Kerusuhan SARA: Tarakan Membara, Mandau Beterbangan. Konflik Ini Menanti Peran Pak JK
Penulis :
Penyunting :
21237    0

Dokumentasi Rima

TARAAN,RIMANEWS- Mandau beterbangan, dan huru-hara Tarakan belum reda. Warga menanti kesigapan aparat. Pemerintah Kota Tarakan meminta dukungan jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) untuk mengatasi kerusuhan di daerahnya. Dengan dukungan Muspida, Pemkot Tarakan berharap hukum bisa ditegakkan.''Mantan  Wapres M Jusuf Kalla sebaiknya diminta membantu mengatasinya sebelum kerusuhan SARA ini meluas lebih jauh lagi,'' kata Herdi Sahrasad, seorang pengamat dari PSIK Univ.Paramadina..

"Iya, jadi tadi (Selasa) malam ada buntut kejadian 2 hari lalu, suatu bentrokan, tapi berangsur baik dan kondusif. Tetapi di seluruh sudut Kota Tarakan pejabat, TNI, Polri siaga. Pemkot Tarakan imbau penegakan hukum harus dikedepankan, hanya hukum sebagai panglima tertinggi," ujar Wakil Walikota Tarakan Suharjo Trianto.

Hal itu dikatakan Suharjo ketika dihubungi detikcom, Rabu (29/9/2010).

Suharjo menambahkan pihaknya berharap pimpinan di tingkat atas selalu berkoordinasi dan berkomunikasi. Pihaknya juga sudah mempertemukan dua pihak yang bertikai.

"Sudah ada kesepakatan, cuma dari grass root, ada kelompok kecil membangun kekuatan di luar lingkungan yang bisa kita awasi. Itu memang tanggung jawab kita semua apa pun alasannya. Pemerintah Muspida, back up penuh kami dan penambahan aparat TNI/Polri yang terlibat langsung di lapangan, kita selalu siap fasilitasi sarana dan prasarana," jelas dia.

Suharjo sendiri sekarang sedang berada di suatu hotel yang tidak jauh dari keramaian pusat kota. Di hotel itu ada pertemuan para walikota dari seluruh Indonesia. Dia memang mengakui ada kekhawatiran bila kerusuhan itu terjadi lagi seperti kemarin. Namun dia mengimbau kepada warga untuk beraktivitas seperti biasanya.

"Saya imbau tetap dilaksanakan kegiatan sebagaimana biasanya. Perlu waspada tapi jangan berlebihan, jadi terkesan mencekam," tandas dia.
Mabes Polri membeberkan kronologi bentrokan yang terjadi di pusat Kota Tarakan, Kaltim, pada Minggu 26 September 2010 lalu. Bentrokan itu melibatkan 2 kelompok yang berada di Tarakan, yang dicapai 1 jam dengan pesawat terbang dari Samarinda.

Rumah-rumah suku Tidung di Tarakan, Kalimantan Timur, ditempeli pita warna kuning. Tujuannya untuk membedakan mana rumah suku Tidung dan mana rumah suku Bugis Letta.

Orang-orang Tidung tengah mencari dua pelaku yang diduga membunuh tokoh masyarakat dari suku Tidung, Abdullah, pada Minggu (26/9).

Orang-orang Tidung mendatangi kawasan yang dihuni orang-orang dari suku Bugis Letta. Hari ini, Rabu (29/9), beberapa rumah di daerah Gunung Linkas, dibakar.

Untungnya, warga Gunung Lincak sudah mengungsi sejak kemarin. Mereka dikabarkan ada yang pergi sementara ke pulau seberang, Nunukan.

Orang-orang Tidung bergerak sendiri, karena kepolisian tak kunjung menangkap pelaku lainnya yang diduga membunuh Abdullah.

Bukan hanya untuk membedakan rumah suku Tidung atau Bugis Letta, pita kuning yang ditempel disebut-sebut untuk menangkal mandau (senjata khas Kalimantan) yang di kala malam terbang mencari mangsa.

"Percaya atau tidak, memang ada yang melihat itu kemarin. Ini kan kepercayaan," ujar warga jalan Jembatan Besi, Ishak, kepada INILAH.COM, Rabu (29/9).

