Thursday, 10 July 2014

Cari

Breaking News

Pergolakan Timur Tengah: Desain AS bagi Israel Raya?

KAIRO, RIMANEWS- Sejak meletusnya bentrokan antara Israel dan Partai Hezbullah Lebanon, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Condoleezza Rice dua kali menuju kawasan Timur Tengah untuk mengadakan penengahan. Yang patut diperhatikan ialah Rice tidak mendesak Israel menghentikan aksi militer dan juga tidak setuju untuk segera melakukan gencatan senjata, melainkan mengemukakan konsep apa yang disebut " Timur Tengah Baru ". Apa perbedaan " Timur Tengah Baru " itu dengan " Rencana Timur Tengah Raya " yang dikemukakan AS sebelumnya? Dan mengapa AS mengemukakan konsep tersebut ?

Setelah terjadinya peristiwa " 11 September ", terorisme internasional menjalar luas. Untuk memukul terorisme, AS mempertimbangkan rencana perubahan demokrasi Timur Tengah Raya sebelum dan sesudah Perang Irak tahun 2003, rencana itu dikemukakan secara resmi oleh Presiden George W. Bush dalam pidato kenegaraannya pada tahun 2004. Hakekat rencana itu adalah " mengubah " Timur Tengah dengan cara " demokrasi " dan mewujudkan " perdamaian di bawah pimpinan AS " di Timur Tengah, guna menjamin strategisnya dan kepentingan minyaknya di Timur Tengah.

Untuk mendorong pelaksanaan rencana itu, AS mencoba mengambil Irak sebagai contoh baru demokrasi di Timur Tengah. AS pertama-tama menggulingkan kekuasaan Saddam, kemudian mendukung kekuasaan politik baru yang pro-AS, namun demokrasi formal tidak berhasil menghatasi kontradiksi antar berbagai faksi dalam pemerintah Irak. Sejauh ini, situasi Irak tetap goncang, konflik antar berbagai faksi agama terus meningkat, kekuatan bersenjata anti-AS terus memicu kekacauan, sehingga AS terjerumus dalam kubang lumpur Perang Irak. Hanya Irak saja sudah membuat AS kewalahan, apalagi mengubah Iran dan Suriah yang dipandang AS sebagai " duri dalam mata ", rencana " Timur Tengah Raya " AS itu mengalami kegagalan berat karena itu.

Baru-baru ini, meletusnya krisis Lebanon-Israel lebih memperburuk situasi Timur Tengah yang semula sudah kacau balau. AS tidak saja membiarkan Israel memperluas api peperangan, tetapi juga secara terang-terangan menveto resolusi Dewan Keamanan (DK) yang menuntut Israel melakukan gencatan senjata. Sebabnya ialah, bagi AS, krisis Lebanon-Israel telah menyediakan suatu " kesempatan yang baik " untuk menghidupkan " Rencana Timur Tengah Raya ". AS mengharpkan bentrokan Lebanon-Israel membawa suatu Timur Tengah baru yang berbeda dengan sebelumnya, yaitu apa yang disebut Rice " Timur Tengah Baru ".

Menurut rancangan " Timur Tengah Baru ", AS berkeinginan mewujudkan tujuannya untuk " memukul Partai Hezbullah, memperlemah Suriah, mengisolasi Iran " melalui Israel, dan menyingkirkan rintangan utama dalam uapaya merealisasi " Rncana Timur Tengah Raya ". AS berpendapat, pemukulan Israel terhadap Partai Hezbullah selain dapat secara tak langsung memperlemah Suriah dan Iran, menyediakan lingkup yang lebih luas baginya untuk menangani persoalan Iran, tetapi juga dapat mengintensifkan kekuatan pro-Barat dalam tubuh Lebanon, sehingga akhirnya mengubah konfigurasi politik semula. Oleh karena itu, Presiden AS, George W. Bush baru-baru ini menekankan, " Bentorkan Lebanon-Israel merupakan peluang untuk melaksanakan reformasi besar di Timru Tengah, tapi untuk mengubah negara yang mengalami pemerintahan tirani selama puluhan tahun itu diperlukan waktu tertentu. Biar bagaimanapun, hasil terakhir akan menimbulkan pengaruh yang mendalam kepada AS bahkan seluruh dunia."

