Thursday, 17 April 2014

Breaking News

Banjir Besar Lahar Dingin di Kali Putih, Magelang, Benamkan Puluhan Rumah di 13 Dusun

MAGELANG,RIMANEWS ---- Banjir besar lahar dingin di Kali Putih di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (9/1) malam, membenamkan puluhan rumah di 13 dusun di Desa Jumoyo dan Desa Sirahan dalam material lahar dingin setinggi 2 meter hingga 4 meter. Satu orang yang terseret banjir ditemukan tewas.

Banjir lahar dingin Gunung Merapi akibat tingginya curah hujan itu juga menghanyutkan sedikitnya 64 rumah di kedua desa dan memaksa 3.554 warga mengungsi. Korban tewas adalah Sumiati (66), warga Dusun Jetis, Desa Sirahan. Seorang korban lain yang terseret banjir dan dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan adalah Mariana (32), warga Ngrajek, Kecamatan Mungkid.

Ke-13 dusun yang tenggelam lumpur terdapat di Desa Sirahan sebanyak sembilan dusun dan Desa Jumoyo empat dusun. Ketinggian material Merapi yang melanda semua dusun itu antara 2,5 meter dan 4 meter. Akibat serbuan batu, lumpur, dan batang-batang kayu, 1.047 keluarga di Desa Sirahan dipaksa mengungsi. Bahkan, empat rumah di desa itu hilang terbawa banjir lahar. Lebih dari separuh Desa Sirahan berubah menjadi aliran sungai baru, diselimuti material vulkanik.

Banjir air bercampur material itu juga menutup jalan Gulon-Trayem sepanjang 2 kilometer, jalur alternatif Magelang-Yogyakarta melalui Desa Sirahan.

Banjir juga menggenangi jalan antara Dusun Salakan dan Dusun Ngemplak. Luapan material di jalan alternatif Magelang-Yogyakarta dan jalan antardusun ini sepanjang Senin jadi tontonan masyarakat.

Kondisi hampir sama terjadi di Dusun Gempol yang masuk Desa Jumoyo. Tak hanya merendam rumah milik 157 keluarga di dusun itu, lahar dingin juga menimbun pemakaman umum di Dusun Gempol setebal sekitar 2 meter.

Di bagian hulu, aliran lahar setidaknya telah menenggelamkan 60 rumah di Dusun Gempol, Seloiring, Kadirogo, dan Tegalsari. Rumah-rumah itu sama sekali tak terlihat karena berada di bawah permukaan tumpukan lahar dingin padat Merapi. Lokasi rumah itu bahkan telah berubah menjadi sungai dengan timbunan material setebal 3 meter.

”Pada banjir lahar sebelumnya, rumah-rumah di Gempol telah terendam material setebal 2 meter,” kata Sungkono, Kepala Desa Jumoyo. Warga melaporkan, 30 rumah rusak berat, 13 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan.

Saat ini jumlah pengungsi akibat banjir lahar dingin membeludak hingga 3.554 orang, tersebar di delapan lokasi. Pada banjir sebelumnya, terdapat 1.272 pengungsi. Para pengungsi berasal dari 10 dusun di Kecamatan Muntilan, Salam, dan Mungkid.

Empat kali jalan putus

Untuk keempat kalinya, banjir lahar dingin itu memutus jalur jalan raya Yogyakarta-Magelang, tepatnya di Jembatan Kali Putih di Desa Jumoyo, Kecamatan Salam. Sejak Minggu pukul 18.30 hingga berita ini diturunkan, jalur utama yang menghubungkan Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah (Jateng) itu masih terputus. Sejumlah alat berat masih mengeruk material padat Merapi yang menimbun jalan itu sepanjang sekitar 800 meter dengan ketinggian hingga 4 meter.

Penutupan jalan terjadi mulai dari Dusun Gempol hingga Dusun Prebutan, Kecamatan Salam. Pengguna jalan dari Magelang yang ingin ke Yogyakarta terpaksa memutar melewati Desa Gulon, Kecamatan Salam, dan Desa Ngargosuko, Kecamatan Srumbung, sedangkan mereka yang berangkat dari Yogyakarta menuju Magelang dialihkan melewati Kabupaten Kulon Progo.

Berdasarkan catatan Kompas, banjir lahar dingin tersebut merupakan yang terbesar selama ini. Sebelumnya, banjir lahar dingin pada 3 Januari 2011 menutup jalan dan jembatan sepanjang 300 meter dengan ketinggian sekitar 2 meter. Volume material yang menutupi badan jalan waktu itu paling tidak 6.000 meter kubik, setara dengan 1.500 truk, dan jalan Magelang-Yogyakarta terputus selama sekitar 17 jam.

Menurut Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jateng Priyantono Djarot Nugroho, kekuatan banjir lahar dingin hari Minggu lalu tiga kali lipat dibandingkan dengan banjir lahar serupa pada 3 Januari.

Di Semarang, petugas prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jateng, Haryati, mengatakan, saat banjir lahar dingin pada 3 Desember, curah hujan di puncak Merapi rata-rata 20-50 milimeter per hari. Pada banjir lahar dingin kali ini, curah hujan di puncak Merapi 50-100 mm.

Berdasarkan citra radar BMKG Jateng, Minggu (9/1), hujan lebat terjadi pada pukul 18.00 dan setelah itu berangsur-angsur ringan hingga pukul 21.00. ”Kemungkinan terjadi cuaca ekstrem hujan lebat disertai angin kencang masih ada hingga akhir Januari 2011,” kata Haryati.

Klakah terisolasi

Banjir lahar dingin juga terjadi di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Sebanyak 334 keluarga dari tiga dusun di Desa Klakah, Kecamatan Selo, terisolasi akibat jembatan dan akses menuju jalan utama putus akibat banjir lahar dingin. Warga sementara terpaksa berjalan kaki memutari tebing dan menyeberangi sungai.

Tiga dusun yang terisolasi itu ialah Bangunsari, Bakalan, dan Sumber. Jembatan yang putus tersebut ialah penghubung Dusun Bangunsari menuju Desa Jrakah dengan panjang lebih kurang 6 meter. Selain itu, badan jalan sepanjang lebih dari 20 meter juga putus akibat tergerus banjir lahar dingin. Jembatan lain yang bisa dilalui warga tiga dusun itu, Bakalan-Sepi (Jrakah), sudah lebih dulu putus saat banjir lahar awal Desember 2010.

Pasokan terlambat

Terputusnya ruas jalan Magelang-Yogyakarta membuat pasokan barang ke Yogyakarta terlambat. Para pedagang pemasok harus mencari jalur alternatif sehingga pengiriman barang terlambat hingga tiga jam.

Kepala Dinas Pasar Kota Yogyakarta M Fadli menuturkan, dampak terputusnya ruas jalan tersebut paling dirasakan pedagang di pasar sayur Giwangan, Kota Yogyakarta.

Meski terlambat, distribusi sayur di wilayah Yogyakarta tidak terganggu.

Selain pasokan sayur ke Pasar Giwangan, pasokan ikan segar dari Semarang ke Pasar Beringharjo, Yogyakarta, juga terlambat satu hingga tiga jam.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Ujun Junaedi menuturkan, pasokan batik dari Pekalongan, Jateng, juga terlambat hingga hitungan hari.(Juf/Kcm)