Wednesday, 16 April 2014

Breaking News

Rizal Ramli: Saya Tidak Malu Punya Istri China !

Oleh Linda Djalil, mantan wartawan Tempo

Kata-kata itu pernah diutarakan Menteri Ekonomi era Gus Dur berkali-kali, Rizal Ramli, khususnya saat ia berkampanye sebagai calon presiden Indonesia. Istrinya, si cantik Siaw Fung (Afung) yang bernama Indonesia Mariani senyum-senyum mendengar pernyataan sang suami. Afung memang belum lama menjadi istri Rizal Ramli. Seorang janda yang sudah belasan tahun hidup sendiri ini dipersunting oleh Rizal Ramli setelah pria ini ditinggal meninggal oleh Hera, istrinya. “Istri saya kan Cina Bangka”, ujar Rizal dengan senyum enteng sambil memperkenalkan Afung. Berkuning langsat, bertubuh mungil, Afung memang wanita keturunan Cina yang cantik dan periang. Rekan-rekan politik sang suami hampir tak pernah tidak disapa hangat. Saat menjamu mereka berkali-kali di rumahnya atau mengundang berbuka puasa, Afung sendirilah yang turun tangan memasak. Enaknya luar biasa. Afung hobi memasak bermacam ikan. Ada yang dikukus, ada ikan blado, ada ikan pepes, semua dimasak bagai layaknya koki profesional. Rizal Ramli pernah mengakui bahwa ia menikmati hidangan tiap hari dengan seru sekali. “Kan cinta mengalir dari mulut dan perut,” katanya suatu kali kepada saya dengan tawanya yang berderai-derai. Wajah Afung merah semu sambil biasanya tangannya memeluk dan mencubit-cubit lengan sang suami.

Saya melihat kemesraan mereka beberapa tahun ini tak bergeser sedikitpun. Afung punya jadwal harian selalu membersihkan wajah Rizal. “Saya jadi tukang facial deh. Lihat tuh muka suamiku, sekarang bersih, licin, bersinar, hahaha..!”, ujar Afung. Rambut rapi, kemeja rapi, itulah penampilan Rizal Ramli dibuat oleh Afung. Dan mata wanita China Bangka ini selalu bagai tak berkedip bila memandang suaminya. “Afung sangat mencintai mas Rizal…, apa-apa harus untuk mas Rizal duluan. Dia lebih mementingkan suaminya dari dirinya sendiri,” ujar salah satu saudara perempuan Afung sore tadi.

Ya, sore tadi,  Selasa 1 Maret 2011 ini, saya berjam-jam ikut duduk menunggu di ruang jenazah Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta. Afung terbujur kaku. Ia menghembuskan nafasnya terakhir pukul 3.55 siang di ruang ICCU. Rizal Ramli pagi-pagi sekali sudah mengirimkan SMS ke saya. Afung sulit bernafas, kankernya sudah sampai ke paru-paru. “Kenapa mas Rizal tidak kasih tahu saya selama sebulan ini Afung keluar masuk rumah sakit?”, protes saya di telepon. Pantas saja, beberapa kali SMS saya kirim sejak beberapa minggu ini, tidak pernah ada respon. Biasanya, meski Afung sedang di luar negeri sekalipun, ia tak lupa membalas. Anehnya, karena kangen kepada Afung, kemarin malam saya pandangi foto saya yang berdua dengannya. Entah mengapa, lama sekali saya melihat foto itu. Ada rasa aneh memang, tapi entah apa saya tidak tahu…

Saya memasuki ruang ICCU setengah jam setelah Afung ‘pergi’. Wajahnya yang mungil cantik, hidung yang bangir dan pipi licin bagai pualam itu masih hangat. Duh, Afung, sebegitu cepatnya kamu pergi. Hillanglah satu lagi teman baikku yang begitu rendah hati, kocak, centil dengan mata selalu berbinar-binar bila sudah bercerita tentang suaminya…, dan cerewet sekali.

