JAKARTA, RIMANEWS-Perayaan 60 tahun dr Hariman Siregar berlangsung sahaja dan penuh sesak. Spirit tokoh Malari 1974 itu tetap menyala, beresonansi dengan peringatan Hari Buruh Internasional Sabtu 1 Mei.
Dalam acara perayaan sederhana itu hadir dr Gurmilang Kartasasmita, Dr Adnan Buyung Nasution, Rizal Ramli, Rahman Tolleng, Mulya Lubis, Bursah Zarnubi, Egy Sudjana, M.Jumhur Hidayat, Andi Arief, para alumni UI dan para aktivis mahasiswa serta LSM maupun masyarakat biasa.
‘’Kita ikuti apa kata Bang Hariman. Dialah teladan kita sekaligus kakak kita, senior kita, sahabat kita, yang selalu berpihak kepada keadilan dan kemanusiaan. Bang Hariman adalah legenda gerakan mahasiswa,’’ kata Bursah Zarnubi, mantan anggota DPR-RI dan Ketua Umum DPP Partai Bintang Reformasi.
‘’Hariman rela berkorban dalam memperjuangkan hak asasi, demokrasi dan keadilan sosial,’’ imbuh AM Fatwa, mantan wakil ketua MPR dari PAN.
Dengan rendah hati dan ramah, Hariman Siregar dalam menyambut para tamunya menyatakan, kita tidak boleh menyerah. Hidup adalah pergulatan dan perjuangan, meski usia terus mengejar kita. ‘’Apa yang kita raih harus kita syukuri. Saya mengajak teman-teman sekalian untuk
merayakan di Klinik Baruna, sengaja saya tidak didampingi istri dan anak-anak, karena semalam setelah pukul 24.00, keluarga besar saya sudah merayakan di rumah dan kini giliran saya bersama rekan-rekan semuanya,’’ kata Hariman disambut tepuk sorak para hadirin.
Masih ingat Peristiwa 15 Januari 1974 atau Malari (Malapetaka Lima Belas Januari)? Berbicara peristiwa Malari, kita melihat kekerasan di Indonesia hanya bisa dirasakan, tidak untuk diungkap apalagi dituntaskan. Berita di media massa (cetak dan elektronik) hanya mengungkap fakta yang dapat dilihat dengan mata telanjang.
Malari adalah peristiwa demonstrasi mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15 Januari 1974 di Jakarta. Di hari kelabu itu, pusat pertokoan yang dikenal dengan Proyek Senen di Jakarta dibakar orang. Dalam peristiwa yang bisa dikatakan "hari anti Jepang" itu, lebih-kurang 807 buah mobil dan 200 sepeda motor dari berbagai merk Jepang dirusak/dibakar, 144 bangunan dirusak, 11 orang mati, 100 orang luka-luka, 17 luka parah, 775 orang ditangkap. Sebanyak 160 kilogram emas dari berbagai toko di daerah pecinan, mulai Senen sampai Glodok di Jakarta Barat amblas digondol orang.
Peristiwa itu terjadi selama kunjungan tiga hari PM Jepang Kakuei Tanaka di Jakarta (14-17 Januari 1974). Kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) Jan P Pronk dijadikan momentum untuk demonstrasi anti modal asing.
Klimaksnya, kedatangan PM Jepang, Januari 1974, disertai demonstrasi dan kerusuhan. Mahasiswa berencana memboikot kedatangannya di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Karena dijaga ketat, rombongan mahasiswa tidak berhasil menerobos masuk pangkalan udara.
Tanggal 17 Januari 1974 pukul 08.00, PM Jepang itu berangkat dari Istana tidak dengan mobil, tetapi diantar Presiden Soeharto dengan helikopter dari Bina Graha ke pangkalan udara. Itu menggambarkan, situasi Kota Jakarta masih mencekam.
Rangkaian kekerasan itu tak terungkap, kecuali bahwa para tokoh gerakan mahasiswa dan civil society seperti Hariman SIregar, Adnan Buyung Nasution, Dorodjatun Kuntjorojakti, Sjahrir, Fahmi Idris,Rahman Tolleng dan seterusnya, dijebloskan Orde Baru Soeharto ke dalam penjara.
Kini di usia 60 tahun, Hariman Siregar tetap bersemangat dan bersenda gurau, sementara mahasiswa dan angkatan muda terus datang dan bertanya kepadanya serta menimba pengalamannya mengarungi arus gerakan dn menjalani hidup. Selamat Ultah, Bang. (Ach**)