Wednesday, 23 April 2014
 

Breaking News

Jala Sutra: Jalan Sejahtera Nusantara

Buku Jalan Sutra Menuju Indonesia Raya mencoba menawarkan konsep untuk mewujudkan kembali negara Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Han SB, penulis buku ini, berbeda cara pandang untuk mewujudkan bangsa yang sejahtera. Bukan konsep yang pernah digagas oleh politikus, ekonomi, maupun agamawan

Buku ini menegaskan bahwa dewasa ini nilai dasar negara sudah terlupakan tidak membekas dalam hati generasi muda. Berpatok landasan itu, Hans SB mencoba kembali mengupas nilai-nilai dasar kenegaraan Republik Indonesia dengan pendekatan simbol tangan. Dengan terperinci, penulis menjelaskan satu demi satu makna simbol yang terdapat tangan manusia. Beberapa simbol yang penuh arti saling berkaitan untuk mewujukan bangsa yang maju.

"JAS MERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” begitulah pesan Bung Karno kepada kita karena dengan mengetahui asal usul dan akar budaya bangsa ini, melalui jejak-jejak masa lalunya, perjalanan waktu yang panjang merupakan benang merah yang akan menghantarkan kita, melangkah dengan penuh keyakinan menuju cita-cita kita berbangsa dan bernegara.

Diceriterakan dalam Babad tanah Jawa, silsilah raja-raja bahwa sejak manusia pertama Nabi Adam – Sis – Nurcahya – Nurasa – Sanghyang Wening – Sanghyang Tunggal – Batara Guru – lima anak Batara Sambo, Batara Brahma, Batara Maha Dewa, Batara Wisnu, Dewi Sri, Batara Brahma-Sakutrem – Pandu Dewanata – Arjuna Parikesit – Jayabaya – Citrasoma – Hayam Wuruk – Brawijaya – Ki Gede Pamanahan – Senapati, sebagai alur waktu kehidupan manusia hingga menjadi berbangsa bangsa saat ini, benang merah Nusantara.

Lima ribu tahun yang lalu, diawali dari Nabi Ibrahim, bapak para Nabi, yang juga menjadi bapak bangsa-bangsa, dengan kerajaan dan dinasti besar, silih berganti, telah mengisi peradaban di bumi Allah, memanfaatkan kekayaan bumi, emas dan permata. Membangun kejayaannya, tetapi juga penyebab keruntuhannya, karena peperangan yang mempe-rebutkannya. Pada abad kedua setelah Masehi, keruntuhan kerajaan Romawi yang besar di Eropa dan jatuhnya dinasti Han di Asia, dunia memasuki, mengalami masa kegelapan, tidak ada lagi kerajaan dan dinasti besar, malah di Eropa berabad-abad lamanya berada dalam masa yang gelap (The Dark Ages).

Sejak tahun 200 sebelum masehi, sampai tahun 200 masehi, terjadi pergeseran perpindahan, harta di Eropa melalui "Jalur Sutra" ke Timur, agar tidak direbut musuh. Sehingga tidak ada lagi aset dan energi yang cukup untuk dapat membangun bangsa. Eropa menjadi gelap, kehilangan cahaya. Demikian juga dengan China, dinasti-dinasti besar pecah dan melemah. Sebaliknya pada abad ke-4, nusantara lahir dan menjadi besar dan jaya selama lebih seribu tahun, aset dan energi dunia telah berpindah, Nusantara bersinar. Ini menjadi dasar keyakinan kita, Indonesia akan bersinar cemerlang, karena belum pernah ada dan terjadi, jalan balik jalur sutra, yang memindahkan aset Nusantara, bahkan pada saat kita dijajah dahulu.

Melalui mitos dan legenda, sebagai kisah sejarah bangsa masa lalu, dapat kita jadikan titik awal membentuk keyakinan dan semangat kita sebagai landasan melangkah ke depan.

Pada abad keempat tahun 350 masehi, tercatat nama Ratu Pertiwi (Ibu Pertiwi) yang menurunkan silsilah, raja Mulawarman di Kutai dan raja Purnawarman dari Tarumanegara, mengawali kerajaan-kerajaan di Nusantara ini. Pada abad ketujuh, Prabu Lelehan Pajajaran yang berputra Ciung Wanara yang menjadi raja di Pasundan Jawa barat, dan Aria Banga menguasai Jawa bagian tengah dan timur. Sehingga keturunannya menjadi raja-raja di Majapahit, yang mampu membangun Nusantara sampai ke Cempa di utara dan Madagaskar di barat, sebagian Australia di utara. Adanya istilah Sunda besar di Nusantara dan Sunda kecil di Eropa, mengingatkan kita akan kebesaran dan kejayaan kita saat itu di dunia. Pengaruh kebesaran Sriwijaya sampai ke negeri China melengkapi ke adi dayaan Nusantara lebih dari seribu tahun.

Kebesaran dan kelanggengan ini dapat terjadi bukan saja karena kekayaan aset, tetapi terutama karena keyakinan akan arti kehidupan di bumi Pertiwi, yang secara konsekuen dilaksanakan dalam mengatur pemerintahan dan dijalankan secara utuh oleh masyarakatnya. Simbol kehidupan yang mampu menyatukan bangsa dan negeri-negeri ini, adalah merah putih dan tanah air, antara lain dengan diwujudkan melalui bangunan candi, salah satunya dapat kita lihat saat ini, candi tertua di Jawa barat di Garut dari abad ketujuh, candi Cangkoang. Yang mengandung makna dan pesan sebagai berikut, menaiki tangga yang terapit di dua sisi, bentuk kaki manusia, dan langsung menghantarkan kita memasuki pintu ke dalam ruangan, seakan mengingatkan kita kembali ke rahim Ibu Pertiwi. Di dalam ruang candi, ada patung Syiwa, jiwa, nyawa, JAWA di dalam rahim Ibu Pertiwi. Selanjutnya bentuk bangunan yang berumpak tinggi dengan atap yang tersusun tiga lapis, menjadi simbol tanah dan tiga unsur yaitu air, api berwarna merah, angin berwarna terang atau putih. Di puncak bangunan sebuah lingga sebagai simbol Tauhid kepada Yang Maha Esa dan Pencipta. Empat kelima pancar, merupakan hukum alam, hukum kehidupan.

Sekarang kita mempunyai Pancasila, yang dapat mempersatukan kita dan dapat menjadi energi yang dahsyat untuk membangun negeri, membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yang akan kita ulas bersama melalui buku ini, sebagai pencerahan untuk anak bangsa, pesan dari masa lalu, martabat bagi generasi nanti. Sekarang saatnya kita kembali ke rahim Ibu Pertiwi, masuk ke dalam gerbang kemerdekaan dan mulai melangkah di jalan sejahtera Nusantara (Jala Sutra).

Judul: Jalan Sutra:  Jalan Sejahtera Nusantara
Penulis: Han SB
Penerbit: Bhakti Pertiwi
Tahun: 1, Agustus 2008
Tebal: 276 Halaman