Friday, 11 July 2014

Cari

Breaking News

Raden Sirait yang Gagap Menjahit

Tidak mudah menangkap gagasan seorang Raden Sirait setengah-setengah. Amat langka, perancang Indonesia berani membuka diri secara utuh dengan nilai-nilai tinggi spiritual ke dalam sebuah buku. Lima belas tahun di dunia rancang busana, Si anak Porsea mendedikasikan benang-benang cinta untuk sepotong kebaya. Demikian kesan yang termaktub dalam buku Journey of Love.

Buku ini lebih dari sekadar buku harian, catatan kegiatan, agenda harian, Raden Sirait menuju pengalaman karier dan petualangan jiwa yang sempurna. Melalui tulisan ini, pembaca tahu sisi lain Raden adalah pemerkaya spiritualitas.

Selama 73 hari ia bercerita tiap sekat dan tahap bagaimana proses kreatif sebuah pertunjukan kolosal pencampuran emosi dan pukau penonton seperti dalam theatrical haute couture. Ya, 31 Maret 2010 publik dibuat terpukau sekaligus bangga oleh pergelaran busana akbar dari maestro kebaya di Indonesia.

Sekitar 150 kebaya eksentrik karya Raden Sirait bicara ihwal kontemplasi panjang akan renungan, begitu ia gambarkan dalam rangkaian kalimat jujur apa adanya. Tak sedikit kepala yang bercita-cita ingin mempopulerkan kebaya hingga menembus kancah dunia. Keinginan adiluhung itu menggelora dalam mata batin seorang Raden Sirait.

Mengambil tema besar kebaya for the world, konsep metafora antara agresivitas dan rasa tradisional. Polaritas jiwa. Di sini Raden mencurahkan isi hatinya tentang cita-cita. Impiannya adalah kebaya suatu saat, melekat pada tubuh Angelina Jolie dan Sarah Jessica Parker. Lalu, headline media massa tertulis “selebritas dunia, melenggok dengan kebaya.” Sekali lagi, di sini Raden amat apa adanya.

“Saya mungkin hanya punya kesempatan kecil untuk bersaing dengan para perancang dunia dalam pembuatan gaun malam, tetapi mari kita rebut perhatian dunia melalui kebaya,” selenting gaya bahasa tutur yang Raden tulis. Raden Sirait bukan sekadar bercerita bagaimana seorang perancang busana melakukan proses kreatif. Ia berbicara tentang kekuatan mimpi, tentang bisikan hati dalam berbagai fungsi dan wujud yang ia butuhkan, sebagai pelajaran roda samsara bernama hidup.

Dari Journey of Love pula, orang tahu hal-hal yang tidak sepele soal Raden, misalnya tentang tak bisa menggambar dan menjahit pakaian. Pengakuan bahwa seorang designer tak menguasai ilmu dasar perancangan itu cukup mencengangkan. Waktu 15 tahun ia pilih untuk menjadi designer otodidak, pengikut bisikan hati nurani.

Penulis memaparkan rahasia metode penciptaan kebaya ajaibnya melalui teknik moulage. Raden bergumul langsung dengan manekin, kemudian menempelkan bahan-bahan imajinasinya di atas bahan dasar kebaya. Ibarat melukis, teknik “penggambaran” itu menjadikan kebaya Raden memiliki rasa emosional yang amat tinggi.

Dari secuil petualangan itu, pembaca akan tahu Raden adalah satu dari segelintir orang yang beruntung memunyai ketertarikan alamiah pada spiritualitas. Sesuatu yang hanya terjadi ketika orang sudah siap menyelam lebih dalam.

Sabda Raden, alam semesta akan segera berkonspirasi menata ulang dirinya untuk mewujudkan impian siapa pun juga yang berani memunyai impian dan mengejarnya dengan keyakinan teguh.

“Kini aku membuktikan hal itu, aku berani bermimpi untuk membuat pergelaran kebaya. Setidaknya, sampai saat ini impianku terwujud. Aku yakin, keseluruhan akan termanifestasi dengan sempurna apabila aku tetap fokus dan yakin kepada Tuhan Sang Pewujud segala impian,” tutupnya menyemat doa-doa.

______________________________

Sumber: Koran JakartaJudul : Jouney of Love, Impian Seorang Anak Porsea Menuju Panggung Dunia
Peresensi: Vina Iklima Idris
Penulis : Raden Sirait
Penerbit : Ufuk Press