Memahami Sosok Kontroversi Gus Dur
Penulis :
Penyunting :
3365    0

Dokumentasi Rima

      Kontroversial, barangkali kata atau isltilah yang paling cocok untuk disematkan pada figur seorang Gus Dur. Bisa jadi kekontroversialnya muncul karena banyaknya kemampuan yang dimilikinya, sehingga sosok Gus Dur menjadi tidak lazim bagi mereka yang hanya menguasai satu disiplin ilmu saja.

      Gus Dur juga dikenal sebagai sosok yang nyleneh. Ini Karena banyak gagasan, pemikiran dan ucapan yang dilontarkan Gus Dur tidak lazim sebagaimana tokoh besar yang selalu menjaga dan mengonsep kata-katanya sebelum diucapkan. Apa yang menurut Gus Dur benar, itulah yang dikatakan. Tak peduli ucapannya itu melawan arus atau bahkan menjadi kritikan banyak orang. Karena itu, Gus Dur nyaris tak pernah sepi dari konflik dan kontroversi. Tapi dari ketidak laziman itulah, nama Gus Dur kian menjulang dan ketokohannya makin berkibar.

      Dalam pandangan penulis, Gus Dur setidaknya memiliki tiga wajah yang menonjol, yaitu sebagai tokoh agama, budayawan, dan politisi. Ketiga peran itu dimainkannya secara bergantian dalam kurun waktu yang sama. Ketikaa berada di komunitas NU, Gus Dur berperan sebagai ulama, ketika berada di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dia berperan sebagai budayawan, tetapi ketika bertemu dengan Soeharto, Megawati, B.J. Habibie atau tokoh politik lain, maka saat itu Gus Dur dapat dikatakan memainkan peran politisi.

      Jarang sekali kita memiliki tokoh agama seperti beliau, sehingga sangat wajar kalau dianggap sarat dengan kontroversi. Dibanding Nurcholis Madjid, langkah-langkah yang diambil Gus Dur jauh lebih berani dan bahkan barangkali lebih nekad. Ia dianggap kontroversial tidak hanya oleh masyarakat di luar komunitas NU, tetapi juga oleh orang NU sendiri. Gu Dur lebih memilih cara zig-zag bahkan melompat-lompat. Yang lebih parah lagi adalah ketika ingin berbelok ke kanan atau ke kiri, Gus Dur tidak memberi sinyal apa-apa, sehingga yang berjalan di belakang menjadi kebingungan dan bertanya, akan kemana orang ini?

      Hampir semua orang yang kebetulan memberitakan komentar mengenai Gus Dur, baik dalam nada ilmiah akademis atau kenangan pribadi, menyebut satu pokok soal, yaitu adanya beberapa hal yang sulit dipahami dalam diri Gus Dur. Tidak semua tindakan Gus Dur sulit dipahami memang, bahkan sebagian besar darinya justru membentuk suatu rangkaian yang serba logis dan koheren. Tetapi mengharapkan koherensi yang sepenuhnya bulat dalam semua tindakan Gus Dur, juga jelas mustahil.

      Itulah sebabnya, ada sebagian orang  yang semula menaruh hormat dan kekaguman, tiba-tiba harus menunda sejenak kekagumannya itu, dan merasa gemas. Kegemasa itu penulis lihat pada tulisan Pdt. Eka Darmaputera dalam buku ini, yaitu “tokoh kontroversial, Isu kontroversial”. Ia gemas, karena Gus Dur mau-maunya terlibat langsung dalam urusan politik praktis, dengan menerima tawaran menjadi presiden. Mestinya, ia lebih tepat berdiri netral dan bebas dari ikatan dan posisi politik seperti itu.

