Monday, 14 July 2014

Cari

Breaking News

Ada Praktek Perbudakan di Arab Saudi, 12 Ormas Islam Tuntut Hentikan Kirim TKW!

JAKARTA,RIMANEWS - Sebanyak 12 organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam menyerukan penghentian pengiriman tengaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia ke Arab Saudi.

Penyiksaan demi penyiksaan majikan kepada tenaga kerja wanita asal Indonesia mengusik keprihatinan pimpinan 12 ormas, Selasa (7/12). Untuk menghindari bertambahnya jatuh korban, meninggal maupun luka-luka, mereka bertemu di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, dan mendesak penghentian pengiriman TKW ke luar negeri. Terutama ke negara-negara yang dianggap masih memelihara perlakuan seperti budak terhadap tenaga kerja.

Ketua Umum PBNU, KH Said Agil Siradj saat menggelar jumpa pers bersama mengungkapkan, mungkin saja banyak TKI yang mengalami penyiksaan oleh majikannya namun selama ini tidak terungkap semua.

“Kasus penyiksaan TKI adalah kasus yang sangat berat. Kita bisa bayangkan, mungkin saja ada TKI yang diludahi, ditonjok, dikepret (dipukul, red) majikannya namun tak terungkap. Sementara yang mencuat adalah (kasus-kasu besar) TKI yang digunting, diperkosa,” kata Said.

Said mencatat, selama tahun ini saja, terungkap ada 1.196 kasus yang dialami para TKI. “Jadi, kita sudah tak lagi bisa menahan diri. Dan selama ini, NU tak pernah diajak berbicara mengenai TKI. Perbaikilah keamburadulan pengiriman TKI ini. Selama belum ada Memorandum of Understanding (MoU atau Nota Kesepahaman, red) dengan negara tujuan TKI, stop dulu pengiriman TKI ke Arab,” tandasnya.

Said juga menuturkan, “di Arab Saudi masih terjadi pola pola perbudakan. Kalau tidak ada MoU, mana bisa ada perlindungan TKI di sana. Mereka masih tidak berbudaya.”

Said yang pernah bertahun-tahun hidup di Saudi mengaku melihat sendiri praktik di lapangan. Yakni begitu TKW tiba di Arab Saudi, begitu keluar dari pesawat, si TKW langsung dibawa ke rumah majikan.

“Selama bekerja mungkin mereka hanya melihat tembok (rumah majikan, red) saja, tak pernah ke mana-mana. Tapi, memang ada juga juragan yang baik, TKI nya diajak umroh dan sebagainya,” katanya lagi.

Ke 12 organisasi Islam yang menyerukan kepada pemerintah untuk menghentikan pengiriman TKI ke Arab Saudi antara lain PBNU, PP Muhammadiyah, PP Al Isryad Al Islamiyah, PB Al Washliyah, DPP Al Ittihadiyah, DPP Perti, PP Persis, PP Syarikat Islam Indonesia. Kemudian, Persatuan Islam Tionghoa (PITI), PP Rabithah Alawiyin, DPP Parmusi dan PP Mathlaul Anwar.

Dalam pernyataan keprihatinan dan sikapnya terhadap tragedi yang menimpa para TKW Indonesia,pada poin ke-6 mereka mengingatkan bahwa secara syar’i atau hukum Islam, ada larangan bagi kaum perempuan untuk melakukan safar atau perjalanan jauh tanpa didampingi muhrim atau orang terdekat seperti suami dan saudara kandung.

Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj menjelaskan, wanita boleh berpergian jauh –misalnya ke Arab Saudi– untuk mencari nafkah apabila dalam keadaan darurat. “Wanita bisa bekerja asal harus didampingi dengan muhrim-nya, dan dalam keadaan darurat ” ujar Said.

Ia pun menjelaskan bila bekerja ke tempat yang jauh itu hanya bertujuan untuk memperbesar rumah atau menambah kekayaan, alasan itu jelas tidak diperkenankan menurut syar’i.

“Bila tidak mengikuti syar’i tersebut, akibatnya kejadian kejadian seperti penyiksaan itu akan terus terjadi,” imbuhnya.

Menurut Said, perlu cara pandang baru terhadap TKI, yakni bukan melihat mereka semata-mata sebagai penghasil devisa. TKI harus pula dipandang sebagai warga negara yang berupaya mengatasi kesulitan hidupnya di dalam negeri dengan berupaya memenuhi hak yang paling mendasar, yakni hak mempertahankan hidup dan hak untuk berusaha.

“Jangan hanya dilihat devisanya saja. Sebab, cara berpikir seperti itu ternyata telah menumbuhsuburkan komersialisasi TKI,” kata Said Agil.

Dengan cara pandang baru, lanjut Said, maka TKI layak mendapat penghargaan dan perlindungan maksimal dari negara. TKI harus diposisikan sebagai subyek, bukan obyek.

“Betapapun hanya di sektor domestik (sebagai pembantu rumah tangga, red), kita harus menghargai para TKI di luar negeri,” katanya.

Dikatakannya, Indonesia bukan satu-satunya pengirim tenaga kerja yang kurang berkeahlian atau untuk pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Hanya saja, tenaga kerja dari negara lain (meskipun kurang berkeahlian) masih jauh lebih dihargai dan cukup memperoleh perlindungan dari pemerintahnya, sehingga jarang diperlakukan tidak senonoh oleh para majikannya di luar negeri.

Setelah mempelajari dengan cermat dan seksama tragedi tragedi yang menimpa TKW asal Indonesia di beberapa negara, 12 ormas Islam itu menyatakan keprihatinan. Pernyataan sikap ini dituangkan dalam tujuh butir(Juf/Sry)