Tak ada yang menyangka Afung mengidap penyakit serius sejak lama. Kecerahan bahasa tubuhnya, ramainya ia bicara, gesitnya, semua membuat orang ‘tertipu’. Dikira orang ia sehat-sehat saja. Lima tahun lalu ia pernah sakit kanker yang kemudian sembuh. Baru dua bulan terakhir ini muncul berbagai penyakit yang tidak diduga sebelumnya bahwa ini adalah ‘terusan’ penyakit seram yang itu-itu juga yang pernah ia peroleh zaman dulu.

Afung tahun lalu mengumpulkan sekitar 30 teman-temannya untuk membuat semacam arisan yang bermanfaat. Tiap wanita yang menjalankan profesinya bisa bertukar pengalaman, bertukar jualan produk dan saling tukar informasi. Saya, yang biasanya paling tidak pernah berminat ikut arisan, kali ini saya tertarik mengikutinya. Di rumah Afung yang asri dan luas ia pernah memestakan ulang tahun dirinya, sambil mempersilakan grup ini berjualan apa saja dengan membuka stand khusus di halaman belakang samping kolam renang. Tenda-tenda sudah disediakan. Musik disediakan. Makanan di atas meja yang panjang sekali itu juga tersedia, atas ketrampilan Afung memasaknya sendiri. Dari sekian jenis masakan, lagi-lagi ada aneka ikan ini, ikan itu,  yang bentuknya aneh-aneh, dan  lezatnya luar biasa.

Rizal Ramli berkali-kali tadi di RSPI mulai dari ruang tunggu ICCU sampai kamar jenazah mengusap air mata. Kemeja biru kotak-kotak kecilnya sudah mulai lusuh. Celana yang juga kusut tampak menjadikannya tambah muram. “Afung selalu mendandani saya. Dari dialah saya mulai mencoba memakai celana dari bahan wool. Biasanya saya nggak pernah mau,” kata Rizal Ramli. Saya mencoba mengalihkan kesedihannya dengan mengobrol ini-itu. Sebelumnya, Buyung Nasution yang menemaninya ngobrol. “Afung sehari-harinya olah raga apa sih mas?” tanya saya. “Kamu mau tahu? Itu lho Lin, olah raga berbelanja ke pasar tradisional”, ujar Rizal Ramli sembari senyum mengenang keindahan itu. Afung yang hobi memasak tentu hobi pula berburu bahan-bahan masakan di pasar. “Seringkali dia pergi naik bajaj, hanya karena ingin cepat dan menembus kemacetan”, cerita Rizal Ramli tadi. Saya bayangkan mobil-mobil yang berderet di garasi, sang nyonya tetap saja pergi naik bajaj. Duh, Afung!

Lalu, apa yang menyebabkan laki-laki ini  jatuh hati dengan segera kepada Afung? “Dia kan dulu dekat dengan Gus Dur dan keluarganya. Saya juga lumayan dekat. Lalu kami berkenalan, suatu saat dia mengundang saya makan di rumahnya. Cerita panjang lebar, tentang hidupnya yang berat di masa lalu, tentang kepahitannya, tapi semua diceritakan tanpa beban. Riang, enteng, dan ia tabah sekali,” cerita Rizal Ramli. Seketika respeknya terhadap wanita ini muncul. “Hidupnya yang seram dilalui dengan gembira. Dan tidak dengan nada mengeluh. Saya diam-diam memuji orang ini. Ngapain kan kita dengar cerita orang yang berat-berat kalau diri kita sendiri juga sudah penuh problem? Saya jatuh hati…”, ujar Rizal Ramli lagi. Afung memang pekerja keras, gigih, dan tak mengenal malu melakukan pekerjaan halal apapun. Ia pernah bercerita kepada saya, sejak kecilh hidupnya bertahun-tahun adalah mengemas gula pasir di plastik-plastik untuk dijual lagi oleh orang tuanya di warungnya. “Tiap pulang sekolah, itulah pekerjaan saya,” katanya. Lalu saat ia masuk kota Jakarta, Afung merasa betul-betul orang kampung yang baru mengenal kota besar. “Saya bingung sekali waktu itu. Tapi saya tidak mau putus asa,” katanya. Iapun gigih berdagang segala rupa. Barang kelontong, baju-baju, sampai akhirnya Afung menjadi pedagang berlian. Setelah ia menikah dan gagal, sebagai orang tua tunggal belasan tahun, Afung jungkir balik menyekolahkan anak-anaknya dengan ketabahan yang luar biasa.

