Friday, 18 April 2014

Breaking News

Wikileaks: Amerika Intervensi dalam Eksekusi Saddam Hussein

JAKARTA, RIMANEWS - Selama ini, dunia hanya tahu bahwa eksekusi terhadap pemimpin otoriter Irak Saddam Husein merupakan hak penuh keninginan dari rakyat Irak. Namun, setelah dibocorkanya dokumen rahasia Amerika Serikat oleh WikiLeaks, justru mengungkap hal yang lain bahwa Amerika turut intervensi dalam eksekusi tersebut.


Sebelumnya, Amerika Serikat mengungkapkan bahwa pihaknya tidak terlibat dari eksekusi tersebut dan itu semua merupakan kewenangan sepenuhnya orang Irak. Namun, kabel Departemen Luar Negeri AS pada Januari 2007 menjungkirbalikkan hal tersebut.

Dokumen itu berisi laporan mengenani pertemuan Zalmay Khalilzad yang kemudian menjadi duta besar AS untuk Irak dengan kepala eksekutor Munqith Faroon. Di dalamnya diungkapkan fakta menit per menit sebelum, saat berlangsung, dan sesudah eksekusi Saddam Hussein sebagaimana diabadikan seseorang melalui kamera handphone.

Dokumen itu menyebutkan pihak AS terlibat di dalam eksekusi Saddam. Antara lain, pembuat tiang gantungan dan alasnnya adalah pihak AS. Farron menyebutkan, tiang gantungan yang dibuat sebelumnya harus diubah tidak memenuhi standar sehingga orang yang dieksekusi merasa menderita saat dieksekusi.

Penulis dan pengirim kawat itu menyatakan bertanggung jawab terhadap semua proses eksekusi dan melimpahkan bebannya kepada pemerintah Irak. Ia mengatakan bertanggungjawab terhadap gedung eksekusi, akses ke gedung, dan halaman, serta pelaksanaan eksekusi. Pemerintah Iraq dianggap tidak memiliki kemampuan untuk melaksanakannya.

Faroon dan hakim sempat bertemu Saddam sebelum eksekusi untuk membacakan vonis dan mengantarnya ke tiang gantungan. Faroon mengaku sangat bersimpati kepada Saddam yang saat itu dibawa dalam keadaan tangan terikat, kepala terbungkus kain, dan badanya gemetar.

Setelah hakim membacakan vonis dan menyatakan hukuman mati, Saddam berkata lirih, "Apakah saya masih presiden." Saat berada di tiang gantungan, Penasehat Keamanan Nasional Irak Mowaffak al-Rubaie bertanya pada Saddam apakah ia merasa takut. Dalam dokumen itu disebutkan, "Dia (Saddam) tidak takut karena sudah mengantisipasi peristiwa seperti itu sejak dia menjadi presiden. Ia sadar bahwa menjadi presiden akan memiliki banyak musuh."

Saddam terus mendekap Al Quran hingga saat-saat terakhirnya, dan meminta seseorang untuk menyerahkan Al Quran itu kepada anaknya, Awad al-Bandar, kepala Dewan Revolusi yang akan dieksekusi dua minggu kemudian. Saddam menyerahkan Al Quran itu kepada Faroon. Menurut dokumen itu, Faroon berkata tidak ada yang salah dengan apa yang terjadi saat itu.

Saat penjaga mengikat kaki Saddam, Saddam bertanya, siapa akan membantunya menaiki tangga. Menurut Faroon, saat itulah seorang penjaga berkata, "pergilah ke neraka." Mendengar hal itu, Farron marah dan melarang semua orang yang ada di sana untuk berbicara kepada Saddam.

Saat Faroon melihat ke arah para saksi, ia melihat dua pejabat pemerintah mengabadikan peristiwa itu dengan kamera handphone-nya.

Saddam diantar menunju tangga dan menolak kepalaya ditutup selama eksekusi. Saddam kemudian berdoa, dan saat itu, seseorang berteriak, "Muqtada, Muqtada, Muqtada," yakni nama yang merujuk pada pemimpin Syiah Irak Muqtada al-Sadr yang ayahnya dipercaya dibunuh oleh rejim Saddam. Faroon kembali marah dan meminta saksi untuk diam.

Dokumen it menyebutkan, Saddam mati seketika di tiang gantungan dan jenazahnya langsung dimasukkan ke dalam kantong mayat. Seorang pemuka agama kemudian memandikan jenazahnya sesuai ketentuan Islam.

Kawat itu berakhir dengan paragraf mengenai Khalilzad bertanya kepada Faroon apakah ada perubahan pelaksaan eksekusi mendatang untuk al-Bandar dan Barzan Hassanm, saudara Saddam dan mantan kepala intelijen. Faroon menjawab, akan mengurangi jumlah saksi karena dibolehkan undang-undang berlaku, yakni hanya terdiri dari jaksa, hakim, pemuka agama, dan kepala penjara. Langkah itu dilakukan untuk mencegah perilaku yang tidak diinginkan dan kontroversi yang tidak perlu.

Kawat itu tertanggal 15 Januari 2007, bertepatan dengan eksekusi al-Bandar dan Hassan dilakukan. Ketika digantung, kepala Hassan juga dipenggal.

Dua petugas keamanan dari Kementerian Kehakiman Irak kemudian ditahan karena mengabadikan peristiwa eksekusi Saddam dengan kamera handphone dan menyebarluaskannya melalui internet. [mam]