Mengenai hal itu, analis menunjukkan, rancangan " Timur Tengah Baru " sebenarnya sama halnya dengan " Rencana Timur Tengah Raya ", tapi merupakan suatu langkah penting dari " Rencana Timur Tengah Raya ". Banyak tokoh pemikir termasuk Ketua Komite Hubungan Diplomatik Pemikiran Washington, Richard Haass menunjukkan kekhawatirannya bahwa sikap AS yang selalu bersikukuh mendukung Isreal tanpa mengindahkan opini umum internasioanl tidak saja akan menambah perselisihannya dengan dunia Arab, tetapi juga akan dijauhi oleh sekutu Eropa bahkan seluruh dunia. Sampai saat itu, AS akan semakin terisolasi.

Bergolaknya Timur Tengah; Realisasi Israel Raya

Pergolakan yang terjadi di beberapa negara di Timur Te¬ngah seperti Tunisia, Mesir, Aljazair, Libya, Yaman hingga ke Bahrain dan Iran, sesungguhnya membuat Amerika Se¬rikat ketar-ketir dan menjadi dilema besar dalam mengekspor demokrasi dan HAM sebagai ‘dagangan’ ala AS, namun di sisi lain ingin tetap men¬jaga kekerabatan dengan para diktator yang di semenanjung Arab.

Karena diktator di kawasan Arab itu menjamin eksistensi AS di Timur Tengah. “Kalau AS me¬-maksakan demokrasi tapi me¬nimbulkan kekacauan dan instabilitas, maka akan sangat menggangu AS dan sekutu Ba¬ratnya di Timur Tengah,” kata Smith Alhadar.

“Makanya mereka serba salah. Justru sebenarnya Amerika punya pengaruh negatif sehingga membuat masyarakat bergerak. Sebenarnya, rakyat menuntut demokrasi karena kejenuhan, kemiskinan dan harga pangan yang tinggi. Tidak ada pengaruh AS dalam gerakan ini. Kebosanan masyarakat itulah yang mendorong mereka,” tuturnya.

Situasi di Bahrain, markas armada ke-5 Angkatan Laut AS, menumpuk rasa kekhawatiran Washington. Di Yaman, polisi dan pendukung pemerintah juga sedang menghadapi tiga ribu pengunjuk rasa yang ingin Presiden Ali Abdullah Saleh turun. Unjuk rasa ini telah berlangsung selama lima hari terakhir.

Yaman adalah partner penting AS di kawasan untuk memberantas jaringan terorisme yang dirangkai kelompok militan Al Qaeda. Pentagon berencana meningkatkan latihan satuan pasukan antiteror Yaman untuk menekan Al Qaeda Semenanjung Arab (AQAP). Saleh merupakan salah satu tokoh penting yang bisa menyatukan suku-suku di Yaman.

Seperti Tunisia dan Mesir, kemiskinan dan kompleksitas suku juga menjadi isu utama di negara ini. Kontras dengan kehidupan relatif makmur ala Barat, yang disimbolkan dengan jajaran pusat perbelanjaan dan kedai kopi di Ibukota Bahrain, Manama. Sayangnya, Bahrain sendiri juga dipenuhi dengan ketimpangan kelas sosial.
Di Jordania, ratusan anggota suku Badui setempat memblokir jalan dan meminta pemerintah mengembalikan tanah yang mereka miliki. Sementara aktivis di Arab Saudi berusaha membentuk partai politik, upaya untuk melawan kekuatan monarki yang nyaris absolut serta pro-Barat.