Rizal Ramli tentu tak mudah lupa, bagaimana Afung begitu merawat sang suami dengan rapi. Tentang membersihkan muka ‘ala facial di salon’ diakui oleh Rizal Ramli. “Memang begitulah salah satu  cara Afung menyayangi saya”, ujarnya. Maka, wajah ‘Einstein’ yang dikomentari oleh salah satu putri Afung sudah tak ada lagi. Rizal Ramli mendadak rapi ! Saya terenyuh mendengar cerita Rizal Ramli tadi. Di tengah kedukaannya ia masih bisa mengenang yang serba manis dan indah, dan diceritakannya kepada saya. Sebetulnya soal mulai jatuh hati kepada wanita Cina Bangka ini sudah pernah pula ia ceritakan di depan para tamunya, saat ia merayakan pesta ulang tahun di rumahnya. Saya ingat, ia pernah berkata kepada Afung di depan banyak tamu, “Terima kasih Afung, yang sudah membuat saya bahagaia sepanjang hari terus menerus”. Dan kata-katanya disambut dengan air mata Afung yang mengalir sambil mencium pipi sang suami dengan haru.

Afung tadi didandani cantik sekali. Seumur-umur baru kali inilah saya melihat proses pendandanan jenazah. Dan cara umat Kristiani berucap kesan, pesan, dan doa di depan yang sudah wafat. Semua baru bagi saya. Gaun Afung  yang putih berenda menurut salah satu kerabatnya, adalah baju pengantinnya dulu saat bersanding dengan Rizal Ramli. Sebelum tangannya disarungi, saya masih melihat jarinya yang lentik dan kuku-kukunya yang panjang dan terawat rapi. Duh Afung, seakan-akan tadi saya masih mendengar suara celotehanmu yang seru dan centil nonstop itu sebagaimana biasa.

Semua diurus oleh saudara-saudara Afung yang keturunan Tionghoa itu. Rizal Ramli hanya terduduk diam. Pemilihan peti mati putih sepenuhnya oleh kerabat Afung. Pria keturunan Sumatra Barat yang tangguh, yang selalu ingin berjuang bagi negeri ini, yang masih punya segunung mimpi bersama wanita ‘Cina’ nya… dan lagi-lagi masih terngiang pula bagaimana seorang aktivis kawakan ini berkata lantang di muka umum, “Saya tidak malu punya istri Cina!”.

Tabahlah Rizal Ramli….. karena Afung , di usianya yang ke 47 tahun sudah kembali ke hariban Sang Pencipta. Dengan damai. Dan dengan kesan yang sungguh indah selama ini… bagi sang suami, bagi saya, bagi teman-temannya yang lain, bagi saudara-saudaranya, dan anak-anaknya yang selama ini pula diasuh, diasah, dan dicintai sepenuh hati olehnya….

Afung… saya tidak bisa lagi deh menikmati masakan ikan segala rupa hasil ramuanmu……. ! Tolong dia ya Tuhan… pasti KAU maha tahu betapa Afung selama ini sudah menjalankan kewajibannya dengan penuh cinta yang begitu luas bagi sesama…, terutama karena dia sudah berkali-kali masak ikan yang super lezat untuk saya….