Demi Uang Rp 15 M, Pria Ini Mengaku Anak Soekarno-Soeharto
Penulis :
Penyunting :
1315    0

Dokumentasi Rima

TIMARU, RIMANEWS - Soekarno dan Soeharto tengah menjadi sorotan di Selandia Baru. Gara-garanya, seorang pria warga Negeri Kiwi itu mencatut nama presiden pertama dan kedua Indonesia tersebut untuk melakukan penipuan yang jumlah totalnya mencapai USD 1,7 juta (sekitar Rp 15,3 miliar).

Aksi tipu-tipu tersebut dilakukan terhadap para investor yang tergabung dalam kelompok North Ortego.  Karena itu, kemarin pria bernama James Lindon Graham tersebut divonis tiga tahun dua bulan di Pengadilan Distrik Timaru, kota pelabuhan yang berjarak sekitar 160 kilometer sebelah selatan Christchurch, kota terbesar kedua di Selandia Baru.

Seperti dilansir situs The Timaru Herald, Graham yang dipantau aparat keamanan sejak 2007 ditangkap di Bandara Auckland, Selandia Baru, pada Juli 2009 saat akan terbang dengan tiket one-way kelas bisnis ke Singapura. Setelah bebas dengan membayar uang jaminan di Pengadilan Christchurch, pria 68 tahun yang dikenal memiliki gaya hidup kelas jet-set itu ditangkap lagi pada 30 Oktober 2009.      

Karena pertimbangan usia, dia tidak ditahan. Sidang pertamanya yang dijadwalkan berlangsung April 2010 ditunda hingga November. Tetapi, kemudian ditunda lagi karena Graham memecat tim pengacaranya.
   
Akhirnya, sidang pertama diselenggarakan 11 Mei 2011 dan sempat rehat sejak Juli dan baru dimulai lagi Selasa lalu (28/9). Selama periode itu, Graham konsisten mengaku tidak bersalah atas semua dakwaan. Baru di saat-saat terakhir dia berubah pikiran dengan menyatakan bersalah.
   
Dalam menjalankan aksinya, Graham membual sebagai anak Soekarno hasil hubungan di luar nikah dan pernah hidup terlunta-lunta di Indonesia sebelum bersekolah ke Inggris. Pria kelahiran Dunedin, Selandia Baru, itu menyatakan memiliki akses terhadap aset Soekarno berupa emas bernilai antara USD 50 juta-USD 100 juta (Rp 450-900 miliar) yang disimpan di sebuah bank di Swiss.
   
Dia pun merayu korban-korbannya yang rata-rata warga sepuh yang kaya raya agar mengucurkan dana untuk pencairan aset tersebut. Janjinya akan mengembalikannya dengan nilai berlipat-lipat.
   
"Padahal, keluarganya memastikan, dia tak punya hubungan apa pun dengan Indonesia. Begitu uang dikucurkan, dengan segera terdakwa (Graham) akan meminta dana tambahan dengan alasan meningkatnya kebutuhan untuk pencairan aset," ujar jaksa Tim Gresson dalam sidang, seperti dikutip situs www.tvnz.co.nz.
   
Tingginya gaya hidup Graham bisa dilihat dari catatan perjalanannya. Selama 1997?2007, dia tercatat melakukan 115 penerbangan internasional dan kerap kali di kelas bisnis.
   
Ada sekitar 700 dokumen yang dijadikan barang bukti penipuan Graham. Dalam salah satu dokumen, dia mengaku tengah bekerja sama dengan seorang pengacara Indonesia untuk mencairkan aset milik Soekarno di Spanyol senilai USD 13,8 juta (Rp 45 miliar). Juga sebuah rumah di Christchurch berharga USD 3,6 (Rp 32,4 miliar) dan sebuah perusahaan di Oamaru senilai USD 800 ribu (Rp 7,2 triliun).
   
Barang bukti lain adalah sertifikat palsu yang menurut Graham dibelinya seharga USD 66 ribu (sekitar Rp 594 juta). Itu adalah Sertifikat Bersih Penipuan Internasional. "James Lindon Graham dengan ini dinyatakan tak pernah melakukan pencucian." Begitu penggalan bunyi sertifikat tersebut.
   
Diketahui pula, saat menipu para korban, dia mengobral janji bahwa begitu aset-aset tadi cair, selain membayar kembali pinjamannya plus bunga, dia juga akan membeli dua mobil Jaguar dan Crowne Plaza Hotel di Christchurch dan kompleks tetirah di Lilybank Station.
   
"Alasan saya membeli Lilybank Station adalah karena itu milik Soeharto," kata Graham seperti tercantum dalam salah satu dokumen yang dijadikan barang bukti.
   
Dia mengklaim, salah seorang anak Soeharto sudah mengizinkannya untuk membeli Lilybank Station. Dia juga mengaku sudah secara sah diadopsi sebagai anak oleh presiden yang lengser pada 1998 tersebut. [mam/jpnn]