MERDEKA ATAU MATI! Puisi-puisi "Heroik" Juftazani
Penulis :
Penyunting :
3101    0

                             MERDEKA  ATAU  MATI

kebanyakan pejabat merajalela kuras uang negara
rakyat terasing sendiri
tunggu mati!
pejabat     : merdeka!
rakyat: mati!

17 Agustus 2011




                Kepada Soekarno, Hatta, Syahrir

   
    bangunlah bung,
    lihat indonesia hari ini
    telah dilanda badai yang lebih dahsyat
    rakyat porak-poranda
    negara terhempas bencana
    kekayaan negara ditawan kolonial kesiangan
    digasak habis!
    hutan rimba, tambang dan bauksit, laut dan udara
    siapa punya?
    meniti indonesia hari ini
    meniti tanah-tanah retak
    rakyat kering kerontang
    lapar!
    busung!
    laaapaaar!


            Ciputat, 1 Juni 2008                        



            Membaca Indonesia

membaca indonesia kini
huruf-huruf tak jelas
tanah, air dan udara
penuh serigala yang menyamar
anak-anak miskin, pengemis dan pengamen
bergeletakan di jalan
konglomerat dan komprador tua
melayang-layang di atas tubuh-tubuh lapar
mereka terus menadahkan tangan
tapi tak ada yang peduli
akankah terbaca indonesia yang penuh mimpi?
masihkah indonesia berdiri detik ini?
lihat, bison dan serigala  dari ues-a
sedang mengais dengan belalai raksasa
berukuran 12 ribu kilometer
membaca indonesia kini
adalah membaca tubuh yang dihisap darahnya
pemimpinnya boneka-boneka tua!

            Ciputat 1 Juni 2008



                Andai


andai kau telah menjadi pejabat
masihkah peduli pada rakyat
o tuhaan!
adakah kau di negara pancakorup dengan lima sila
satu, ketidakhadiran tuhan yang esa
dua, kemanusiaan yang tidak adil dan tak beradab
tiga, kejayaan perwakilan rakyat yang tak mau peduli rakyat
empat, perwakilan dalam keabsolutan kekuasaan dan tidak ada musyawarah mufakat
lima, ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
pancasila telah diganti para koruptor dengan pancabencana
merdeka!

            Ciputat, 1 Juni 2008



    KAUM MUDA, PASTIKAN PERUBAHAN INDONESIA



indonesia ladang yang porak-poranda
sehabis disemai petani mancanegara
rakyat dipaksa membereskannya segera
bertahan dengan kekuatan ekonomi mereka yang teruji

indonesia lumbung padi yang diacak-acak
tikus-tikus pencuri
setiap tersimpan berton-ton padi
ribuan tikus datang malam hari
ketika rakyat sedang terlena mimpi

mungkinkah indonesia selamanya
terus-menerus seperti ini?
dipecundangi komprador licik
yang membonceng tuan rakus dari luar negeri
seperti kerap terjadi
selama 350 tahun kehilangan nyali

aku sudah muak dengan janji
aku bosan pemilu
untuk apa itu?
katanya untuk demokrasi
tapi yang berdemokrasi hanya kaum elit dengan
petinggi-petinggi pencuri
dari dalam negeri
atau luar negeri

muak aku  dengan kaum tua
yang pertama kali ketika menjabat presiden
hanya memikirkan trahnya
kroni-kroninya

hai pemuda
majulah ke gelanggang indonesia
yang sudah berantakan dan penuh penindasan
bebaskan bangsamu, rakyatmu
jangan hanya kau pikirkan keluargamu, trahmu,, kronimu,




pastikan dirimu
sebagai presiden muda
janjikan perubahan
janjikan kedamaian
bawalah indonesia ke gelangang  dunia
yang lebih bermartabat dan berwibawa
di tengah pancaroba
harapan
dan bencana

pagi ini
adakah seorang pemuda bangsa
memastikan perubahan indonesia?


            Ciputat, 24 Mei 2008      


    EMPAT PULUH MATA DEwA       

dua ratus dua puluh juta mulut menganga!
dua puluh taipan kencing
di atas wajah mereka dan melarikan dana BLBT
dan digantikan dengan BLT untuk mendidik
jiwa-jiwa pengemis dan korup dari kelas melarat

empat ratus empat puluh juta mata terbelalak
empat puluh mata dewa yang terlelap
menghitung dolar dan rupiah
yang terus bertelur dan berbunga

indonesia, lumbung kekayaanmu
indonesia, ladang uangmu
indonesia, bukan tanah airmu
indonesia tempat kau mengetam uang dari  punggung
dan tangan rakyat kami
indonesia tanah untuk menyemai kekayaanmu
dari busung lapar bangsa kami
kau simpan uangmu di singapura, swis dan bank-bank gelap
di luar negeri.

            Ciputat, 24 Mei 2008 


                
            
         I N D O N E S I A  (1)


             tanah yang tercabik-cabik
keserakahan
  dan
     kerakusan


                t i t i k !


               




                    22 MEI 2008



pagi bulan mei                                   
tanggal 12 2008               
seonggok uang tergeletak di meja koruptor


di seberang gedung bertingkat 30               
seorang anak dua tahun mati busung lapar
di sebelah kantor swasta
perusahaan ekspor impor minyak mentah
yang mengerjakan kartel minyak dari pertamina
seorang tukang bakso
mati bunuh diri
istrinya menggali kubur suaminya sendiri
dan juga menggali kuburan dua anaknya
yang mati diracun bapaknya
oh, indonesia!

