Wednesday, 16 April 2014

Breaking News

Harga Minyak Dunia Kembali Merangkak Naik

NEW YORK, RIMANEWS - Harga minyak dunia melonjak naik pada Jumat (Sabtu pagi WIB), karena pedagang menangkap laporan bahwa ekspor minyak mentah Iran diperkirakan akan jatuh secara signifikan bulan ini.

Kontrak utama New York, minyak mentah West Texas Intermediate untuk Mei, melonjak ke setinggi 108,25 dolar AS per barel -- tertinggi sejak 2 Maret -- sebelum mundur kembali menjadi 106,87 dolar AS, naik 1,52 dolar AS dari tingkat penutupan Kamis.

Minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei melonjak ke setinggi 127,06 dolar AS per per barel dalam transaksi sore di London. Brent kemudian berakhir pada 125,13 dolar AS, atau naik 1,99 dolar AS.

Tidak ada angka resmi tentang berapa banyak ekspor minyak mentah Iran telah jatuh, tetapi laporan yang belum dikonfirmasi berseliweran tentang penurunan 14 persen. Itu cukup untuk menakuti pasar.

"Kabar tentang penurunan ekspor minyak Iran menawarkan momentum sisi kenaikan kuat untuk pasar minyak hari ini, dengan minyak mentah WTI melonjak untuk menguji ulang 108 dolar AS per barel," tambah analis Sucden, Myrto Sokou.

"Berita itu mungkin mendukung pasar minyak untuk jangka pendek. Selain itu, dolar AS yang lebih lemah membantu reli kuat."

Ketegangan antara produser minyak mentah Iran dan Barat terus menjadi faktor kunci yang mempengaruhi harga minyak.

Presiden AS Barack Obama, Jumat, mengatakan bahwa ketegangan dengan Iran dan "ketidakpastian" di wilayah itu menambahkan premi 20-30 dolar AS untuk harga minyak.

"Kuncinya yang mendorong harga gas lebih tinggi sebenarnya adalah pasar minyak dunia dan ketidakpastian tentang apa yang terjadi di Iran dan Timur Tengah," katanya dalam wawancara dengan American Automobile Association.

Obama juga mengatakan, meningkatnya permintaan minyak di China dan India sedang mendorong harga.

"Karena semakin banyak orang di seluruh dunia memperlihatkan standar hidup mereka naik, mereka membeli mobil, mereka memiliki permintaan minyak, yang menciptakan permintaan lebih besar di seluruh dunia dan itu meningkatkan harga."

Sementara itu pemerintah Afrika Selatan, Jumat mengatakan, pihaknya masih mempertimbangkan apakah akan mengurangi impor minyak mentah Iran karena sanksi AS.

"Belum ada keputusan telah diambil oleh pemerintah tentang masalah sanksi karena respon opsi penyelidikan jauh dari selesai," demikian departemen energi mengatakan.

"Pemerintah juga berbicara dengan sejumlah negara lain yang memasok minyak mentah untuk menentukan potensi memasok mereka."

Media lokal pada Jumat melaporkan bahwa Teheran memasok sedikitnya 25 persen dari kebutuhan minyak mentah Afrika Selatan, demikian AFP.[ian/ant]