Setelah Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali digulingkan, AS juga kehilangan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Keduanya merupakan tokoh penting yang mendukung sejumlah misi Amerika. Sayangnya, Amerika juga selalu memilih bersekutu dengan para pemimpin Arab yang bergaya diktator.

Sebagai perbandingan, lihat saja Iran. Presiden Mahmoud Ahmadinejad dikenal sebagai satu-satunya pemimpin Timur Tengah yang paling berani menyuarakan anti-Amerika. Negaranya juga dilanda gelombang unjuk rasa. Ahmadinejad tak kekurangan akal, ia menyatakan pengunjuk rasa antipemerintah adalah pengkhianat bangsa.

Dengan terpecahnya negara-negara di Timur Tengah justru semakin memudahkan AS, zionis Israel dan sekutunya merangsek masuk dengan memasarkan paham ‘bathil’ ala demokrasi dan HAM yang utopia, berstandar ganda dan anti-Islam.

Mungkinkah Konspirasi Membangun Israel Raya?

Revolusi islam akankah menampakkan kegemilangan? Ataukah skenario babak belurnya jazirah arab terjadi karena grand design yahudi demi memuluskan ambisinya membangun Greater Israel atau Israel Raya?

Penulis dan aktivis islam yang sempat aktif di Sabili, Herry Nurdi bahkan menuangkan ide, gagasan, analisanya mengenai The Greater Israel ini, menurutnya, Gerakan Zionis masih terus menjadi musuh Islam. Dengan dukungan negara Barat, terutama Amerika dan NATO, dan bahkan diktator dari kalangan sekuler Arab sendiri, kini Israel saat ini terus melancarkan keinginannya mengubah peta di kawasan Timur Tengah, melalui peta baru itu negara Yahudi hendak menguasai kawasan Timur Tengah.

Tanda-tanda rencana ‘Israel Raya’ itu sudah semakin nyata. Lihat saja Irak yang diserang dengan alasan fiktif, Dubai semakin sekuler, Makkah dirangsek oleh bank konservatif dan sudah menguasai kerajaan Arab Saudi, Tunisia dan Mesir mulai ambruk hingga menulari tetangganya mulai Libya, Yaman, Aljazair dan Bahrain.
Sebelum bergolaknya semenanjung Arab ini, masalah sepertiPembangunan batas permanen, perluasan pemukiman, pengepungan Jerusalem, dan pencurian air memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Semua itu berjalan mulus dan lancar karena terselubungi oleh masalah-masalah yang sebenarnya tidak signifikan. Masalah-masalah yang direkayasa oleh Israel untuk mengalihkan perhatian dunia internasional dari apa yang sebenarnya terjadi.

Tahun 2010 hanyalah rencana transisi saja. Visi Israel yang sebenarnya adalah seperti gambar bendera nasionalnya: bintang David di antara garis biru atas dan bawah. Hal itu berarti men-Zionis-kan wilayah-wilayah di antara Sungai Nil dan Eufrat. Itulah Eretz Yisrael (Israel Raya).

Inti ‘Israel Raya’, menurut Herry Nurdi, adalah hendak menguasai dunia dengan membentuk negara Israel Raya yang ditargetkan paling lambat 2012. “Jadi bagai memakan kacang, jika kacang-kacang yang bagus sudah habis, maka kacang yang jelek pun akan dikupas. Demikian pula dengan Zionis. Maka perlu kewaspadaan tinggi,” ujar Herry Nurdi.

Akankah hal ini menjadi kenyataan? Semoga Allah membantu kaum muslimin dan membangunkan jiwa ksatria singa yang lama tertidur, kiranya Allah Azza wa Jala membangkitkan semangat juang di dalam dada kaum muslimin karena hal ini telah terbukti menjadi penangkalnya, sebagaimana Rasulullah telah mempraktekannya. (berbagai sumber)