Wednesday, 23 April 2014
 

Breaking News

Mengapa Universitas Princeton, Harvard dan MIT Hasilkan Milyarder Dunia?

JAKARTA,RIMANEWS-Peran universitas saat ini semakin lama semakin memperlihatkan peran yang yang sangat kuat bukan lagi hanya sebagai sarana pendidikan tapi juga pembentukan karakter individu terutama para mahasiswanya. Sehubungan dengan hal tersebut, lulusan yang dihasilkan pastinya memiliki modal baik ilmu dan pengetahuan untuk menjadi sosok yang terkemuka, seperti halnya para pengusaha. Situs bisnis terkemuka, Forbes pada hari ini (17/8) merilis beberapa universitas di AS yang telah sukses menghasilkan milyarder-milyarder dunia.

Dalam investasi, ternyata Universitas Princeton,AS menjadi jawaranya. Keuntungan investasi universitas ini mengalahkan Universitas Harvard dan Universitas Yale.

''Ini perkembangan menarik,karena  Princeton jelas bikin kejutan.Selama ini Harvard seakan tak terkalahkan,''kata Herdi Sahrasad,peneliti senior Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK ) Universitas Paramadina.

Harian Kontan melaporkan bahwa dalam tahun fikal yang berakhir 30 Juni lalu, keuntungan Universitas Princeton melonjak sebesar 15%. Nilai investasinya naik dari US$ 12,6 miliar menjadi US$ 14,4 miliar.

Melambungnya kampus Princeton  telah memberikan harapan baru bagi dinamika perguruan tinggi di AS  dalam berkompetisi ihwal investasi .

Selama 10 tahun, Princenton meraih keuntungan rata-rata sebesar 7,9%. Keuntungan rata-rata ini mengalahkan Harvard yang hanya sebesar 7% dan Yale yang hanya sebesar 8,9%.

Dalam tahun lalu, prestasi Yale yang paling buruk. Keuntungan investasi Yale hanya tumbuh sebesar 8,9%. Sementara Harvard, suniversitas yang paling tajir membukukan keuntungan sebesar 11% tahun ini.

Universitas      Nilai Return

------------------------------------
Yale                  US$ 16,7 miliar 8.9%
MIT                    US$ 8,3 miliar 10%
Dartmouth       US$ 3 miliar 10%
Brown              US$ 2,18 miliar 10%
Harvard            US$ 27,4 miliar 11%
Cornell              US$ 4,4 miliar 13%
Pennsylvania   US$ 5,7 miliar 13%
Stanford**        US$13.8 miliar 14%***
Princeton         US$ 14,4 miliar 15%
Columbia         US$ 6,5 miliar 17%

**Tahun fiskalnya berakhir 31 Agustus
*** Investasi selama 12 bulan yang berakhir 30 Juni

Sebelumnya, Harvard Paling Produktif
Posisi Harvard sebagai unversitas paling unggul sedunia memang telah menjadi ikon bagi seluruh universitas dunia. Universitas yang berdiri sejak tahun 1636 ini memang merupakan sebuah lembaga pendidikan yang telah sukses melahirkan tokoh-tokoh besar dunia. Menurut Forbes, universitas yang terletak di Cambridge ini telah meluluskan 62 orang milyarder dunia sejak berdirinya universitas tersebut. Beberapa milyarder dunia yang diluluskannya ialah Michael Bloomberf, Kenneth Griffin dan David Rockefeller. Posisi yang nomor wahid yang dibukukan oleh Harvard jauh lebih baik dibandingkan dengan posisi tahun lalu yang sempat berada pada posisi 8.

Untuk posisi kedua ditempati oleh Stanford University yang terletak di California. Universitas yang berdiri sejak 1891 ini dikenal sebagai salah satu kampus high tech yang menghasilkan mayoritas lulusan-lulusan yang bergerak dibidang teknologi. Menurut Forbes, universitas yang juga merupakan kebanggaan bagi publik California ini, telah menghasilkan 28 milyarder dan dibandingkan dengan posisi tahun lalu, untuk tahun ini mengalami kenaikan sebanyak 1 peringkat dari posisi 3. Beberapa nama milyarder yang merupakan lulusan Standford ialah Jerry Yang, Sergey Brin, Larry Page, Phillip Knight dan David Shaw. Selanjutnya di posisi ketiga ditempati oleh Columbia University yang naik 1 peringkat dari tahun lalu yang sempat berada di posisi keempat. Universitas tertua kelima di AS ini terletak di New York dan merupakan universitas terbaik di kota tersebut. Didirikan pada tahun 1754, universitas yang terkenal karena telah menghasilkan 4 orang lulusannya menjadi Presiden AS dan juga penghargaan-penghargaan lainnya seperti 94 lulusannya yang telah meraih Nobel sampai dengan 25 orang lulusannya yang telah meraih Academy Awards yang merupakan penghargaan tertinggi dibidang perfilman. Namun menurut Forbes, universitas tersebut telah menghasilkan 20 milyarder dunia yang diantaranya ialah Warren Buffet, Henry Kravis dan Robert Kraft.

