Saturday, 12 July 2014

Cari

Breaking News

Rizal Ramli: Motivasi Sri Mulyani Lakukan Bailout Century adalah Kekuasaan !

JAKARTA,RIMANEWS- Mantan Menko Ekuin Rizal Ramli PhD mengingatkan kembali  publik bahwa motivasi Sri Mulyani meloloskan bailout Bank Century Rp6,7 trilyun yang jadi skandal dan  bermasalah  bukanlah untuk cari uang bagi Sri, melainkan kekuasaan. Motivasi itu kini menonjol lagi dan terbukti dengan ambisi Sri Mulyani menjadi capres 2014. Kalangan Partai SRI harus ingat bahwa motivasi Sri melakukan bailout Century adalah kekuasaan, meski melanggar etika-moral dan melukai perasaan rakyat banyak.

''Dari kasus Century, nampak motivasi Sri Mulyani adalah kekuasaan,'' kata Rizal Ramli, tokoh nasional dalam dialog di Metro TV Rabu bersama Rocky Gerung dan Sugeng Sarjadi.

Rizal menekankan hal itu untuk mengingatkan kembali oersepsi publik atas skandal Century yang meibatkan Sri dan Boediono sebagai pelaku utama kasus memalukan itu.

.Sri Mulyani yang dikenal sebagai Srikandi Bank Century kini menjadi ‘bintang’ Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) dan dijadikan ‘ikon’ pemilihan presiden 2014. Bagaimana modal dan prospeknya?

Para analis menduga partai ini memiliki pendanaan yang berasal dari para pengusaha dan profesional domestik, serta berbagai kalangan asing yang diam-diam simpati kepada Sri Mulyani.

Bagaimana basis ideologi partai ini? Ideologi nasionalisme dan Neoliberalisme hampir pasti diramu dengan bahasa politik yang sedemikian rupa sebagai partai sekuler beraliran kebangsaan. Karena sudah pasti SRI bukan berbasis agama.

Kehadiran SRI mengejutkan karena mengundang kontroversi. Beberapa kalangan bahkan memplesetkan simbolnya partai itu yakni sapu lidi yang berfungsi ganda yakni untuk menyapu korupsi atau menyapu bangsa sendiri agar tunduk pada IMF/World Bank yang berwatak hegemoni?

Menang atau kalah tidak penting bagi partai SRI, sebab yang bernilai adalah upaya dan proses perjuangan bagi mereka untuk menggoalkan Sri Mulyani menjadi capres perempuan yang mumpuni menurut versi dan keyakinan partai SRI sendiri.

Ada baiknya publik dan masyarakat politik tidak ‘underestimate’ terhadap Sri Mulyani, perempuan besi (Iron Lady) yang berkarakter seperti mantan PM Inggris Margareth Thatcher,. Setelah berani mengkritik SBY, Aburizal Bakrie dan partai-partai besar, Sri Mulyani di mata publik makin dikenal artikulatif dan ekspresif serta memiliki irudisi yang tajam .

Dalam kaitan ini, karena dianggap bukan lawan berat, nampaknya Partai Golkar tak memandang Partai Serikat Rakyat Indonesia (SRI) yang mengusung mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai calon presiden menjadi sebuah ancaman.

Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar Bambang Susatyo berpendapat, Partai SRI tak akan mempengaruhi Golkar. Apalagi, lanjutnya, Sri Mulyani masih terganjal kasus Bank Century. “Bagi kita, siapapun berhak untuk mencalonkan dan dicalonkan. Hanya saja ada ganjalan bagi publik soal dugaan keterlibatan yang bersangkutan dalam kejahatan skandal Bank Century,” ungkapnya.

BPK dan DPR secara jelas menyimpulkan hal itu. Hanya tinggal pembuktian hukumnya di KPK. Dengan terbentuknya komisi etik independen diharapkan tabir gelap yang selama ini melindungi kasus Century dapat terkuak.

Jelas, pencalonan Sri Mulyani akan terganjal masalah ini. Ke depan, ia berharap, undang-undang yang mengatur tata cara dan prasyarat untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden harus jelas. Calon tidak boleh terkait potensi masalah yang kemungkinan besar bisa meledak di kemudian hari.

SRI sendiri,ungkap Rocky Gerung, Dosen Filsafat UI dan intelektual terkemuka partai baru ini, percaya kasus bailout Bank Century tidak akan menjadi penghalang Sri Mulyani maju di Pilpres 2014. Justru yang akan terjadi adalah kasus itu berpotensi dipakai pihak-pihak lawan untuk menganjal Sri Mulyani.

"Bukan terganjal, tapi persisnya akan diganjal dengan kasus Century. Diganjal itu dalam arti politis, bukan hukum," kata Rocky Gerung yang juga salah satu anggota Majelis Pertimbangan Partai SRI.

Rocky mengatakan, secara hukum, KPK menyatakan belum menemukan bukti-bukti keterlibatan Sri Mulyani dalam kasus bailout Bank Cantury Rp6,7 triliun pada 2008. Prinsip itu akan selalu dipegang SRI untuk menyokong pencalonan Sri Mulyani.

Yang pasti, pencalonan Sri Mulyani sangat memikat publik terutama kelas menengah. Karena bisa jadi Sri Mulyani menjadi pilihan alternatif, meski tidak harus menang. Bukankah soal kalah menang itu urusan belakang? Maju dulu, baru pikir kemudian. Ini soal konstestasi dan kompetisi yang mengandung misteri. [mdr/inilah)