PENYAIR YANG MENANAM BENCANA DAN PRAHARA
ceruk cadas yang menggoda jiwa ini
kerling mata tersuruk ke hutan belantara fisika
dan erotika yang menggelitik kekacauan (chaos) dalam sukma
barat gagal menerjemahkan seks menurut metafisika timur
anehnya timur pun kini kehilangan spiritualnya
dan mengikuti jejak barat yang sangat keliru
pertempuran harmoni dan chaos terus dibentangkan
lekak-lekuk tubuhmu yang yang pualam
membangkitkan geremeng libido yang membuncah
menanam kalabendu menuai prahara
perzinahan-perzinahan liar
percumbuan-percumbuan kalajengking dan ular
menumbuhkan badai membangkitkan tsunami
seks bagi barat dan timur hari ini
erotika yang diikuti penyair-penyair indonesia kontemporer
hanyalah genderang tanpa pesan
ukhrawi (1 bagi mereka terpental ke dunia maya
dan cahaya absolut terpurukkan ke wacana relatifitas
padahal sokrates berkata:
“keindahan hakiki hanya bisa dipahami manusia
yang mempunyai jiwa mulia dan keindahan (2
kalaupun ada sesuatu yang lain dari keindahan absolut
maka sesuatu itu dapat dikatakan indah
sejauh ia merupakan bagian dari
keindahan absolut itu!”
o, iblis manakah yang telah menyusup
ke ceruk-ceruk jiwa penyair (sastrawan) busuk
tanpa mereka sadari, mereka telah membuat kejahatan
sebagaimana kejahatan adam dan hawa tatkala di surga
yang telah menggelorakan kehancuran, kebrutalan dan kekacauan
yang menghantam kemanusiaan
bagai bencana dan prahara!
1) Tuhan
2) Bukan jiwa rendah (busuk) dan keindahan, sebagaimana kebanyakan penyair dan sastrawan barat dan timur yang menyuarakan sastrawangi (yang berlaku di Indonesia) atau sastra busuk dan chaos (kacau) sebagaimana berlaku di dunia barat. Mereka telah melakukan kejatan atas kemanusiaan (fisik dan metafisik) dengan sadar dan sistematis.
Tangerang, 31 03 2012
Juftazani, Lahir di Pekanbaru 11 November 1960. Bekerja sebagai Penyair, Editor dan Aktifis Keagamaan