SINGAPURA, RIMANEWS- Saham-saham di Asia terus melorot harganya pada pembukaan perdagangan Senin (22/8/2011). Seiring dengan penurunan tersebut, harga emas semakin naik.
Kekhawatiran lain bertambah, yaitu soal harga minyak, karena para pemberontak di Libya sudah memasuki Tripoli pada hari Minggu kemarin. Kubu pemberontak berhasil menguasai sebuah pangkalan militer di dekat Tripoli dan segera melancarkan serangan bertubi-tubi terhadap pemimpin Libya Moamar Kadhafi.
Kekacauan di Libya menambah kekhawatiran tentang pasokan minyak dan kemungkinan kenaikan harga minyak jika pasokan terganggu.
"Emas akan mencapai rekor lagi dan kecenderungan membeli obligasi tampaknya mengindikasikan bahwa secara umum para investor mengutamakan keamanan," ujar Michael McCarthy, Kepala Strategi Pasar pada CMC Markets di Sydney.
"Sementara harga saham terlihat mudah, kekhawatiran soal prospek perekonomian global akan menekan harga saham," katanya lagi.
Di Jepang, indeks Nikkei turun 0,1 persen, S&P Australia mendatas saja, indeks Kospi Korea turun 0,2 persen. Sementara indeks berjangka Dow Jones turun 53 persen pada perdagangan elektronik.
Merosotnya pasar saham serta keengganan investor menanggung risiko memberatkan euro, kurs euro semakin melemah. Sebaliknya, kurs yen kembali menguat terhadap dollar AS karena banyak yang berharap akan ada intervensi pasar setelah yen kembali menyentuh rekor sebesar 75,94 yen per dollar AS pada Jumat lalu.
Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko Noda menyatakan akan melawan setiap langkah spekulasi.
Para investor juga menantikan pidato Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke pada symposium tahunan Fed di Jackson Hole, Jumat ini. Credit Agricole menyatakan yakin bahwa ada kendala untuk melakukan quantitative easing 3, langkah bank sentral membeli aset perbankan dalam rangka menggerakkan perekonomian sehingga Bernanke diperkirakan akan mengungkapkan langkah lain untuk menjaga pemulihan ekonomi.
Harga emas yang mencapai rekor pada perdagangan Jumat lalu pada posisi 1.878,18 dollar AS per troy ounce.[ach/KCM]