Situasi Kota Tarakan, Kalimantan Timur, makin mencekam. Pagi ini, Rabu (29/9), dua mayat tergeletak di jalan Yos Sudarso.

Kondisi dua mayat tersebut dikabarkan penuh dengan luka sabetan senjata tajam. Kepala mayat terlihat hampir putus. Bercak darah menempel di jalan.

Bentrok ini dipicu tewasnya Abdullah (50), seorang tokoh masyarakat, di Perumahan Juwata Permai Minggu malam sekitar pukul 22.00 Wita.

Disebut-sebut, Abdullah merupakan tokoh masyarakat dari suku Tidung. Pada Senin siang, warga yang marah kemudian membakar dua rumah yang diduga milik para pelaku pembunuhan yang disebut-sebut dari suku Bugis Letta

Berikut kronologi lengkap dari Divisi Humas Mabes Polri yang dilansir di akun Twitter dan Facebooknya, Rabu (29/9/2010).

Peristiwa Kerusuhan

Pada tanggal 26 September 2010  sekitar pukul 22.30 WITA. Telah terjadi
perkelahian  antar sekelompok warga dari Suku Bugis dan Suku Tidung di Kampung  Juata  Permai,  Tarakan,  Kalimantan Timur. Akibat perkelahian tersebut 1 (satu) orang tewas.

Kronologi Kejadian
 

Minggu tanggal 26 September 2010 sekitar pukul 22.30 WITA.


Pada saat Sdr ABDUL RAHMANSYAH, Warga Kel Juata Permai sedang melintas di Perum Korpri Jl Seranai III, Juata Kec Tarakan Utara, Kota Tarakan, secara tiba-tiba dikeroyok 5 (lima) orang tidak dikenal, sehingga sdr Abdul Rahmansyah mengalami luka-luka di telapak tangan.

Selanjutnya Sdr Abdul Rahmansyah pulang ke rumah untuk meminta pertolongan dan diantar pihak keluarga ke RSU Tarakan untuk berobat.

Pada hari Senin 27 September 2010

Sekitar pukul 00.30 WITA, Sdr ABDULLAH (56 Thn), warga Kel Juata Permai, Orang tua Sdr Abdul Rahmansyah beserta 6 (enam) orang yang merupakan keluarga dari Suku Tidung berusaha mencari para pelaku pengeroyokan dengan membawa senjata tajam berupa mandau, parang dan tombak.

Mereka mendatangi sebuah rumah yang diduga sebagai rumah tinggal salah seorang dari pengroyok di Perum Korpri Jl Seranai III, Juata, Tarakan Utara Kota Tarakan. Penghuni rumah yang mengetahui bahwa rumahnya akan diserang segera mempersenjatai diri dengan senjata tajam berupa badik dan parang.

Kemudian terjadilah perkelahian antara kelompok Sdr Abdullah (warga Suku Tidung) dengan penghuni rumah tersebut (kebetulan warga Suku Bugis Latta). Akibatnya Sdr Abdullah meninggal dunia akibat sabetan senjata tajam.

Pada pukul 01.00 WITA, di Perum Korpri Jl Seranai III, Tarakan Utara, Kota Tarakan terjadi penyerangan yang dilakukan sekitar 50 orang (Warga Suku Tidung) yang bersenjatakan mandau, parang dan tombak.

Terjadi pengrusakan terhadap rumah milik Sdr NOODIN (Warga Suku Bugis Letta), Warga Kel Juata Permai, Tarakan Utara.

Pada pukul 05.30 WITA terjadi lagi aksi pembakaran terhadap rumah milik Sdr SARIFUDIN (Warga Suku Bugis Latta), Warga Perum Korpri Jl. Seranai RT 20 Kel
Juata Permai, Tarakan Utara.

Pada pukul 06.00 WITA, sekitar 50 orang (Warga Suku Tidung) mencari Sdr BAPAK ASNAH (Warga Suku Bugis Latta), namun berhasil diamankan anggota Brimob.

Pada pukul 10.00 WITA, massa kembali mendatangi rumah tinggal Sdr NOODIN (Warga Suku Bugis Latta) dan langsung membakarnya.

