Friday, 18 April 2014

Breaking News

Pemerintah Jangan Buru-buru Batasi BBM Bersubsidi

JAKARTA, RIMANEWS- Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto meminta pemerintah tidak terburu-buru memberlakukan kebijakan pembatasan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Konsep pembatasan harus benar-benar matang agar tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.

Ia mencontohkan, rencana pemasangan stiker pada kendaraan yang berhak menggunakan BBM bersubsidi merupakan langkah tergesagesa. “Stiker itu kan gampang dipalsukan,” ujarnya di Jakarta kemarin.

Pemerintah berencana melakukan pembatasan mulai Mei mendatang demi menjaga konsumsi BBM bersubsidi pada level 40 juta kiloliter seperti yang ditetapkan dalam APBNP 2012. Tanpa pengendalian konsumsi BBM bersubsidi dikhawatirkan melonjak hingga mencapai 47 juta kiloliter.

Dalam rencana kebijakan ini mobil pribadi berkapasitas 1.500 cc ke atas dilarang menggunakan BBM bersubsidi. Untuk memudahkan petugas SPBU, mobil 1.500 cc ke bawah akan dipasangi stiker.

Pri Agung mengingatkan, pembatasan konsumsi BBM bersubsidi merupakan kebijakan publik,s ehingga harus dipikirkan secara mendalam. “Jangan memilih gampangnya saja. Sekadar cc, lalu digabungkan dengan tahun, terus pakai stiker, ini kan terlihat gampang,” gugatnya.

Dia mengusulkan pembedaan mobil lebih baik menggunakan pelat nomor agar sulit dipalsukan. Semisal, untuk mobil yang masih boleh mengonsumsi BBM bersubsidi, pelat nomornya diberi warna tertentu. “Nanti masyarakat tinggal mengurus ke kepolisian. Ada inisiatif untuk mengurus itu,” paparnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik mengakui pengawasan program pembatasan tidak mudah dilakukan lantaran banyak petugas SPBU tidak mengetahui jenis-jenis mobil. Karena itu pemerintah akan bekerja sama dengan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) serta kepolisian. Dia berharap BPH Migas dapat merancang stiker yang tidak mudah dipalsukan. “Stiker khusus agar jangan ditiru dan di palsu,” katanya.

Anggota Komite BPH Migas Ibrahim Hasyim sebelumnya memastikan akan menggunakan mekanisme manual dengan penempelan stiker elektronik dalam program pembatasan BBM bersubsidi. BPH Migas sedang menyiapkan perlengkapan teknis untuk merealisasikan program pembatasan BBM subsidi. “Waktunya sangat mepet, sehingga jalan satu-satunya menggunakan stiker,” ujarnya.[ach/sindo]