      Meminjam kalimat Pdt. Eka, “mencalonkannya Gus Dur jadi presiden adalah ibarat memaksakan benda berharga masuk ke karung yang terlalu kecil. Karena benda itu terlalu besar, ia bisa lecet atau bahkan pecah. Hal inilah yang kemudian tindakan Gus Dur sukar untuk dipahami oleh orang lain. Mestinya, jika koherensi seluruh tindakan Gus Dur hendak dipertahankan secara utuh, idealnya Gus Dur tetap berada pada posisi netral di luar pemerintahan, untuk menjadi semacam penjaga moral. Dengan menjadi “pemain” yang terlibat langsung dalam sebuah permainan, Gus Dur sudah pasti akan kehilangan netralitas. Ini yang membuat orang seperti Pdt Eka merasa gemas.

      Tindakan-tindakan Gus Dur yang sebagian bisa dipahami dan sebagian tidak, ini membuat penulis teringat ada kategorisasi yang dibuat ulama klasik mengenai ayat-ayat al-Qur'an. Di dalam ilmu-ilmu mengenai al-Qur'an, dikenal pembedaan antara ayat yang muhkamat dan mutasyabihat. Ayat muhkamat adalah yang pengertiannya tidak mengandung suatu ambiguitas karena telah jelas, sehingga tidak diperlukan suatu penafsiran untuk bisa dipahami oleh orang banyak. Sebaliknya ayat yang mutasyabihat adalah ayat yang pengertiannya penuh dengan ambiguitas.

      Dalam diri Gus Dur, ada tindakan-tindakan yang logis dan koheren, mudah dipahami serta terang benderang di mata siapa pun saja. Tetapi dalam diri Gus Dur juga ada segi-segi yang janggal, yang amat gelap di mata orang biasa. Tanpa harus menyertakan Gus Dur dengan al-Qur'an, penulis ingin menggambarkan dua karakter dalam tindakan-tindakan Gus Dur dalam term al-Qur'an tersebut. Ada tindakan-tindakan Gus Dur yang masuk ke dalam kategori “muhkamat”, yaitu tindakan yang logis dan koheren, tetapi juga ada tindakan-tindakannya yang susah untuk dimengerti dan dapat dikategorikan sebagai mutasyabihat.

      Sebenarnya, tindakan Gus Dur yang logis dan koheren lebih banyak jumlahnya ketimbang yang 'ambigu” dan susah dipahami. Tetapi, karena yang ambigu ini lebih menjadi bahan pemberitaan media, maka kesan yang ditangkap oleh umum adalah bahwa seluruh tindakan Gus Dur dianggap kontroversial serta sulit dipahami. Kontroversialitas akhirnya dianggap sebagai ciri utama dalam tindakan-tindakan Gus Dur dan juga menjadi “merk” bagi Gus Dur.

      Gus Dur memang sebuah “buku yang terbuka” yang tidak akan pernah bisa dimengerti secara keseluruhan. Penafsiran-penafsiran yang dikemukakan sejumlah orang boleh jadi benar, boleh jadi tidak. Sekian tulisan dalam buku ini merupakan buah hasil penafsiran beberapa orang terhadap tindakan kontroversi Gus Dur. Bahwa semua tindakan gus Dur dapat ditafsirkan dan dijelaskan, bisa diangkat dari kondisi “historis”nya yang boleh jadi penuh cacat dan menjengkelkan ke tahap kebermaknaan.

      Sebagaimana ditunjukan oleh editor buku ini, penjelasan atau kritik tentng Gus Dur akan segera sampai pada titik jenuhnya sendiri. Bukankah pada akhirnya akan tetap ada segi-segi yang tak terungkapkan pada diri Gus Dur. Setelah sekian lama menjadi penafsir Gus Dur ketika kembali untuk menjelaskan kontroversinya seorang hanya bisa berkata “Gus Dur. Titik.”

_____________________________

Peresensi: Abdul Aziz MMM, Pengelola  Renaisant Institute Tinggal di Yogyakarta

Judul : Gila Gus Dur

Editor : Ahmad Suaedy, Ulil Abshar Abdalla

Penerbit : LKiS, Yogyakarta

Cetakan: I, 2011

Tebal : xxiv+292 halaman

Peresensi : Abdul Aziz MMM