Pada pukul 11.00 WITA, massa kembali melakukan pengrusakan terhadap 4 (empat) sepeda motor yang berada di rumah Sdr NOODIN.

Pada pukul 14.30 WITA, korban meninggal Sdr ABDULLAH (Alm) dimakamkan di Gunung Daeng Kel Sebengkok Kec Tarakan Tengah, Kota Tarakan.

Pada pukul 18.00 WITA, terjadi pengeroyokan terhadap Sdr SAMSUL TANI (Warga Suku Bugis), Warga Memburungan RT 15 Kec Tarakan Timur, Kota Tarakan, oleh orang tidak dikenal.

Pukul 18.00 WITA, personel gabungan dari Polres Tarakan (Sat Intelkam, Sat Reskrim dan Sat Samapta) diperbantukan untuk mengamankan TKP.

Pada pukul 20.30 WITA s/d 22.30 WITA bertempat di Kantor Camat tarakan Utara
berlangsung pertemuan yang dihadiri untur Pemda setempat seperti Walikota Tarakan, Sekda Kota Tarakan, Dandim Tarakan, Dirintelkam Polda Kaltim, Dansat Brimob Polda Kaltim, Wadir Reskrim Polda Kaltim serta perwakilan dari Suku Bugis dan Suku Tidung.

Hasil pertemuan adalah sebagai berikut :
 

  1.  Sepakat untuk melihat permasalahan tersebut sebagai masalah individu.
  2. Sepakat untuk menyerahkan kasus tersebut kepada hukum yang berlaku.
  3. Segera temukan pelaku.
  4. Seluruh kegiatan pemerintahan dan perekonomian berjalan seperti biasa.
  5. Elemen masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh agama mendukung upaya
  6. penegakkan hukum.
  7. Mengatasi akar permasalahan secara tuntas.
  8. Tidak menciptakan pemukiman yang homogen.
  9. Seluruh tokoh elemen masyarakat memberikan pemahaman kepada warganya agar dapat menahan diri.
  10. Peranan pemerintah secara intern terhadap kelompok etnis.


Pada hari Selasa 28 September 2010 pada pukul 11.30 WITA, telah diamankan 2
(dua) orang yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan Sdr Abdullah, yaitu :

  1. 1. Sdr BAHARUDIN alias BAHAR (20 Thn), berperan pelaku penebas parang.
  2. 2. Sdr BADARUDIN alias ADA (16 Thn), berperan membantu.

Petugas Kepolisian Resor Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Selasa (28/9/2010), menahan tiga tersangka pembunuhan terhadap seorang pemuka masyarakat setempat. Pembunuhan itu memicu bentrokan antarkelompok warga yang mengakibatkan situasi Kota Tarakan mencekam.

Ketiganya ialah Br (20), Aa (16), dan Ln (20), yang disangka mengeroyok dan menganiaya Abdullah (45) sehingga pemuka adat dan imam masjid itu tewas mengenaskan dengan banyak luka tusuk pada Minggu (26/9/2010) malam. Demikian penjelasan Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Kalimantan Timur Komisaris Besar Antonius Wisnu Sutirta.

"Ketiganya berhasil ditangkap tadi berdasarkan informasi dari sembilan saksi yang masih kami tahan," kata Wisnu Sutirta.

Menurut Wisnu, polisi masih mengejar sejumlah tersangka lainnya yang diduga ikut terlibat pengeroyokan di kawasan Perumahan Juwata Permai itu yang juga mengakibatkan Rahmat (25), putra Abdullah, terluka.

Penangkapan ketiga tersangka itu terdengar oleh kelompok massa yang prihatin dan mendukung kerabat korban sehingga kemudian mendatangi Kantor Polresta Tarakan. Mereka meminta agar tersangka diserahkan.

"Perwakilan massa kami persilakan melihat tersangka dan setelah itu mereka membubarkan diri dan memercayai proses selanjutnya kepada kepolisian," kata Wisnu Sutirta.

Kelompok massa itu datang sekitar pukul 14.00 Wita. Banyak yang menenteng senjata seperti parang dan tombak. Suasana sempat kembali mencekam meskipun sejak pagi aktivitas ekonomi, transportasi, dan pelayanan publik mulai pulih.