Thursday, 24 April 2014

Breaking News

Mengenang Jenderal Dibyo Widodo; Lebih Baik Mundur Daripada Berkhianat

JAKARTA, RIMANEWS - Mantan Kapolri Jenderal Pol Dibyo Widodo menghembuskan nafas terakhir Kamis siang (15/3) akibat sakit yang dideritanya. Namun ada yang tak bisa dilupakan para anak buahnya dan menjadi catatan sejarah Polri atas kiprah almarhum.

Lelaki kelahiran 27 Mei 1946 ini menjadi sosok yang sangat dihormati karena dia berani melawan penguasa saat itu, mantan Presiden Soeharto dan Panglima ABRI Jendral Wiranton, demi membela anak buah.

"Saya punya sikap, lebih baik saya diberhentikan, dari pada harus menghianati dan mengorbankan anak buah saya serta tak bisa membela korps saya," demikian tegas Dibyo Widodo (Media Indonesia, 26 Juni 1998).

Pernyataan ini ditegaskannya karena Dibyo menolak tuduhan 12 orang anak buahnya menembak empat orang mahasiswa Trisakti hingga tewas dalam kerusuhan 12-13 Mei 1998.

Dia menegaskan tidak ada perintahnya untuk menembak dengan peluru tajam buat menangani demo mahasiswa. Sehingga tidak mungkin anak buahnya menembak mahasiswa hingga tewas. Dibyo pun menyiapkan pengacara kondang Adnan Buyung dan 122 pengacara buat membela 12 anggota Polri yang dituduh menembak mahasiswa Trisakti.

Pemakaian jasa 122 pengacara di bawah pimpinan Adnan Buyung buat membela anak buahnya ini membuat penguasa saat itu marah dan menyuruh Dibyo mencabut pemakaian jasa pengacara itu. Karena Dibyo bersikukuh membela anak buahnya, Dibyo pun diberhentikan.

Pernyataan sikap Dibyo tetap membela anak buahnya sehingga terjadi pencopotan jabatannya sebagai Kapolri, membuat nama Dibyo sangat disegani dan dicintai anak buahnya.

Saat datang ke tanah air, jenazah almarhum disambut dan dikawal banyak polisi menuju rumahnya di Jln Metro alam VII No 28 Pondok Indah.[mi]