Lika-Liku Seorang Ibu
Penulis :
Penyunting :
1323    0

Dokumentasi Rima

“Ibu-ibu memerlukan mata yang tajam dan lidah yang bijaksana ketika mereka punya anak-anak perempuan yang perlu diasuh.”

Kutipan di atas sangat menarik perhatian. Menggambarkan sosok Ibu yang bijaksana dan sabar menghadapi anak-anaknya. Louisa May Alcott kembali menghadirkan novel keluarga yang memikat pembaca. Novel paling populer dalam sastra Amerika ini sampai saat ini masih sangat banyak penggemarnya, walaupun pertama kali diterbitkan pada abad 19 tepatnya tahun 1869.

Novel Good Wives ini merupakan cerita kedua atau lanjutan dari novel sebelumnya yaitu Little Women. Kisah ini tak lepas dari tokoh-tokoh perempuan sederhana yang luar biasa. Mereka adalah Meg, yang tertua diantara keempat anak perempuan keluarga March, berusia 16 tahun, sangat cantik dan lembut. Jo, 15 tahun, pribadi yang penuh semangat, temperamental, suka bereksperimen dan senang menulis. Beth, 13 tahun gadis yang lembut, pendiam dan baik hati, serta si bungsu Amy, 12 yang memiliki jiwa seni, egois, manja serta kekanak-kanakan.

Keempat anak ini tinggal bersama ibu mereka, sementara sang ayah pergi bertempur dalam perang saudara. Keluarga ini hidup dalam kesederhanaan. Kehidupan sehari-hari mereka selalu mengalami berbagai macam perasaan. Perasaan sedih, senang, gembira, bertengkar, dan cemburu. dan semua itu tidak terlepas dari peranan penting ibunya.

Pada intinya dalam novelnya ini Alcott menuturkan keseharian keempat gadis March dengan begitu hidup dan menarik, seperti bermain teater dalam rumah, berpikinik, membuat koran sendiri, dan kejadian-kejadian lainnya yang ikut membentuk mereka menjadi perempuan dewasa. Eksplorasi karakter dan berbagai peristiwa yang dialami oleh keempat gadis March ini dideskripsikan dengan porsi yang hampir sama, tiap babnya secara bergantian menceritakan salah satu dari mereka sebagai pusat cerita.

Dalam novel Good Wives ini cerita pertama dimulai dari pernikahan si sulung Meg dengan kekasihnya John. Dan nasehat-nasehat lembut dari ibunya pun diterima Meg dengan baik.

Lanjutan dari novel Little Women ini dikemas lebih kental, karakter-karakter tokoh semakin matang. Dalam novel ini juga memuat kisah yang mengandung nilai-nilai pengorbanan dan kemanusiaan baik antara keluarga March atau dengan orang lain.

Tidak hanya sekedar menyajikan cerita-cerita yang penuh keceriaan, kecintaan, Good Wives juga menyajikan masa-masa sulit dan kehilangan anggota keluarga. Selain itu, Good Wives juga menyajikan kalimat-kalimat indah yang patut dikenang.

Selain mengemas cerita sehari-hari, Alcottjuga sedikit menambahi issu feminisme di dalam ceritanya. Memang pada saat itu issu feminisme belum berkembang pesat, namun Alcottsudah berani mengutarakannya melalui novel ini.

Seperti Jo, tokoh dalam novel ini adalah seorang perempuan yang energik, cerdas dan gemar menulis. Jo, sangat lincah dalam menangani apapun. Kemandiriannya pun menggambarkan sosok perempuan yang tagguh. Kegemaran daalam menulis membuat ia ingin mewujudkan impian-impian yang indah tentang dunia kepenulisan.

Kisah seorang ibu pun tak lupa Alcotturai. Bagaimanapun seorang perempuan pasti ia akan menjadi seorang istri dan seorang ibu. Keadaan finansial pada perempuan tidak membuat perempuan tersebut hidup hanya dengan seenaknya saja. Sekaya apapun seorang ibu ia harus menjadi istri yang baik dan merawat anak dengan baik, kalau memang ia ingin disebut perempuan yang baik.

Kisah sederhana dalam kehidupan keluarga ini terasa seperti kisah kehidupan apa adanya. Alcottmenuliskan cerita ini dengan tidak terlalu mengada-ada, ia menuliskan cerita apa adanya. Ini membuat pembaca seperti membaca buku harian seseorang dan seperti merasakan kehidupan yang ada dalaam cerita novel ini. Menarik!.

Kedua novel terlaris Alcottini banyak menginspirasi penulis-penulis perempuan antara lain Simone Beauvoir, Joyce Carol Oates dan Cynthia Qzick. Karenanya hadirnya terjemahan novel ini patut dipresiasi dengan baik karena jika sebelumnya novel klasik ini hanya dibaca dan dibicarakan di lingkungan terbatas yang melek sastra, kini novel ini menjadi lebih terbaca oleh kalangan yang lebih luas lagi.

Inspirasi-inspirasi dalam novel ini masih banyak dan masih perlu disimak. Kita akan menemukan hal-hal yang menarik dan memukau dari cerita perempuan-perempuan dalam tokoh novel ini. Dalam cerita ini Alcott tetap mempertahankan kekayaan makna dengan ria konflik yang semakin beragam dan juga mengandung humor segar.

________________________________________

Judulbuku      :Good Wives

Pengarang       : Louisa May Alcott

Peresensi        : Muhammadun

Tebal               : 534halaman

Cetakan           : 1, April 2010

Penerbit           : Serambi Jakarta