Sunday, 13 July 2014

Cari

Breaking News

Novel Baru tentang Sepakbola Anak

Dalam pertandingan sepak bola, kadang kita menerima kekalahan. Tapi kekalahan itu bukan akhir dari segalanya. Kita bisa belajar dari setiap kekalahan untuk menang. Kita bisa saja kalah dalam satu pertandingan, tapi kekalahan satu ini tidak akan berarti bila kita juaranya."

Novel ini berjudul Zeze, mengisahkan tentang perjalanan seorang anak jalanan yang gemar bermain sepakbola. Tokoh utama di novel ini bernama Zeze. Seorang anak jalanan yang berusia sekitar sebelas tahun. Murid Kelas C di Olala Football School. Keinginannya bermain bola tumbuh sejak mendengar cerita yang pernah disampaikan oleh seseorang tentang Sepatu Ajaib Oding.

Oding adalah anak yang ingin sekali bisa bermain sepakbola. Oding sebenarnya ingin sekali bisa ikut bermain sepakbola bersama mereka. Pada setiap ada kesempatan, Oding mencoba untuk bermain bola. Akan tetapi, Oding tak habis pikir, mengapa dia tak pernah bisa bermain bola seperti anak-anak lainnya. Jangankan untuk menggiring bola, untuk menendang bola pun dia kesulitan.

Bola yang ditendang tidak pernah dapat terlempar jauh, apalagi menuju sasaran. Dia mencoba peneliti, barangkali dirinya memang tak berbakat jadi pemain sepakbola, atau ada sesuatu yang dia sendiri belum tahu. Suatu hari, Oding bermimpi, seorang bidadari yang cantik jelita menghadiahinya sepasang sepatu sepak bola ajaib. Sejak itu Oding menjadi mahir bermain sepak bola layaknya bintang lapangan.

Novel ini diawali suatu sore Zeze asyik bermain bola bersama teman-temannya di sebuah lapangan kecil. Muncul seorang anak laki-laki sebaya Zeze. Anak itu bernama Andre. Andre sangat mahir bermain bola. Ada pengalaman yang tak terlupakan oleh anak-anak yang bermain bola sore itu. Sewaktu Andre menggiring bola, Ikman menyerobot bola dari kaki Andre. Tapi Ikman sempat terkejut. Kakinya hanya menyentuh tempat kosong. “Wow!” seru Zeze yang tak menyangka Andre dapat melakukannya. Dia mengelakan bola dari serobotan kaki Ikman. Bola itu telah dicungkil Andre hingga terangkat ke atas. “Nah, kayak gitu, baru namanya main bola!” komentar Kiki yang keliahatannya mulai bersemangat. Kaki kanan Andre seketika bergerak melingkari bola di hadapan Awang. Awang mengira, Andre mau menendang bola dengan kaki kanannya. Awang kecele, rupanya Andre sudah berpindah melewati hadangan Awang dengan menyorongkan bola melalui kaki kirinya. Begitu juga yang dialami oleh Ipang.

Seketika Andre menahan bola itu dengan kaki kanannya, badannya berbalik membelakangi Ipang, sambil kaki kirinya menarik bola. Badan Andre berbalik lagi mengendalikan bola. “Waaah …!” seru Ipang kaget. Zeze, Ikman, dan teman-temannya termotivasi bermain sepakbola secara intensif setelah melihat permainan Andre. Keinginan meniru gaya permainan Andre yang tak kunjung persis, membuat anak-anak itu menciptakan gaya yang unik dan lucu.

Di antara anak-anak itu, Zeze yang lebih mahir mengendalikan dan menggiring bola sulit anak-anak lain merebut bola darinya hingga memudahkan langkahnya memporakporandakan pertahanan dan mengancam gawang lawan. Semenjak peristiwa dengan Pak Somad, anak-anak tidak pernah lagi bermain bola di tempat itu lagi. Apalagi, tak lama kemudian, lapangan itu pun kini sudah berganti dengan pagar tembok dan pondasi. Dan peluang anak-anak untuk bermain bola sudah tak mungkin lagi, karena tak ada lapangan yang cukup untuk bermain bola. Anak-anak pun mulai melupakan keinginan untuk bermain bola lagi. Tetapi tidak bagi Zeze. Keinginannya untuk bermain bola tetap ada. Dia bersama temannya, Ikman, memutuskan masuk sekolah sepakbola itu untuk menyalurkan kegemarannya bermain bola. Keunikan Zeze bermain bola membuat pelatih tim sekolah Zeze itu tertarik.

Zeze dan Ikman direkrut untuk membela tim utama yang tengah mengikut penyisihan untuk turnamen antar klub sepakbola anak-anak tingkat daerah. Setelah tim yang mereka bela mengalami kekalahan. Mereka bangkit dan belajar untuk mengatasi pertandingan berikutnya. Novel ini menarik karena menceritakan situasi kehidupan keseharian masyarakat urban.

Walaupun novel ini disampaikan melalui bahasa sehari-hari yang segar, gaul, dan imajinatif, novel ini tidak saja pantas dibaca untuk kalangan anak-anak, tetapi juga bagi semua kalangan.

________________________________________

Judul novel: Zeze

Penulis: Zulfikar

Terbit : April 2010

Penerbit: Freedom Foundation 

Halaman: 198.