JAKARTA,RIMANEWS- Kasus Gayus Tambunan merongrong Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Kapolri Timur Pradopo. SBY dan Timur harus bertanggung jawab atas kasus plesiran Terdakwa Mafia Hukum dan Korupsi, Gayus Halomon Tambunan. Pasalnya SBY adalah pemimpin tertinggi di negeri ini. SBY harus turun tangan menuntaskan kasus Gayus yang terus merembet dan menyeret instansi lain.
Harus ada ledakan dahsyat, big bang untuk kasus Gayus. Dan itu harus dari pemimpin tertinggi," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, kepada wartawan seusai melaksanakan salat Id di Jalan Pahlawan, Surabaya, Selasa (16/11/2010).
SBY, kata Din, harus konsisten dengan pernyataannya dahulu saat mencalonkan diri menjadi presiden. Saat itu SBY berjanji akan memberantas segala macam bentuk korupsi. Janji itu yang sedang rakyat tunggu.
Jelas, keluarnya Gayus dari rutan bagaikan fenomena puncak gunung es, kecil di atas tetapi besar di bawah. Kasus Gayus ini merupakan hal yang menyedihkan, memalukan dan membuktikan bahwa penegakan hukum masih amburadul. Lembaga dan aparat hukum masih korup. Dan pemberantasan korupsi masih sebatas retorika di era SBY sekarang. SBY citranya hancur jika kasus Gayus tidak tuntas sampai para bos-bosnya diganjar hukuman penjara.
Belum genap satu bulan jabatan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang diemban Jenderal Timur Pradopo, kursi empuk Timur terbukti telah digoyang. Jika tak hati-hati, nasib Timur bakal seperti pendahulunya.
Setiap persitiwa selalau ada hikmah. Pepatah ini tepat diterima oleh Kapolri Jenderal Timur Pradopo dalam menghadapi kerumitan institusi polri yang sekarang ia pimpin.
Semestinya satu bulan pertama menjadi bulan madu bagi Kapolri baru, ternyata kado istimewa justru muncul dari sembilan anak buahnya pimpinan Kompol Iwan Siswanto dengan memberi keleluasaan terhadap terdakwa kasus mafia pajak Gayus H Tambunan keluar masuk sel Rutan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.
Eva Sundari, anggota DPR Fraksi PDIP menegaskan, dalam kasus Gayus ini seharusnya menjadi momentum bagi Kapolri untuk membuktikan berbagai komitmen yang dijanjikan sebelumnya. "Justru ini momentum bagi Kapolri baru untuk menunjukkan bahwa dia seorang pembaharu dan punya komitmen serius untuk menjalankan 10 program utama seperti dijanjikan dalam fit and proper," katanya.
Karena itu, Eva akan menagih kepada Kapolri tentang realisasi 10 program utama yang dulu dijanjikan. "Salah satunya reformasi institusi kultur yang korup. Dan ada strategi keroyok bagi penyidik. Itu sekarang kita tagih," tandasnya.
Meski dalam penanganan keluarnya Gayus dari Rutan Mako Brimob Dua ini langkah Kapolri Timur Pradopo cenderung lambat. Karena hingga 10 hari polemik itu muncul ke publik, tidak ada kemajuan berarti dari kasus tersebut.
Seperti Gayus bertemu siapa di Bali? Difasilitasi oleh siapa keberangkata ke Bali? Hingga kini masih buram. Alasan dalam penyidikan dipakai tameng lambatnya kerja polisi.
Situasi ini seharusnya dapat dipetik hikmah oleh Timur yang konon tidak memiliki 'geng' di institusi kepolisian. Dengan demikian, tanpa beban menjaga kawan atau menghabisi lawan, sudah saatnya Timur memakai kaca mata kuda untuk membersihkan institusi kepolisian.
-----