JAKARTA, RIMANEWS- Kejujuran kian menjadi barang langka di negeri ini. Berbagai macam skandal korupsi dan yang lainnya merupakan bukti nyata bahwa kejujuran kian hari kian terkikis di bumi pertiwi ini. Bahkan, negeri Paman Sam yang selama ini dikenal memiliki standar ganda dalam percaturan politik dunia, masyarakatnya mungkin jauh lebih memiliki etika kejujuran dibandingkan negeri ini. Demikian diungkapkan tokoh Aktivis 77/78 , Muhammad Hatta Taliwang kepada RIMANEWS.
“Meskipun politik luar negeri AS dikenal penuh kemunafikan(standar ganda) dan sering mengorban rakyat negara-negara lain demi mempertahankan hegemoninya di seluruh dunia, tapi masyarakat AS sendiri sering menampilkan wajah kemanusiaan dengan segala nilai moral yang mereka anut,” ungkapnya
Hatta memberi contoh kasus pelecehan seksual yg dilakukan direktur IMF, Starauss-Kahn, proses hukumnya begitu cepat dan tidak ‘digoreng-goreng’ dulu.Bahkan ketika yang bersangkutan dibawa ke pengadilan, ramai-rami teman si pelayan hotel yang menjadi korban berdemo di pengadilan, sebagai bentuk solidaritas dan itu tentu didorong oleh nilai nilai moral yang mereka anut. Tidak peduli bahwa tokoh yang mereka demo itu belum terbukti bersalah di pengadilan dan itu menyangkut bakal calon presiden Prancis.
Di suatu forum, lanjut Hatta, tokoh Katolik Frans Magnis Soeseno, juga pernah mengemukan kerisauannya tentang sikap koruptor yang sudah dipidana di Indonesia tapi tetap ‘cengengesan’ seraya membela diri di depan kamera bahkan menceramahi pemirsa,
Menurut Hatta, ada ironisme yang terjadi ditengah masyarakat kita. Di satu sisi masyarakat kita tetap 'manis' menerima koruptor, tokoh, ataupun selebritis yang cacat moral untuk menjadi presenter, cabup,cagub bahkan capres. Di sisi lain masyarakat begitu sadis terhadap maling jemuran atau copet yang terkadang dibakar hidup-hidup.
“ Terakhir kita menyaksikan orang tua AL yang membongkar kasus nyontek massal di sebuah SD di Surabaya. Bukan mendapat penghargaan sebagai pejuang pendidikan kejujuran tapi malah dikeroyok oleh orang tua murid lainnya dan dicap sebagai 'pengkhianat yang mempermalukan sekolah'.Tragis sebuah lembaga pendidikan dasar menginvestasikan nilai-nilai kebobrokan. Inikah realita masyarakat yg sakit parah itu? Lalu mau ke mana bangsa ini melangkah?,” tandas Hatta Taliwang.[ach]