Wednesday, 23 April 2014

Breaking News

Sisi Gelap Pulau Dewata

Dari sekian ribu pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, Bali merupakan pulau yang berbeda dan unik dari pulau lain. Mendengar Bali, orang akan terpukau akan keindahan, kesejukan, dan kedamaian yang membuat jiwa geli sekaligus asyik. Terlebih orang mancanegara. Mereka akan melihat Indonesia dari Bali. Keindahan, kemegahan, dan kuatnya tradisi yang tercermin dari perilaku masyarakat pulau dewata ini akan dijadikan standar publik oang asing dalam meneropong gambaran masyarakat Indonesia.

Ya, Bali seolah telah menjadi "juru bicara" bangsa tercinta dalam lanskap pergaulan internasional. Sehingga tidak salah, kalau setiap kali menggelar event-event internasional, khususnya yang berhubungan tentang pariwisata dan ekonomi global, Indonesia akan memilih Bali sebagai tempatnya. Sebagai representasi Indonesia, maka tidak salah kalau Bali sering dikatakan sebagai salah satu "daerah istimewa" yang non-formal.

Tetapi, kecantikan Bali yang begitu eksotik tersebut akhirnya "jebol" juga. Bom yang meledak di Legian Kuta, pada Oktober 2002 menimbulkan tanda tanya besar. Ada apa dengan Bali? Adakah konspirasi global yang bermain di pulau dewata tersebut? Ataukah ada akar-akar historis-sosiologis tentang kekerasan di Bali? Inilah pertanyaan-pertanyaan menggelitik yang coba diulas secara menarik oleh penulis buku ini.

Penulis awalnya terpesona dengan kemolekan Bali. Namun dasar watak peneliti, penulis akhirnya tertarik untuk mengetahui lebih jauh di balik kemolekan Bali tersebut. Walaupun referensi tentang bali tergolong langka, namun dengan menelusuri bewrbagai arsip kolonialisme yang telah terjadi di Indonesia, akhirnya penulis menemukan berbagai kejanggalan tentang Bali, bahkan akhirnya dia malah menyimpulkan bahwa telah terjadi berbagai praktek kekerasan dan perilaku anti-kemanusiaan dalam sejarah perpolitikan Bali.

Wajah suram pulau dewata sejatinya sudah dimulai semenjak masa kolonial. Politik memecah belah yang dilakukan Belanda kepada seluruh pulau bangsa ini juga terjadi di Bali. Konflik antar kasta telah memunculkan perdebatan bahkan perang fisik yang sengit di masa kolonial. Selain itu, kolonial telah melakukan depresi ekonomi, yakni masyarakat Bali di siksa dan dibebani pajak yang berat, dan masih pula dituntut melaksanakan kerja rodi rata-rata 25 hari pertahuan untuk pemerintah atau para agen pribumi.

Ketika efek depresi mulai terasakan sepenuhnya pada sekitar tahun 1932, kemelaratan, kelaparan, dan tuna-tanah menjadi akut. Karena pejabat Bali, dibanding pejabat Belanda, bertanggugjawab atas sistem pajak dan penghisapan rodi di tingkat lokal, maka kejengkelan dan kemarahan pun cenderung tertuju kepada para pejabat Bali ketimbang negara kolonial. Pada masa Jepang, konflik yang telah disulut Belanda semakin berkobar. Dengan kekejaman yang sangat menyedihkan dari Jepang, para pemuda Bali semakin menumbuhkan konflik-konflik baru, baik kepada elite politik bali sendiri maupun kepada Jepang.

Masa pasca kemerdekaan, pulau dewata sedikit mengalami penurunan tensi konflik. Karena rakyat telah dimobilisasi untuk mempertahankan kemerdekaan republik dari bangsa asing, rakyat Bali sedikit melalaikan benih konflik yang telah tumbuh mengakar masa lalu. Baru menyusul kudeta politik militer Indonesia pada Oktober 1965, pulau dewata meledak kekerasan politk yang menyebabkan kira-kira 80.000 orang, atau sekitar 5 persen penduduknya, tewas. Konflik besar itu jelas melebihi dari konflik yang terjadi di Jawa pada waktu yang sama.

Konflik berdarah tersebut sejatinya berawal dari konflik antar rakyat yang selama ini membela kemerdekaan bangsa ternyata malah mendapatkan perlakukan diskriminatif dari para pejabat politik masyarakat Bali. Sejak tahun 1953-1956, gerombolan bersenjata menjelajah pedalamn tanpa tersentuh hukum, terlibat dalam pemerasan dan tindak intimidasi politik dan pembunuhan; dan banyak diantaranya berkaitan dengan pemilu nasional 1955. Pada awal tahun 1960-an, antagonisme antara partai politik besar -- partai komunis dan partai nasionalis-- serta konflik pahit menyangkut perombakan penguasaan tanah {land reform} memicu konfrontasi massa yang sengit, baka-bakaran, goktok-goktokan, dan bunuh-bunuhan.

Potret buram kekerasan poltik yang telah terjadi di Bali yang telah disingkap dalam buku ini bukanlah untuk menjustifikasi absahnya tindakan kekerasan berupa bom yang menerpa Bali, namun lebih mengarah sebagai bahan refleksi dan antisipasi agar bangsa ini tidak mengulangi lagi tindakan anti kemanusiaan yang terjadi di masa lalu. Bali yang telah malang masa lalu dan kembali malang dalam dua tahun terakhir harus kembali menjadi Bali yang tersayang.

Bali yang menjadi representasi bangsa Indonesia sebagai daerah yag penuh keindahan, kemolekan, dan kemegahan. Untuk itu, perlu global responbility bagi masyarakat Bali khususnya dan bangsa Indonesia umumnya dalam meneguhkan kembali bangsa Indonesia sebagai bangsa yang ramah, bukan bangsa marah. Kembalinya Bali sebagai daerah tersayang inilah, yang oleh penulis, akan mengembalikan kondisi kejiwaan dan perekonomian bangsa.

_______________________________________

Judul buku                    : Ajeg Bali, Gerakan, Identitas Kultural dan Globalisasi

Penulis                         : Prof Dr Nengah Bawa Atmadja

Peresensi                    : Muhammadun ( Pustakawan, Peneliti Cepdes Jakarta.) 

Penerbit                       : LKiS Yogyakarta

Cetakan                       : 1, November 2010

Tebal                           : xxxvi + 523 halaman