Friday, 18 April 2014

Breaking News

Siasat Kapitalisme Neoliberal

Globalisasi ekonomi merupakan fenomena masa kini yang dirasakan oleh semua umat manusia.
Ada yang menilai bahwa globalisasi itu sebagai proses alamiah kehidupan manusia, tapi banyak
pendapat yang percaya bahwa globalisasi ekonomi merupakan fenomena yang berdasarkan ideologi tertentu
yaitu kapitalisme neoliberal. Ideologi Neoliberalisme secara sederhana memiliki tiga perangkat utama dalam menjalankan dominasinya dalam dunia internasional. Perangkat tersebut berupa gagasan mengenai liberalisasi ekonomi, privatisasi, dan deregulasi. Gagasan yang terakhir juga sering disebut sebagai
liberalisasi terselubung. Deregulasi selalu menjadi bagian dari paket kebijakan yang menyertai proses liberalisasi ekonomi.

Tak ada liberalisasi tanpa deregulasi dalam negeri suatu negara. Gagasan-gagasan tersebut menyebar sedemikian rupa dengan membawa doktrin kesejahteraan neoliberal. Dalam bukunya The End of History, Fukuyama mengatakan bahwa dunia kini berada dalam masa kejayaan puncak kapitalisme yang tak
tergoyahkan. Sejak runtuhnya peradaban Uni Soviet sebagai simbol antitesa kapitalisme, seakan dunia berkata bahwa kapitalisme adalah keharusan sejarah yang mesti diterima oleh seluruh manusia dengan bukti bahwa kapitalisme mampu mempertahankan dirinya dan memajukan berbagai negara yang menerapkan resep-resep yang diajarkan oleh paham tersebut. Globalisasi ekonomi yang sedang berlangsung saat
ini telah mendorong terjadinya proses integrasi ekonomi dunia yang mengarah pada penerapan prinsip-prinsip ekonomi pasar seperti orientasi pada pertumbuhan ekonomi, melakukan privatisasi, memotong subsidi, dan lain-lain.

Pertumbuhan ekonomi misalnya ditempatkan sebagai tujuan pembangunan negara, sehingga cara-cara pembangunan yang rentan seperti investasi asing yang berlebihan dan utang luar negeri menjadi instrumen yang paling digemari negara-negara sedang berkembang. Tentu saja pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan suatu prestasi yang penting bagi setiap negara, sepanjang hal tersebut dilakukan dengan
memaksimalkan potensi ekonomi domestik secara aktif dan pertumbuhan ekonomi itu ditempatkan pada posisi yang benar yaitu sebagai salah satu instrumen pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan bukan sebaliknya sebagai tujuan akhir dari pembangunan. Pola pembangunan seperti inilah yang pada dasarnya menjadi pemicu timbulnya krisis ekonomi dunia. Krisis tentu saja buruk bagi semua, tapi masyarakat dan
negara miskin yang akan menjadi korban paling parah dari krisis tersebut.

Doktrin yang mengatakan bahwa kemakmuran hanya dapat diwujudkan melalui ekonomi pasar bebas telah menutup mata banyak negara bahwa sesungguhnya globalisasi tidak selamanya menghasilkan  kemakmuran, tetapi sebaliknya globalisasi berpeluang besar menciptakan kesenjangan dan kemiskinan yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah kehidupan manusia. Globalisasi ekonomi tidak saja berbahaya
karena dampaknya dalam menciptakan kemiskinan, namun lebih daripada itu globalisasi neoliberal sesungguhnya merupakan suatu kerangka ideologis yang dengan sengaja diproduksi untuk menciptakan imperialisme. Globalisasi ekonomi dikonstruksi untuk menciptakan kesenjangan dan ketergantungan setiap negara terhadap ekonomi negara maju.

Perputaran ekonomi dunia yang hanya dikuasai oleh beberapa negara yang memiliki kekuatan industri dan korporasi-korporasi besar, membuat ketergantungan itu menjadi semakin nyata. Ketergantungan itu tidak hanya nyata bagi semua masyarakat dunia, tetapi telah menjadi rasional, sehingga dominasi dibalik ketergantungan itu hampir bisa diterima sebagai suatu realitas. Negara-negara maju memanfaatkan ketergantungan dan kemiskinan di negara berkembang sebagai nilai tambah bagi perkembangan ekonomi di negara mereka. Akibat kemiskinan, negara maju dapat mengakses pekerja atau buruh di negara berkembang dengan sangat mudah dan murah.

Dominasi Korporasi
Globalisasi ekonomi yang sedang berlangsung saat ini menjadi bagian yang inheren dalam pembentukan imperialisme ekonomi dan politik oleh negara industri maju terhadap negara miskin terbelakang. Globalisasi ekonomi membuat penjajahan terhadap negara pinggiran menjadi semakin rapi, sistematis dan tanpa perlawanan berarti. Dominasi negara industri terhadap negara berkembang yang memiliki sumber daya berlimpah kembali terulang atau bahkan dominasi itu terus berlangsung tanpa jeda sejak era kolonialisme hingga masa globalisasi saat ini.

Keberadaan korporasi atau MNCs dalam struktur ekonomi global sering dikaitkan dengan fenomena menguatnya perdagangan bebas, pertumbuhan ekonomi dunia, maupun hilangnya hambatan-hambatan perdagangan lintas batas. MNCs adalah faktor penting yang mendorong terjadinya proses globalisasi ekonomi dunia menuju integrasi ekonomi yang tanpa batas. Peningkatan peran MNCs dalam ekonomi dunia
diikuti pula dengan massifnya ekspansi investasi yang tersebar di banyak negara. Sejak awal tahun 1970-an FDI yang berasal dari negara-negara industri meningkat tajam. Dalam bukunya Tantangan Kapitalisme Global, Robert Gilpin mengatakan bahwa Siasat Kapitalisme Neoliberal meningkatnya investasi lintas batas menimbulkan integrasi ekonomi-ekonomi nasional dan memicu perubahan bentuk alami investasi itu sendiri. Tidak seperti investasi terdahulu yang dominan dalam bentuk bahan mentah, seiring perkembangan
teknologi transportasi dan informasi, kini modal lebih banyak diinvestasikan dalam bentuk manufaktur dan jasa. Perubahan ini berarti menandakan bahwa telah terjadinya transformasi yang besar dalam dunia bisnis internasional.

Melalui buku ini, kita menyaksikan betapa jeratan kapitalisme neoliberal telah merusak sendi-sendi ekonomi
negara-negara dunia ketiga. Jerat globalisasi neoliberal hampir tak lagi bisa dibantah kehadirannya, namun bukan berarti jeratan itu tak dapat dilawan.

_________________________________

Sumber: Tabloid Kauman

Peresensi: Muhammad Irfan, pemerhati kajian globalisasi

Penulis : Zain Mmaulana
Judul : Jerat Globalisasi Dan Neoliberalisme