EKSTASE 342
ketika kembara pecah bagai dentuman bigbang
aku gemetar berdiri di hadapan sinarmu
memancar tepat di kornea dan menyilaukan pandanganku
malaikat pun menyerbu ruang batinku
dan seperti kelelawar yang tak sanggup menatap cahaya
ketika pengembara menyadari
telah dikeluarkan dari alam semesta
dan dicemplungkan ke gua gelap-gulita
aku meraba-raba dimana cintaku dulu
yang membuatku ekstase selalu
kemana kekasihku?
o cintaku
kau jauh di ‘arsy dan aku di pinggir semesta
yang paling rendah
aku hanya mendengar nama
tapi tak tahu ranahmu
aku tahu dan ingat siapa dirimu
tapi tak mengerti wajahmu
apakah kau punya ranah
dan berwajah aduhai cintaku??
Tangerang, 27-09-2010
EKSTASE 343
di atas pokok-pokok bambu
siul burung bulbul menderu
tangis rindu yang tak pernah kelu dan selalu ingin
dan ingin selalu ketemu
kukira bulan takkan beku di atas perahu
burung-burung menjeritkan kelu
di ujung pagi yang bisu
seperti wajahmu lamat-lamat kutemu
tapi sirna ditelan debu
dan kuulangi kembali pencarian itu
kau bagai belut dalam bubu
menyelip dalam lobang sekecil anyaman bambu
licin dan lepas
tangkapanku jadi ngilu
terasa ada di dalam kalbu
tapi kau jauh dari dadaku
o tinggal rindu yang kutunggu
sebuah pertemuan sunyi
tapi abadi!
Tangerang, 27-09-2010
EKSTASE 344
bilah-bilah waktu
menghempas pangkal akanan di ujung senja
anak-anak terkesima di pasir pantai yang luka
secercah silhuet pulau yang kan tenggelam
dijilat air yang perlahan menerkam
telah beribu waktu tertelan dalam rekam jejakku
setiap kupanggili namamu
selalu kau membisu
hanya ada rasa ceria di dada
tatkala kau cium lembut
wajahku merona cahaya
dalam mi’raj ruhaniku
aku bersujud di hadiratmu
Tangerang, 27 09 – 2010
Juftazani: Editor, Penyair dan Aktifis Keagamaan, Tinggal di Jakarta