Friday, 18 April 2014

Breaking News

Rizal Ramli, Mahfud dan Joko Widodo Layak Capres 2014

JAKARTA,RIMANEWS-Gerakan Menuju Indonesia Bermartabat (MIB), di Jogjakarta mengumumkan hasil penjaringan nama-nama tokoh yang dianggap layak diperjuangkan untuk maju sebagai calon presiden Indonesia (Sabtu, 26/2/12). Oleh gerakan yang beranggotakan sekitar 10 ribu Facebookers di 31 provinsi disebutkan bahwa tiga tokoh layak sebagai capres, yaitu Dr. Rizal Ramli, Mahfud MD, dan Joko Widodo.

Koordinator MIB, Sholeh UG, menjelaskan, nama ketiga tokoh ini muncul melalui proses penjaringan bertahap. Tahap pertama menginventarisasi tokoh-tokoh yang sudah muncul di media massa, baik yang sudah dicalonkan atau diusung oleh partai politik maupun mencalonkan diri.

Termasuk dalam tahap ini adalah tokoh-tokoh yang muncul dalam polling-polling yang dilakukan oleh lembaga survei. Nama-nama tokoh tersebut kemudian dikaji, dan dibahas oleh forum facebookers. Figur-figur tersebut antara lain Abu Rizal Bakrie, Sri Mulyani Indrawati, Prabowo Subianto, Mahfud MD, Puan Maharani, Anas Urbaningrum, Hatta Radjasa, Yusril Ihza Mahendra.

Kemudian melalui tahap usulan terbuka. Tiap anggota bebas mengusulkan tokoh yang menurut catatan anggota layak diperjuangkan. Nama-nama yang muncul adalah: Mahfud MD, Rizal Ramli, Joko Widodo, Anies Baswedan, Hery Zudianto, Agustin Teras Narang, Fadjroel Rahman, Fadel Muhammad, Din Syamsuddin, dan Yusril Ihza Mahendra.

Tahap inventarisasi, yaitu nama-nama yang sudah muncul dari proses pertama dan mendapat catatan positif anggota masuk dalam tahap ketiga. Sedang nama-nama yang diusulkan oleh anggota, selama dia bukan tokoh yang masuk tahap pertama dan sudah ditolak, langsung masuk dalam tahap inventarisasi.

Dalam tahap ini ada Sembilan tokoh yang muncul yaitu Rizal Ramli, Joko Widodo (Jokowi), Fadel Muhammad, Yusril Ihza Mahendra, Din Syamsuddin, Anies Baswedan, Fadjroel Rahman, dan Mahfud MD. Dengan munculnya sembilan nama tersebut otomatis nama-nama yang masuk sebelumnya dianggap tidak layak oleh para anggota MIB.

Alasan utama terhadap penolakan tokoh-tokoh tersebut antara lain:

Bagian dari pemerintah SBY yang masih menyimpan berbagai persoalan Seperti Sri Mulyani, Anas Urbaningrum, dan Hatta Radjasa. Memiliki track record yang kurang baik, yaitu Prabowo Subianto, Aburizal Bakrie, Sri Mulyani, Anas Urbaningrum. Sedangkan yang dianggap belum jelas kiprahnya, Puan Maharani dan Agustin Teras Narang.

Menurut Sholeh UG, sembilan nama yang sudah disetujui itu kemudian didiskusikan oleh forum. Setiap hari dimunculkan satu nama. Beberapa tokoh menimbulkan perdebatan seru; pro dan kontra.

Sedang beberapa tokoh lain melaju mulus tanpa keberatan. Akhirnya dari sembilan nama itu ditetapkan tiga nama, yaitu Rizal Ramli, Joko Widodo, dan Mahfud MD.

Rizal Ramli disetujui mayoritas karena kemampuannya di bidang ekonomi, komitmennya pada ekonomi kerakyatan, integritas, dan sikap oposisinya terhadap pemerintahan SBY. Mahfud MD disetujui karena kepakarannya di bidang hukum tata negara, keberanian, dan integritasnya. Sedangkan Joko Widodo disetujui karena keberhasilannya memimpin Solo, keberpihakannya pada mobil Esemka, dan upayanya mempertahankan bangunan cagar budaya yang akan dirobohkan dan diganti menjadi mall.

Sedangkan enam nama lain tidak disetujui oleh mayoritas anggota yang memberi komentar terhadap pemunculan nama di group MIB. Keberatan anggota terhadap enam tokoh yang tidak lolos tersebut, antara lain karena factor:

Masih menyimpan persoalan masa lalu, seperti Fadel Muhammad dan Yusril Ihza Mahendra. Dianggap tidak mumpuni karena sikapnya sering tidak pada tempatnya, yaitu Din Syamsuddin dan Fadjroel Rahman. Belum memiliki kesiapan atau ketokohannya masih diragukan, yaitu Anies Baswedan.

Setelah melalui proses tersebut Menuju Indonesia Bermartabat (MIB) setuju dan akan menyuarakan Rizal Ramli, Joko Widodo, dan Mahfud MD untuk dicalonkan sebagai calon pemimpin Indonesia.

