RIMANEWS – Dalam 3 pekan, bursa Asia anjlok terbesar, hal itu dipicu karena kekhawatiran melambatnya pemulihan ekonomi AS. Bursa Jepang memimpin koreksi, di tengah prediksi kebijakan pemerintah akan gagal mengendalikan yen dan mengangkat pertumbuhan domestik.
Indeks MSCI Asia Pacific jatuh 1,7%, tertinggi sejak 11 Agustus menjadi 116.27. Indikator ini telah melemah 2,4% bulan ini, koreksi terbesar sejak Mei. Indeks ini juga telah terperosok 5% dari level tertinggi dalam 3 bulan pada 6 Agustus, atas kekhawatiran melambatnya pertumbuhan ekonomi di AS, Eropa dan China.
Indikator perusahaan teknologi di indeks MSCI Asia Pacific tenggelam 2,7%, penurunan terbesar diantara 10 kelompok industri. Saham-saham pada indeks MSCI berada pada rata-rata 13,3 kali estimasi pendapatan. Bandingkan dengan indeks S&P 500 yang mencapai 12,6 kali dan indeks Stoxx Europe 600 yang hanya 11,3 kali.
Yoji Takeda, yang membantu mengelola YS$ 1,1 milliar di RBC Investment (Asia) Ltd, Hong Kong mengatakan, investor cukup pesimis dengan perlambatan di AS. Sentimen negatif datang dari data personal income bulan Juli yang berada di bawah ekspektasi pasar. Sementara di Jepang, orang khawatir menguatnya yen akan merugikan ekspor. “Tampaknya kebijakan pemerintah untuk menghentikan apresiasi mata uang itu sia-sia," ujarnya.
Indeks Nikkei 225 di Jepang jatuh 3,6%, penurunan terbesar di kawasan Asia Pacific, di tengah kekhawatiran bank sentral bertindak terlalu lambat dalam menghentikan penguatan yen. Bahkan keputusan memperluan fasilitas pinjaman BOJ dinilai terlalu sedikit dan terlalu lambat oleh mantan anggota dewan kebijakan bank sentral Nobuyuki Nakahara.
Indeks S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 1,1%. Indeks komposit Shanghai di China turun 0,5%, sementara indeks Hang Seng di Hong Kong jatuh 1% dan indeks Kospi di Korsel melemah 1%.
Sedangkan indeks Sensex di India jatuh 0,3%, dipicu kekhawatiran bahwa penyesuaian ekspansi ekonomi akan memicu bank sentral menaikkan biaya kredit. Sementara pertumbuhan ekonomi naik 8,8% dalam tiga bulan sejak Juni, ketimbang periode yang sama tahun lalu, laju tercepat dalam 2,5 tahun terakhir. Demikian menurut pusat stastistik negara tersebut.
Saham Sony Corp, produsen elektronik yang 70% penjualannya diperoleh di luar Jepang, turun 3,7%. Canon Inc, produsen kamera yang memperoleh lebih dari 80% pendapatannya di luar negeri, turun 4,4% dan Toyota Motor Corp., produsen otomotif terbesar dunia jatuh 2,4%.
Yen telah menguat ke 84,06 per dolar AS, dari sebelumnya di 85,25. Sementara terhadap euro, mata uang Jepang ini juga menguat ke 106.18 dari sebelumnya 108.57. Penguatan yen ini telah mengancam pemulihan ekonomi yang dipimpin ekspor, bahkan setelah Bank of Japan memperluas program pinjamannya. Pasalnya, ekspor Jepang menjadi lebih mahal dan pendapatan dari luar negri berkurang.
Prasad Patkar, yang membantu mengelola US$ 1,6 triliun pada Platypus Asset Management di Sydney mengatakan, kondisi saat ini sangat tidak jelas. "Ketika sesuatu hal menjadi tidak jelas dari segi ekonomi, hal ini berimplikasi pada profitabilitas perusahaan, dimana tak seorang pun ingin terjebak hingga keadaan menjadi lebih jelas," paparnya.
Samsung Electronics Co., produsen semikonduktor terbesar Asia, turun 2,6% di Seoul. Billabong International Ltd., produsen pakaian selancar yang menjadikan AS sebagai pasar terbesarnya, turun 1,8% di Sydney.
Fumiyuki Nakanishi, strategis analis di SMBC Friend Securities Co. yang berbasis di Tokyo mengatakan, pasar khawatir, melambatnya pertumbuhan personal spending AS akan berimbas negatif pada ekonomi dunia, karena ekspor Jepang, China dan negara asia lainnya tergantung pada AS,” Daya beli masyarakat AS mendukung ekonomi global,” ujarnya.
Di Taiwan, manufaktur elektronik utama dunia Hon Hai turun 6,6%. Sedangkan produsen iPhone dan Ipad Apple membukukan laba kuartal dua 2010 di bawah estimasi ekonom. Hal ini terjadi setelah menaikkan upah, menyusul aksi bunuh diri para pekerja di China. (inilah/IS)