        Ciputat, 22 Mei 2008    


              
              INDONESIA   (2)                    

                kapal pecah
                rakyat pasrah
                tengelam semua
                ya
                    sudah!
                biarin
                ngga,
                       apa-apa
                toh kita kan sudah pasrah
                nrimo ing pandum nang ALLAH!

                        Ciputat 20 Mei 2008 



                GEMA KAUM MUDA


sudah tiga dasa warsa burung-burung elang tak terbang tinggi
burung elang itu lebih mencintai pungguk
dari pada dirinya sendiri
terbang tinggi
mencari mangsa dari kerasnya angin dan sambaran halilintar

kini burung elang (yang pungguk) sangat takut halilintar
ia tak pernah terbang melawan arus
bulu-bulunya yang dulu kuat, kukuh dan berotot liat
kini mudah rontok, berbadan lemah dan berotot ayam sayur

mana gema suaramu kaum muda
aku ingin melihat gerak langkahmu
sepak terjangmu seperti dulu
di zaman belanda, masa jepang dan orde lama
otakmu pun kini agak berukuran besar
dari pemuda-pemuda dulu yang hanya 12,5 pon
apakah  otakmu sudah menjadi 25 atau 50 pon?

ah, kaum muda
ternyata lebih bercita-cita menjadi artis
daripada menjadi pelajar cerdas, berpribadi jujur dan
memikirkan masa depan bangsa, rakyat, negara dan agama

sudah empat dasa warsa kaum muda menjadi ayam babon
yang lebih suka ngantuk karena dicekoki narkoba
tak ada ada lagi pemuda nasionalis yang rela hidup sederhana
bercita-cita seperti tan malaka, sukarno, hatta atau  jenderal m.yusuf

dimanakah kaum muda yang berhati baja itu berada?
apakah sudah dimusnahkan semuanya oleh orde zaman kalabenda
o, nestapamu kaum muda
hidup di tengah hiruk-pikuk kaum borjuis kapitalis, feodalis berpendidikan modern
terhimpit oleh kerusakan moral yang sangat parah

aku yakin – masih banyak pemuda yang tak tersentuh penyakit zaman modern
tapi mereka menjadi bencong di tengah pesta pora kaum berduit
karena ketiadaan kepribadian yang berwatak kuat
kehilangan tokoh dan  tak memiliki wawasan serta kurang gigih bekerja keras

burung-burung elang
kembalilah ke habitatmu yang penuh perjuangan
rebutlah duniamu yang menantang
tinggalkan pungguk yang hanya merindukan benda-benda di langit
tapi tak mempunyai nyali untuk terbang ke sana
tidak seperti burung elang
yang mampu terbang ke mana pun ia mau
tapi di manakah burung-burung elang itu kini?


            Ciputat, 21 Mei 2008                                          



                  B E L E N G G U


                                         :yuri! yang tersisa hanyalah
                                          sukma manusia yang meng-
                                          gigil, menggelepar –  terko-
                                          yak-koyak hingga ke sobek-
                                          an terakhir.(Boris Pasternak)   
                                          
hari demi hari
mentari merobek cadar malam
riak sejarah ditelan gelombang revolusi
puluhan ruh berbaris putih
memimpin kawanan demonstran
runtuhkan bangunan kekuasaan
ditimbun keringat dan darah dari lembah
kemiskinan

kekuasaan terakhir telah menguncupkan
payungnya
tinggal massa terbelenggu
dalam prahara dan guyuran hujan salju
menggigil di bawah kungkungan topi baja
sangkur dan bayonet merobek kanvas
semesta
melukiskan pekik dan teriakan maassa
dalam genangan darah
dan airmata.


(refleksi revolusi 1917 atas
peristiwa Tiannanmen )

Pagendingan,Tasikmalaya 14 Desember 1989



              INDONESIA   (3)                    

        indonesia sekarang
        indonesia yang berdagang
        indonesia yang disumbat lumpur
        indonesia yang lamban
        indonesia yang terlambat
        indonesia yang terjepit gajah dan macan
        indonesia di tengah-tengahnya
        menjadi pungguk yang pandir!
       
            Ciputat, 1 Juni 2008                                  




                    KETIDAKADILAN

beribu kali aku tengadah di bawah pohonmu
tak sekalipun kau menjengukku, sekedar
memperlihatkan ketinggian dan halusnya bu-
di pekertimu. sekali waktu kau tergopoh  me-
nemuiku dan mendapatkan sepucuk surat me-
ngajak bermitra usaha, namun tiba-tiba    kau
robek surat itu. betapa jiwamu telah  diper-
mainkan harta benda yang melimpah-ruah,ba-
gaikan cermin berwajah ganda. ketika  kau
berkaca tergambar seorang raja yang  teramat 
mulia. tatkala aku yang berkaca, terpantul se-
sosok gelandangan yang teramat papa dan tak
punya arti apa-apa, bahkan lebih berarti seekor
anjing yang kau jamu di meja makanmu setiap
waktu!

                           Ciputat, Tangerang – 1997




Juftazani, lahir di Pekanbaru, 11 November 1960. Menulis sejak duduk di bangku PGAP dan PGAA Negeri Pekanbaru 1977 - 1980, lalu diteruskan di Yogyakarta ketika ia kuliah di Fak.Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 1981-1988 sampai meraih BA, Sarjana Muda. Menulis di berbagai media massa pusat dan daerah, dan antologinya tersebar di banyak antologi bersama
Selain menulis puisi, artikel budaya, dan sedikit cerpen,  ia juga menulis opini di berbagai media di Jakarta.