataan. Perdana menteri sendiri yang membuat situasi ini," tutur Nawaz Sharif dari Liga Muslim Pakistan kepada stasiun Geo TV.

Pro dan kontra warga

Warga Pakistan sendiri berbeda pendapat dalam menanggapi keputusan Mahkamah Agung ini.

Seorang warga di Karachi mengatakan pengadilan memang sebaiknya tidak menjatuhkan hukuman atas Gilani.

"Dia perdana menteri kami. Dia orang yang dihormati. Mereka seharusnya mencari jalan ke luar lain," tutur Mohammad Imran.

Sedangkan Mohamad Akram yang tinggal di Lahore justru menyesalkan hukuman yang singkat atas Gilani.

"Saya sedih dengan keputusan pengadilan. Hanya 30 detik hukuman untuk orang yang memimpin negara ini? Pengadilan seharusnya memikirkan tentang itu bahwa orang yang melakukan kejahatan kecil menerima hukuman berat dan tidak ada yang menghukum perdana menteri dan presiden," tuturnya.

Yousuf Raza Gilani merupakan perdana menteri pertama Pakistan yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan.[ach/BBC]