MIB mensyaratkan seorang pemimpin harus memiliki jiwa kepemimpinan transformasional bukan transaksional, dan karena itu harus bebas dari belenggu sistem (baik kepartaian maupun pemerintahan). Kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang berada di barisan terdepan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik, bukan hanya sekedar berwacana tapi juga harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Dan ketiga tokoh tersebut telah teruji dalam kiprahnya memiliki tipe kepemimpinan transformasional.

Bersih dan berani membersihkan. Pemimpin tidak boleh terikat dengan kontrak-kontrak politik-ekonomi yang akan membuat dirinya tersandera, dan kemudian dalam pengambilan kebijakannya harus tunduk pada kepentingan pemilik modal, kaum kapitalis dan neolib. Pemimpin juga harus berani untuk mengambil tindakan tegas terhadap segala bentuk penyimpangan, demi menegakkan martabat bangsa Indonesia. Dan ketiga tokoh tersebut sudah teruji bersih dan memiliki keberanian untuk membersihkan.

Berani dan berintegritas, serta memiliki sikap nasionalisme yang jelas. Sebagai sebuah bangsa yang berdaulat, dengan kekayaan alam yang berlimpah dan SDM yang mumpuni di segala bidang, maka seorang pemimpin haruslah berani menegaskan kedaulatan Negara dari campur tangan asing yang hendak menjajah Indonesia, baik secara politik, ekonomi maupun militer. Pemimpin harus berani melindungi hak-hak rakyat, melindungi aset-aset Negara dari upaya penjarahan pihak asing, baik penjarahan secara legal melalui perjanjian dan traktat internasional, maupun penjarahan illegal.

Seorang pemimpin harus memiliki visi jauh kedepan, berjiwa kenegarawanan. Sehingga seorang pemimpin tidak boleh hanya mementingkan kelompok, golongan dan partainya saja, tapi harus benar-benar menyejahterakan warga bangsa, membawa warga bangsa menuju kemakmuran.[zul

 Tiga Capres

 Tiga tokoh nonparpol, yakni Mahfud MD, Rizal Ramli, dan Irman Gusman, dianggap layak diajukan sebagai calon presiden (capres) dalam Pilpres 2014. Ketiga nama itu bisa menjadi alternatif untuk mengatasi kejenuhan publik terhadap capres wajah lama yang umumnya berasal dari parpol.

Analis politik dari Point Indonesia, Karel Susetyo menilai ketiga nama tersebut memiliki kapasitas sebagai pimpinan nasional mendatang. Dari ketiga tokoh itu, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menempati peringkat pertama, disusul mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli, lalu Ketua DPD, Irman Gusman. “Mereka merupakan tokoh yang berpotensi menjadi capres,” katanya kepada SP di Jakarta, Selasa (3/1).

Dikatakan, Pilpres 2014 hendaknya di isi tokoh- tokoh baru dan segar. Jika tokoh-tokoh lama masih muncul, tidak akan ada kejutan dalam pilpres mendatang. Selain itu, rakyat juga akan menilai minor tokoh tokoh yang yang pernah bertarung dalam pilpres sebelumnya, tetapi muncul lagi. “Angka golput yang terus naik juga harus menjadi pertimbangan parpol-parpol s a a t mengajukan capres. Jadi harus ada tokoh-tokoh baru, supaya rakyat datang dan memilih. Seperti menjual ikan, kalau ikannya tidak segar, mana ada orang yang mau beli?” katanya.

Dikatakan, Mahfud tergolong tokoh baru dan segar, memiliki kapasitas, dan cukup populer. Namun, kendala yang dihadapi Mahfud ada l ah t idak tersedianya perahu politik.

“Partai mana yang akan mengusung beliau? Pak Mahfud itu populer, tapi apa dia cocok dengan kepentingan parpol dan elitenya? Ini menjadi persoalan,” ujarnya.

Karenanya, lanjut Karel, penyebutan nama-nama tersebut hanyalah testing the water. Karel mencontohkan sejumlah nama tokoh nasional yang disebut-sebut sebagai capres sejak era reformasi, tetapi saat pilpres akhirnya mengerucut ke tokoh-tokoh parpol. Hal serupa juga berlaku bagi tokoh muda di dalam parpol. “Political will partai untuk memberi kesempatan pada tokoh di luar parpol dan orang muda, belum kuat,” tegasnya.

Karel memprediksi, tokoh nonparpol hanya mungkin mendapat jatah cawapres. Namun, kemungkinan itu pun sangat kecil. “Lihat Pilpres 2009, yang nonpartai cuma Boediono. Pilpres 2004, nonpartai cuma Gus Sholah dan Hasyim Muzadi. Agum Gumelar bisa dikategorikan orang parpol. Jika parpol-parpol tidak berubah, tokoh nonparpol belum akan mendapat panggung pada pilpres mendatang,” katanya.

Peluang tokoh nonparpol akan terbuka jika parpol mengadakan konvensi, seperti yang dilakukan Golkar pada 2004. Namun, tutur Karel, hingga saat ini belum ada parpol yang mewacanakannya. Peluang lainnya adalah para tokoh nasional itu diusung koalisi parpol menengah dan kecil.