Friday, 11 July 2014

Cari

Breaking News

Sistem e-serve untuk BBM Bunker

Taicing : Terobosan e-serve ini mempermudah monitoring pembayaran dan historical pembelian periode tertentu.

Selat Malaka masih menjadi lalu lintas pelayaran yang sangat sibuk, sehingga terdapat potensi pasar BBM bunker yang masih sangat besar. Suplai BBM bunker untuk kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka sebagian besar dilayani oleh Singapura. Pada 2009 saja Singapura mampu membukukan penjualan BBM bunker sebesar 36.4 Juta MT. Bayangkan berapa keuntungan yang berhasil diraih dari pasar ini.

Selain itu, ada pula potensi pasar BBM bunker untuk kapal-kapal yang beroperasi di wilayah perairan Indonesia. Sebagai contoh adalah kapal-kapal pengangkut batu bara, CPO, berbagai hasil tambang seperti bijih besi dan emas. Juga tanker crude oil, produk kilang dan kontainer dengan rute luar negeri. Selama ini kapal-kapal tersebut hanya melakukan topping up atau bahkan sama sekali tidak melakukan pengisian BBM bunker di Indonesia

Untuk mempermudah transaksi, Pertamina lantas memperkenalkan sistem e-serve untuk mempermudah transaksi bagi para pelanggannya. Sistem e-serve tersebut sudah mulai dilaksanakan sejak Selasa, 3 Agustus 2010 yang lalu. ”Kami berusaha memberikan nilai tambah bagi pelanggan yang membeli produk-produk Pertamina,” kata VP Pemasaran Industri Marine PT Pertamina (Persero), Hariyoto Saleh.

Dijelaskannya, dengan adanya e-serve maka akan memudahkan monitoring pembayaran dan historical pembelian dalam periode tertentu. Melalui sistem ini Pertamina bersama pelanggan dapat melakukan monitoring outstanding pembayaran yang belum due date maupun over due date. Sistem ini juga memungkinkan pelanggan untuk menerima invoice dari Pertamina dengan segera tanpa ada yang terlewat.

Pertamina sendiri saat ini mempunyai berbagai varian produk mulai dari HSD/Marine Gas Oil, MDF sampai dengan minyak bakar MFO 180. Hampir semua produk tersebut diproduksi oleh kilang yang dimiliki dan dioperasikan Pertamina. Selain produk-produk yang sudah ada, Pertamina juga terus berusaha memenuhi kebutuhan pelanggan akan produk dengan spesifikasi khusus.

Selaras dengan komitmen Pertamina untuk selalu melakukan inovasi, maka saat ini sudah dikembangkan pula dua produk baru, yaitu MFO 380 cst (dengan viskositas yang lebih kental dari MFO 180 cst)  di RU IV Cilacap dan MGO 5 (varian HSD dengan pour point yang lebih rendah dari -6ºC) di RU 5 Balikpapan. MFO 380 cst diproduksi Pertamina terhadap renspon pasar atas kebutuhan produk yang lebih efisien. Saat ini telah tersedia pula MFO 380 cst di beberapa lokasi suplai yaitu Dumai, Cilacap, Balikpapan dan Tanjung Priok.

Khusus untuk Tanjung Priok, fasilitas penimbunan dan penjualan MFO 380 cst telah tersedia sejak bulan Juli 2010 lalu, dengan dua tangki super berkapasitas 10 ribu KL.

Produk MGO 5 yang sesuai standard ISO 8217 tahun 2010 tipe DMA, saat ini diproduksi untuk memenuhi kebutuhan lima kapal LNG yang dioperasikan oleh BP Berau Ltd. MGO 5 ini memiliki karakteristik yang hampir milip dengan HSD, hanya saja MGO 5 memiliki spesifikasi pour point yang lebih rendah dari (-6º) celcius dan sulphur content pada kisaran 700 s/d 800 ppm.

Pertamina memiliki channel distribusi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan moda suplai yang bermacam-macam. Selain itu, Pertamina juga sudah lebih fleksibel dalam proses pembelian BBM maupun dalam hal fasilitas yang berkaitan dengan financial untuk transaksi jual beli BBM. Pertamina telah memberikan fasilitas kredit secara selektif kepada beberapa pelanggan dengan SKBDN sebagai jaminan kredit.

Harga yang diberikan Pertamina juga lebih kompetitif, dengan telah diberlakukannya diskon berjenjang sesuai dengan volume penebusan BBM oleh pelanggan. Untuk mempermudah proses pembayaran, Pertamina telah mengaplikasikan sistem host 2 host. Dengan fasilitas tersebut, pelanggan dapat  melakukan penebusan BBM di seluruh depot/terminal transit/ instalasi Pertamina yang tersebar di Indonesia hanya dengan cara melakukan pembayaran di Bank persepsi yang dekat dengan head office pelanggan. Sehingga sekarang tidak diperlakukan lagi pelanggan yang harus mentransfer sejumlah penebusan BBM ke kantor cabang di lokasi pengambilan BBM.

Berkaitan dengan operasi pelayanan BBM bunker melalui transfer secara ship to ship, Pertamina telah meluncurkan pula ”service & quality improvement program” yang disebut Bunker Pertamina Way. Program ini adalah salah satu bentuk standarisasi kepada mitra kerja Pertamina untuk jaminan Q & Q BBM Bunker. Di dalam program Bunker Pertamina Way, Pertamina mensyaratkan dipenuhinya standar-standar international dalam operasi suplai secara STS serta sarana dan prasarana yang digunakan untuk suplai.

Secara prinsip, program Bunker Pertamina Way itu terdiri dari lima pilar pokok :

(1)   Staf yang sudah terlatih dan bermotivasi tinggi untuk mengawal kegiatan operasi bunkering.

(2)   Peralatan dan fasilitas yang terawat dengan baik.

(3)   Produk dan pelayanan yang selaras dengan strategi Pertamina.

(4)   Format fisik yang konsisten sesuai strategi pertamina.

(5)   Kualitas dan kuantitas produk BBM yang terjamin.

Dalam rangka mendukung mitra kerjanya, Pertamina berkomitmen untuk membantu pengembangan bisnis mereka. Salah satu upaya yang sedang dilakukan pertamina adalah mengupayakan fasilitas pembebasan PPN 10% untuk BBM yang dijual kepada kapal-kapal ocean going.

”Untuk mitra kerja diharapkan juga menyiapkan sarana dan prasarana layanan suplai BBM bunker, sehingga apabila nanti harga BBM Pertamina sudah sangat kompetitif dengan pasar BBM negara lain maka kita bersama-sama sudah siap berkompetisi dalam hal operasi layanan suplai BBM bunker yang excellent,” kata Hariyoto.

Diharapkan dengan kerjasama yang sangat baik berbagai pihak, mulai dari pelanggan, mitra kerja dan para general agent dalam mengenalkan BBM dan fasilitas layanan suplai BBM bunker, maka pada masa yang akan datang Indonesia akan dikenal sebagai salah satu supplier BBM bunker kelas dunia. Pada akhirnya ini bisa memberikan manfaat kepada semua pihak yang terlibat dalam operasi suplai  BBM bunker dan secara umum dapat meningkatkan kesejahteraan bangsa. []Iwan Sams