Sedangkan di posisi ketujuh ditempati oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT). Universitas yang berbasis pengetahuan teknologi ini tercatat telah menghasilkan 11 milyarder sejak awal berdiri tahun 1865. Beberapa milyarder hasil lulusan MIT diantaranya ialah Charles dan David Koch dan Irwin Jacobs. Tak heran memang universitas ini merupakan kebanggaan AS, mengingat besarnya sumbangsih dalam perkembangan teknologi di AS. Pada tahun 2007 yang lalu, MIT telah menggelontorkan dana sebesar 598 juta dollar untuk membiayai riset-riset di seluruh bidang keilmuan. Disisi lain, diwaktu yang bersamaan pemerintah AS juga sempat memberikan bantuan pendanaan riset. Beberapa institusi pemerintah tersebut diantaranya Departemen Pertahanan yang memberikan dana sebesar 80,6 juta dollar, Departemen Energi sebesar 64,9 juta dollar dan NASA sebesar 27,9 juta dollar.

Sedangkan untuk urutan ke 8 ditempati oleh 2 universitas yang menghasilkan lulusan milyarder yang sama banyaknya yaitu sebesar 10 orang. Kedua universitas tersebut diantaranya ialah New York University dan Northwestern University. Milyarder hasil lulusan New York University yang paling terkenal ialah Kenneth Langone yang merupakan pendiri salah satu perusahaan ritel terbesar di AS yaitu Home Depot. Dan diperingkat terakhir atau posisi 10 ditempati oleh Princeton University yang telah berhasil meluluskan 9 orang milyarder yang salah satunya ialah Meg Whitman yang merupakan pendiri eBay.


UC BerkeleyTarik Investasi
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Senat Mahasiswa Universitas California Berkeley menyetujui kebijakan untuk melakukan divestasi di dua perusahaan Amerika yang dianggap ikut bertanggungjawab atas pendudukan Palestina, blokade dan penyerangan Gaza oleh Israel.

UC Berkeley akan menarik investasi mereka di General Electric dan United Technologies. General Electric adalah pembuat mesin-mesin helikopter Apache, dan United Technologies membuat mesin helikopter Blackhawk, pesawat tempur F-15 dan F-16.

Rapat senat dilaksanakan mulai Rabu malam, dan berakhir Kamis 18/3 sekitar pukul 4 dini hari. Pertemuan itu dibanjiri oleh mahasiswa, dosen, dan warga komunitas UC Berkeley lainnya. Awalnya acara digelar di ruang senat, namun karena pengunjung membludak akhirnya dipindahkan ke tempat lain yang lebih luas. Terjadi perdebatan yang cukup hangat sebelum akhirnya keputusan melakukan divestasi ditetapkan melalui voting, 16-4 untuk pendukung divestasi.

"Ada teriakan gembira di satu sisi dan air mata di sisi lain," kata Direktur Eksekutif Berkeley Hilel, rabi Adam Naftalin-Kelman, menggambarkan suasana pertemuan.

Tentu saja yang dimaksudnya menangis adalah para penentang keputusan itu. "Sebagian besar yang menyatakan berseberangan merasa kalah telak," tambahnya seperti dikutip Jewish Weekly.

Menurut laporan Jewish Weekly, UC Berkeley mengincar divestasi di lima perusahaan yang mendukung kejahatan perang, tempat di mana mereka menanamkan investasi sebesar USD135 juta. Perusahaan ketiga yang disebut adalah Hewlett-Packard.

Naftalin-Kelman menyebut tindakan Senat UC Berkeley itu menyedihkan.

Namun sesungguhnya yang lebih menyedihkan adalah pernyataan dari Alan Dershowitz yang bersama StandWithUs/Voice For Israel mengecam keputusan UC Berkeley tersebut. Jaksa dan penulis terkenal ini tidak bisa membedakan siapa sebenarnya yang tidak bermoral, teroris dan melakukan tindakan ilegal.

Katanya dalam pernyataan, "Menarik invstasi dari Israel adalah immoral, fanatik dan jika dilakukan oleh universitas negeri, berarti ilegal."

"Tindakan itu mendukung terorisme dan mengancam perdamaian," katanya, dan menyatakan akan melakukan balasan atas apa yang telah dilakukan UC Berkeley.

Menurut salah seorang penggagas divestasi, Emiliano Huet-Vaughn, apa yang mereka lakukan adalah sebuah langkah bersejarah yang membuktikan bahwa tidak selamanya orang Amerika membiarkan dirinya mengambil keuntungan dari penjajahan atau pelanggaran HAM.

Sejalan dengan pendapat Huet-Vaugh, Emily Carlton yang juga mendukung keputusan itu menambahkan, "Aksi ini akan menjadi sejarah jika dilakukan di seluruh penjuru negeri dan dunia. Saya berharap dewan mahasiswa di seluruh Amerika akan melihatnya sebagai tanda bahwa sekarang saatnya untuk menarik investasi dari perang."

Ke depan, sebagaimana yang dinyatakan dalam resolusi UC Berkeley yang dimuat oleh Mondoweiss, mereka juga akan merekomendasikan agar divestasi dilakukan atas perusahaan-perusahaan yang membantu kejahatan perang di seluruh dunia, seperti yang terjadi di perang Kongo, Maroko dan tempat lain yang ditentukan oleh PBB dan organisasi HAM internasional terkemuka. (berbagai sumber)